Belum Terapkan Tilang, Polres Paluta Pilih Cara Humanis dalam Operasi Patuh Toba 2026
Belum Terapkan Tilang, Polres Paluta Pilih Cara Humanis dalam Operasi Patuh Toba 2026
News
Baca Juga:
Jakarta — Di tengah derasnya arus globalisasi yang terus menggerus nilai-nilai tradisi dan identitas budaya, lahir sebuah gerakan besar yang membawa harapan bagi keberlangsungan adat Batak lintas generasi dan lintas negara pada Minggu dan Senin 14 dan 15 Juni 2026, di Jalan Jambu, Mess Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Jakarta Pusat secara resmi dideklarasikan Perkumpulan Raja Parhata Sedunia (PRPD) sebagai wadah pemersatu para Raja Parhata, tokoh adat, akademisi, budayawan, dan masyarakat Batak di seluruh dunia.
Kehadiran organisasi ini menjadi momentum penting bagi seluruh masyarakat Batak di berbagai belahan dunia untuk memperkuat eksistensi adat istiadat yang diwariskan para leluhur agar tetap hidup, berkembang, dan relevan di tengah dinamika zaman modern.
PRPD lahir dari gagasan dan komitmen enam tokoh yang memiliki perhatian besar terhadap keberlangsungan adat Batak, yaitu Ediwardo Ritonga, S.Sos., Yonge Sihombing, S.E., M.B.A., Drs. Binton Simonangkir, M.M., Dra. Murniati Lumban Tobing, M.Si., Pardomuan Ritonga, SIP, M.AP dan Mukhlis Ritonga, S.H. Kelima pendiri tersebut memiliki latar belakang pengalaman yang beragam, namun dipersatukan oleh semangat yang sama untuk menjaga marwah adat Batak sebagai identitas budaya yang harus diwariskan kepada generasi mendatang.
Salah satu tokoh yang menjadi perhatian dalam pembentukan organisasi ini adalah Ediwardo Ritonga, S.Sos., yang dikenal sebagai Raja Parhata dalam berbagai kegiatan adat Batak. Beliau juga pernah menjadi salah satu Raja Parhata pada prosesi pernikahan Kahiyang Ayu, putri Presiden ke-7 Republik Indonesia, Ir. H. Joko Widodo, dengan Muhammad Bobby Afif Nasution, S.E., M.M., pada tahun 2017 di Kota Medan. Dalam prosesi adat tersebut, Ediwardo Ritonga berperan mewakili unsur Anak Boru atau Tulang, sebuah posisi terhormat yang menunjukkan kapasitas dan penguasaannya terhadap tata cara adat Batak.
Pembentukan PRPD didasari oleh keprihatinan terhadap semakin berkurangnya pemahaman generasi muda mengenai filosofi, tata krama, dan nilai-nilai luhur adat Batak. Di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang sangat cepat, banyak tradisi yang mulai ditinggalkan atau dipahami secara parsial. Karena itu, PRPD hadir sebagai wadah yang akan melakukan edukasi, kaderisasi, dokumentasi, serta pengembangan kapasitas para Raja Parhata agar tetap mampu menjadi penjaga nilai-nilai budaya yang autentik.
Sebagai organisasi yang bersifat inklusif, PRPD dibentuk untuk merangkul seluruh marga dan sub-etnis Batak, baik Batak Toba, Mandailing, Angkola, Simalungun, Karo, Pakpak maupun kelompok Batak lainnya yang tersebar di Indonesia dan berbagai negara. PRPD menegaskan bahwa organisasi ini berdiri di atas semangat persaudaraan, persatuan, dan penghormatan terhadap keberagaman yang ada di tengah masyarakat Batak. Keanggotaan dan partisipasi terbuka bagi seluruh masyarakat Batak tanpa membedakan agama, latar belakang sosial, profesi, maupun afiliasi organisasi.
Lebih dari sekadar organisasi adat, PRPD diharapkan menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan adat Batak yang mampu menjawab tantangan zaman. Organisasi ini akan mendorong lahirnya berbagai program strategis, seperti pelatihan Raja Parhata muda, seminar budaya, penelitian adat, digitalisasi naskah dan dokumen adat, hingga penguatan jaringan komunitas Batak internasional. Dengan demikian, adat Batak tidak hanya dipertahankan, tetapi juga dikembangkan secara modern tanpa kehilangan nilai-nilai aslinya.
Dalam falsafah Batak dikenal nilai Dalihan Na Tolu, yang mengajarkan keseimbangan hubungan sosial melalui prinsip Manat Mardongan tubuh/Markahanggi, Elek Marboru/Maranak Boru, Somba Marhula-hula/Hormat Mamora. Nilai inilah yang menjadi salah satu fondasi utama PRPD dalam menjalankan visi organisasinya. Para pendiri meyakini bahwa kekuatan adat Batak tidak hanya terletak pada pelaksanaan seremoni, tetapi juga pada nilai-nilai kebersamaan, penghormatan, gotong royong, musyawarah, dan rasa tanggung jawab yang terkandung di dalamnya.
Dengan berdirinya Perkumpulan Raja Parhata Sedunia (PRPD), diharapkan lahir sebuah gerakan budaya yang mampu menyatukan seluruh masyarakat Batak di dunia dalam satu semangat yang sama, yaitu menjaga, melestarikan, dan mengembangkan warisan leluhur untuk generasi masa depan. PRPD bukan hanya milik para Raja Parhata, melainkan milik seluruh masyarakat Batak yang memiliki kepedulian terhadap keberlangsungan adat, budaya, dan kearifan lokal sebagai identitas yang membanggakan di tingkat nasional maupun internasional.rel
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Belum Terapkan Tilang, Polres Paluta Pilih Cara Humanis dalam Operasi Patuh Toba 2026
News
Satresnarkoba Polres Padangsidimpuan Tangkap Dua Perempuan dalam Kasus Sabu, Pemasok Berinisial IPIN Diburu
News
Bupati Solok Buka Pelatihan Akses Keuangan bagi Pelaku IKM, UMKM dan Usaha Disabilitas Kabupaten Solok
News
Rapat Paripurna DPRD Kabupaten SolokDalam Rangka Penyampaian Laporan Hasil Pembahasan Ranperda APBD Tahun Anggaran 2027.
News
Walikota Solok Terima Penghargaan Parasamya Karya Kencana Solok
News
Wakil Ketua DPRD Simalungun Bonauli Rajagukguk sebagai Kader Gerindra Usut Tuntas Penyadapan Presiden Prabowo
News
SAMARINDA, Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Serikat Perusahaan Pers (SPS) 2026 menghasilkan enam rekomendasi strategis yang mencakup peng
News
JAKARTA Natalia Tjahja, pendiri Maria Monique Last Wish Foundation dan Kreator 100 CTFP, kembali membawa terobosan kemanusiaan yang meny
Tips
sumut24.co ASAHAN, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Rakyat Indonesia (YLBH RI) Nusantara telah secara resmi mengirimkan surat somasi dan tegur
News
sumut24.co MEDAN, Kabar membanggakan datang dari Kabupaten Asahan! Tim Penggerak Posyandu Kabupaten Asahan berhasil meraih peringkat Harapa
kota