Sabtu, 28 Februari 2026

Narsum Dialog Publik, Dr Asren Nasution, MA: Rencana Kontinjensi Jadi Kunci Strategis Pengurangan Risiko Bencana

Administrator - Sabtu, 28 Februari 2026 08:20 WIB
Narsum Dialog Publik, Dr Asren Nasution, MA: Rencana Kontinjensi Jadi Kunci Strategis Pengurangan Risiko Bencana
Istimewa
Baca Juga:

MEDAN – Akademisi dan pemerhati kebencanaan, Dr Asren Nasution, MA, menegaskan bahwa langkah strategis yang harus dilakukan setiap daerah adalah menyusun rencana kontinjensi yang komprehensif dan terukur, dengan koordinasi langsung dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Sumatera Utara sebagai OPD teknis penanganan bencana.
Menurut Asren, rencana kontinjensi menjadi fondasi utama dalam membangun sistem penanggulangan bencana yang sistematis, mulai dari tahap pra bencana, saat tanggap darurat, hingga pasca bencana. Demikian dikatakan Dr Asren Nasution dalam paparannya sebagai narasumber dialog publik dengan tema "Refleksi Bencana
Sumatera 2025: Menyinkronkan Riset, Kebijakan, dan Praktik Lapangan untuk
Pemulihan Berkelanjutan dan Pencegahan dengan Peta Ekosistem". Yang diselenggarakan Ikatan Mahasiswa
Program Studi Ilmu Administrasi Publik, bertempat di Aula Fisip USU, Jumat (27/2).

"Dalam rencana kontinjensi tertuang secara rinci skenario yang dilakukan masing-masing kabupaten/kota. Setiap daerah menyesuaikan dengan potensi bencana yang dimilikinya. Di situ terlihat jelas siapa bekerja apa, siapa bertindak apa, dan siapa saja yang terlibat. Semua menjadi satu kesatuan komando," tegasnya.
Ia menjelaskan, melalui dokumen kontinjensi akan tergambar nyata bentuk kolaborasi lintas sektoral yang aktif, dinamis, dan terukur. Pemerintah daerah, aparat keamanan, relawan, dunia usaha, akademisi hingga masyarakat sipil terintegrasi dalam satu sistem kerja yang jelas dan terarah.
"Dengan strategi ini, hampir bisa kita pastikan pengurangan risiko bencana dapat diwujudkan," ujarnya optimistis.
Harmonisasi Ilahiyah dan Insaniyah
Lebih jauh, Asren menekankan bahwa bencana adalah kodrat alamiah, sebuah keniscayaan atau sunnatullah yang tidak bisa ditolak. Namun manusia diberi kekuatan ilmu, teknologi, serta potensi sumber daya untuk meminimalkan dampaknya.
"Di sini bertemu dua kekuatan: kekuatan ilahiyah sebagai penggerak alam semesta dan kekuatan insaniyah sebagai khalifah yang bertugas memakmurkan dan merawat alam. Harmonisasi keduanya membutuhkan kecerdasan nalar," paparnya.
Fenomena alam, menurutnya, tidak semestinya dipandang sebagai ancaman semata, melainkan sebagai sinyal positif untuk memperbaiki tata kelola lingkungan, memperkuat mitigasi, dan meningkatkan kesejahteraan.
Dialog Lintas Alam dan Kesadaran Ekologis
Asren juga mengingatkan bahwa bumi tidak hanya dihuni manusia. Flora, fauna, dan berbagai makhluk lain memiliki hak hidup yang sama dalam ekosistem yang aman dan sejahtera.
"Dialog lintas penghuni alam semesta adalah kecerdasan tingkat tinggi dan efektif dalam penanggulangan bencana. Ketika korban jiwa berjatuhan, harta benda hilang, dan sumber kehidupan terganggu, itu alarm keras bahwa ada komunikasi yang tersumbat di antara sesama penghuni semesta," katanya.
Ia menekankan, dalam upaya mengejar kemakmuran dan pembangunan, manusia tidak boleh mengabaikan keseimbangan ekologis. Ambisi pembangunan tanpa kendali justru berpotensi memicu bencana sebagai konsekuensi dari relasi yang tidak harmonis dengan alam.
"Membaca dan merenungkan tanda-tanda alam serta menghidupkan kearifan lokal merupakan bagian penting dari mitigasi bencana dan strategi awal pengurangan risiko," tambahnya.
Peran Strategis Dunia Kampus
Asren menegaskan bahwa penanganan bencana membutuhkan banyak ilmu, sumber daya, dan pendanaan yang harus dikolaborasikan menjadi kekuatan besar. Dalam konteks itu, perguruan tinggi memegang peran strategis.
"Akademisi memiliki panggilan moral dan nurani keilmuan untuk terus menggali fenomena yang terjadi dan merumuskannya dalam teori-teori yang aplikatif. Dunia kampus harus menjadi garda terdepan dalam memberikan kontribusi bagi keamanan dan keselamatan umat manusia dari dampak bencana," pungkasnya.
Dengan sinergi antara pemerintah daerah, lembaga teknis, akademisi, dan masyarakat, Asren meyakini sistem pengurangan risiko bencana dapat dibangun secara lebih matang, terstruktur, dan berkelanjutan demi keselamatan generasi mendatang.red2


Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Ismail Nasution
Sumber
:
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Akses Pelabuhan dan Puskesmas Jadi Fokus, Mahyaruddin Salim Sampaikan Usulan Strategis ke Pemprov Sumut
From Theory to Action, Ini Pesan Rektor USU Untuk 1.843 Wisudawan Yang Dilantik
Awali 2026 Pertamina EP Pangkalan Susu Field Lakukan Pengeboran Sumur Baru
Walikota meninjau Mal Pelayanan Publik di Ramayana Lantai 3
Prof Dr Muryanto Amin Dilantik Kembali Sebagai Rektor USU Periode 2026-2031
Hadiri Pelantikan Rektor USU, Zakiyuddin Harahap Ucapkan Selamat kepada Muryanto
komentar
beritaTerbaru