Jumat, 13 Maret 2026

Harga Rokok Bakal Naik Rp 50 Ribu perbungkus, Pengamat : Petani Tembakau bakal Menjerit

Administrator - Selasa, 23 Agustus 2016 04:01 WIB
Harga Rokok Bakal Naik Rp 50 Ribu perbungkus, Pengamat : Petani Tembakau bakal Menjerit

MEDAN | SUMUT24 Bakal naiknya harga rokok di Indonesia Rp 50 ribu per bungkus, dipastikan berdampak negatif bagi masyarakat bangsa dan negara Indonesia. Apalagi bagi para pecandu rokok, Ucap Pengamat Sosial dan Politik Shohibul Anshor Siregar kepada SUMUT24, Senin (22/8). Menurutnya, Saya pernah membaca pokok-pokok pikiran dari perencana ekonomi dan perbaikan budaya bahwa pola hidup orang miskin itu boros. Sudah miskin boros lagi. salah satu arena pemborosannya ialah dengan merokok. Ada dua kemungkinan yang sama kuatnya di sini. Kemungkinan pertama, dengan menaikkan harga rokok diasumsikan (oleh pemerintah) orang miskin akan dengan sendirinya berhenti toal merokok, karena sudah di luar jangkauannya. Juga diasumsikan keluarga miskin itu akan bertambah sehat, karena tak merokok. Jika ini yang terjadi, maka akan ada jeritan petani tembakau di Indonesia khususnya yang sekitar Jawa Tengah itu. Mereka cukup banyak populasinya. Tetapi jangan lupa. Ada kemungkinan kedua. Pemerintah pastilah tahu bahwa sepaket kecil shabu saja malah lebih mahal harganya dari rokok sebungkus dan konsumennya sangat massif di Indonesia. Jadi, bayangkanlah keuntungan pemerintah dari kenaikan ini. Apalagi ada dilema di sini. Jika berhasil penurunan yang tajam dalam angka konsumen rokok, maka sudah barang tentu petani tembakau khususnya di Jawa Tengah dan daerah lainnya akan terpuruk. Apa keuntungannya bagi pemerintah?,Ucapnya. Masalah rokok ini tak ada solusinya. Kita persilakan pemerintah melakukan tugasnya dengan baik dengan menaikkan harga rokok yang katanya sudah disetujui DPR RI. Naikkan. Saya mungkin akan mengurangi konsumsi rokok, Ucapnya. Lebihlanjut Shohibul, Kalau kita ketemu, saya tak sodorkan lagi rokok, saya ambil satu saya isap dan bungkusannya saya masukkan lagi ke kantong, tak diletak di meja, Karena rokok sudah mahal. Ditambahkannya, saya belum berniat untuk berhenti merokok, walaupun nanti harganya selangit. dulu saya pernah berhenti 2 bulan. main lagi. setelah itu 2 tahun. main lagi. pernah 4 tahun. main lagi. nanti berhenti total secara berangsur. tak boleh mendadak. bahaya juga kalau mendadak berhenti, Ucapnya.(W03)

Baca Juga:
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
beritaTerkait
Kejari Asahan Bagi Takjil ke Masyarakat dan Buka Puasa Bersama Insan Pers Pererat Silaturahmi
Buka Puasa Bersama KAHMI Sumut, Rico Waas Tegaskan Keterbukaan untuk Pembangunan Medan
Bupati Kabupaten Solok Kunjungi Mushola Al Furqon Saniang Baka
Bupati Solok Serahkan Bantuan Sembako dan Bedah Rumah dari Baznas kepada Warga Saniang Baka
Waketum Kadin: Kapolri Peduli Aktivis dan Bangun Sinergi dengan Mahasiswa
Kadin Gelar FGD Ship to Ship Transfer, Dorong Regulasi Bongkar Muat yang Dukung Iklim Investasi
komentar
beritaTerbaru