Ambisi Menko Rizal RI Jadi Produsen Produk Tuna Terbesar di Dunia

Nelayan merapikan ikan tuna sirip kuning dari kapal ke mobil di Pelabuhan Nelayan Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, Kamis (8/1), sebelum dikirim ke pabrik pengolahan di Medan. Dari Medan, hasil laut Aceh dijual ke luar negeri, antara lain ke Thailand, Korea Selatan, dan Jepang. Kompas/Adrian Fajriansyah (DRI) 08-01-2015 *** Local Caption *** Nelayan merapikan ikan tuna sirip kuning dari kapal ke mobil di Pelabuhan Nelayan Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, Kamis (8/1). Sekali melaut ketika cuaca baik, nelayan tradisional bisa mendapatkan ikan tuna sirip kuning rata-rata mencapai 5-10 ton. Nantinya, hasil laut Aceh itu dikirim ke Medan, Sumatera Utara. Dari Medan, hasil laut Aceh dijual ke luar negeri, antara lain ke Thailand, Korea Selatan, dan Jepang. Kondisi itu karena Aceh belum memiliki gudang penampungan ikan dan pelabuhan yang memadai untuk menjual langsung hasil lautnya ke luar negeri. Sejumlah nelayan Aceh mengeluhkan kondisi itu karena mereka menilai jika bisa diekspor langsung dari Aceh, penghasilan mereka bisa lebih baik. Kompas/Adrian Fajriansyah (DRI) 08-01-2015

JAKARTA | SUMUT24
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli mengimbau agar pengelolaan ikan tuna di Indonesia bisa ditingkatkan. Tujuannya, agar komoditas utama ini bisa menarik pasar internasional sehingga Indonesia bisa menjadi negara penghasil produk tuna terbesar di dunia.

Dia menambahkan, Indonesia sangat berpeluang menjadi eksportir utama komoditas tuna di dunia yang merupakan salah satu efek positif dari pemberantasan Illegal, Unreported and Unregulated Fishing (IUU Fishing).

“Stok tuna yang ada saat ini diperkirakan telah ditangkap pada kondisi masih belum siap ditangkap (biologically unsustainable levels). Sedangkan stok tuna sisanya yang berjumlah 66,7 persen pun telah ditangkap pada kondisi maksimum (fully fished),” kata Menko Rizal dalam keterangan resminya, Minggu (22/5).

Dengan begitu, perlu adanya sinergi para pemangku kepentingan komoditas tuna, untuk aktivitas bisnis maupun sebagai sumber asupan protein hewani bagi masyarakat dunia. Yakni dengan memperhatikan aspek keberlanjutan (sustainability), tracebility, dan akuntabilitas (accountability).

“Sehingga dunia dapat melihat komitmen Indonesia dalam menjaga habitat tuna,” imbuhnya.

Menurutnya, penerapan traceability juga penting di mana sertifikat hasil tangkapan ikan menjadi prasyarat dari negara-negara yang menjadi pasar produk perikanan Indonesia seperti Amerika Serikat, Uni Eropa dan lainnya. Dengan begitu, maka daya jual serta penggunaan komoditas tuna Indonesia di pasar dunia bisa ditingkatkan. (mer)