Antara Polisi, Ketua dan Corona

306
Ini kali kesekian, diberi kesempatan bertatap muka dengan anak kampung yang kini jenderal berbintang dua itu. Obrolan mengalir gurih dan penuh joke. Tiga topik dikupas, mulai dari polisi, ketua dan corona.
Intonasi suaranya kadang menggelegar, kadang landai. Begitulah style seorang Irjen Pol Martuani Sormin Siregar, Kepala Polisi Daerah Sumatera Utara saat ini.
Rabu (31/03/2020) kemarin, sang ayah yang dalam waktu dekat akan melepas masa lajang anaknya, duduk sambil menghisap rokok favoritnya. Dia sendirian saja di ruangan tunggu depan ruang kerjanya.
”Ayo silahkan duduk, tapi harus berjarak,”bukanya, dengan khas suara lantang. Dia bilang, itu tradisi semasa tanggap darurat corona saat ini. Istilah ilmiahnya, psycal distancing. Tanpa basa basi, Martuani langsung ngegas bahas soal corona virus (Covid 19).
Mantan Kapolda Papua itu menceritakan upaya Polri bersama TNI dan pemerintah, memutus mata rantai pensebaran virus Covid 19. ”Virusnya kayak main-main bos, tapi matinya beneran,” katanya.
Pagi tadi, sambung Sormin, penyemprotan disinfektan sscara serentak dilakukan. Ini sebagai upaya menekan masifnya pensebaran virus corona.
Dia juga  berharap masyarakat dengan kesadaran sendiri ikut bersama melawan virus corona. ”Caranya ya dengan berdiam diri di rumah. Sayangi diri sendiri dan keluarga serta orang lain di sekitar agar tidak terpapar,”ujar putra kelahiran Tapanuli Utara itu.
Selain itu, Sormin mengaku sudah mengantongi formula jitu. Bahkan, idenya itu sudah disampaikan ke Gubsu Edy Rahmayadi.
 “Sudah saya sampaikan ke Gubsu agar RS Adam Malik dijadikan pusat penyembuhan dan penanganan orang terpapar corona. Pasien-pasien lain dipindahkan ke rumah sakit lain. Sehingga, dengan mudah memutus rantai pensebaran virus. Kita harus berani ambil keputusan cepat bang, saya bilang gitu sama Gubsu. Abang kan tentara, harus berani,” sebut Sormin, mengompori Edy Rahmayadi.
Menurutnya, semua lapisan harus bahu membahu melawan corona. Polisi, kata Sormin, akan terus berusaha mengedepankan keselamatan masyarakat. “Kami akan selalu ada buat rakyat, karena itu  merupakan tugas pokok dan tanggung jawab polisi,” sambung Sormin.
Berkaitan dengan kerja mulia polisi itu, Sormin pun beralih bincang dari topik awal, corona. Dia membuka kenangan lawas sebelum diamanahi seragam coklat.
Dulu, sebelum lulus akademi kepolisian, Sormin muda sempat mengecam pendidikan di salah satu SMA negeri favorit di Pati, Jawa Tengah.
“Nama kepala sekolahnya, Sri Kresna (maaf; penulis lupa nama lengkapnya). Kalau orang Batak bakal keseleo lidahnya. Karena disini kan namanya yang ada, Poltak, Ucok dan lain-lainlah, beda dengan nama orang Jawa, panjang-panjang,”kata Sormin sambil ngakak. Sebagai catatan, Kapoldasu merupakan dewan penasehat Pujakesuma Sumut.
Nilai pelajaran Sormin semasa sekolah sungguh mencengangkan. “Paling tinggi nilai 6, itu pun pelajaran agama. Padahal, muridnya cuma saya dan guru agamanya pun tak ada,” ucapnya. Lagi-lagi sambil membuka mulut dengan lebar.
Bagaimana nilai pelajaran lain? Tanpa sungkan dia menyebut,”Nilai 5, malah ada 4 nya bos,”sambil ngakak. Namanya pun langsung diusulkan pecat di rapat dewan guru. Nah, Kepsek Kresna yang menjadi juru penyelamat.
Sormin diberi kesempatan satu semester lagi. Dengan segala upaya, Kresna mengarahkan anak kampung itu gigih belajar. Hasilnya, Sormin mendapat nilai cemerlang.
Diakuinya, menginjakkan kaki di  Jawa Tengah, membuatnya shock secara kultural. “Ya jelas shock, karena disitu saya baru bisa makan tempe, tahu dan apa itu namanya makanan khas Jawa alah (sambil jeda berusaha mengingat), oh iya Gudeg. Di Tarutung, mana ada itu, tahulah adinda kan?”katanya, lagi-lagi umbar tawa. “Kalau disini yang ada ya kayak lagu, waktu aku pigi ke siborong-borong (sambil nyanyi).
Mendekati injury time ngobrol santai sore itu, Sormin akhirnya menyinggung soal jabatan ketua. “Sudah fahamnya bos itu, apa yang dimaksud dengan ketua,” ucapnya.
Topik satu ini dibuka karena berkaitan dengan hobi bersepedanya. Pengalaman bersepeda selama di Medan, bikin Sormin geleng-geleng.
Menurutnya, jalan yang dilalui tidak memihak kepada para pesepeda. “Banyak lubangnya, parah, tak cocok untuk kita yang hobi bersepeda. Rupanya pas ditanya, jalan disini punya ketua. Ketua inilah, itulah. Pantaslah,”ucapnya, sambil tertawa kencang.(ril)
Loading...