Asahan Waspada Gizi Buruk

KISARAN | SUMUT24

Kasus gizi buruk di Asahan dinilai sangat mengkhawatirkan dan patut di waspadai. Untuk itu kepada para ibu, memberikan ASI kepada balita merupakan salah satu solusi efektif agar balita terhindar dari gizi buruk. Mengingat untuk Sumatera Utara, kabupaten Asahan tercatat peringkat satu yang paling banyak ditemukan penderita gizi buruk, sementara diperingkat keduanya diikuti kota Medan.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan setempat, selama di tahun 2015 kasus gizi buruk di Asahan tercatat sebanyak 117 kasus dan kasus tersebut hampir menyebar sama banyaknya di seluruh kecamatan yang ada. Angka di tahun ini tentunya meningkat dari tahun sebelumnya yakni sebanyak 98 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Asahan, dr Hidayat, Senin (1/2) melalui Kasi Gizi, Siti Rosyanti diruang kerjanya mengatakan, meningkatnya kasus gizi buruk di Asahan tersebut biasanya dimulai sejak anak-anak masih dalam kandungan dan sedihnya kerusakan gizi tersebut tidak dapat diperbaiki ketika menjelang dewasa.

“Biasanya pemahaman si ibu dari anak tersebut yang kurang pertama pada saat masa kehamilan tidak mengkonsumsi nutrisi yang dibutuhkan oleh bayi, setelah itu salah satu penyebabnya juga bayi dibawah usia  enam bulan kurang mendapatkan ASI itu bisa jadi penyebab gizi buruk,”kata Siti Rosyanti.

Dalam dunia kedokteran gizi buruk lebih dikenal dengan nama Kurang Energi Protein (KEP) tingkat berat. KEP, sesuai dengan namanya, memiliki pengertian keadaan kekurangan energi dan protein akibat kurang mengonsumsi makanan yang bergizi dan atau menderita sakit dalam waktu lama. Faktor ekonomi orang tua anak juga bisa menyebabkan anak tersebut mengalami gizi buruk.

Salah seorang dokter anak di Kisaran, dr Noval menjelaskan banyak faktor yang menyebabkan Balita terkena gizi buruk, di antaranya kondisi ekonomi keluarga yang kurang mampu untuk memenuhi gizi sang bayi. Sehingga kurang mengkonsumsi makanan yang bergizi. Namun, tidak jarang juga disebabkan kurang pengetahuan orangtuanya terhadap gizi.

“Tidak jarang juga Balita terkena gizi buruk karena kondisi ekonomi keluarga lumayan. Tapi bisa juga kurang memperhatikan makanan yang dikonsumsi anaknya, biasa diserahkan saja kepada asisten rumah tangga. Sementara orangtua tidak memperhatikan makanan yang dikonsumsi anaknya, ternyata tidak seimbang,” kata Noval  kepada wartawan menanggapi masih tingginya angka gizi buruk di Asahan.

Selain itu, bisa disebabkan lingkungan yang kumuh sehingga anak mudah terkena infeksi. Akibat infeksi tersebut membuat anak enggan mengonsumsi makanan, khususnya makanan yang bergizi.

“Lingkungan yang kumuh bisa menyebabkan berbagai penyakit, karena rawan terkena infeksi. Makanya sangat penting menjaga lingkungan tetap bersih,” ujarnya.

Dikatakannya, tidak jarang penderita gizi buruk semakin parah lantaran diikuti penyakit penyerta, atau penyakit penyerta diikuti oleh gizi buruk.

“Biasanya penderita gizi buruk disertai dengan penyakit lain atau sebaliknya. Karena jikalau hanya penyakit gizi buruk tunggal bisa diselesaikan di Puskesmas saja,” katanya. (teci)