Tapsel | Sumut24.co
Baca Juga:
Matahari di Lingkungan III Huta Tonga, Kecamatan Angkola Sangkunur, seolah membakar bumi pada Rabu (18/02/2026).
Namun, panas yang menyengat itu tak sanggup memadamkan api semangat yang berkobar di dada Kopda Irwansyah Nasution, sosok prajurit yang menjadi bagian dari Satgas TMMD ke-127 Kodim 0212/TS.
Di tengah hamparan emas hijau milik Bapak Jahroni Hutasuhut, pemandangan mengharukan tercipta.
Tak ada sekat, tak ada jarak. Sang prajurit, dengan tangan yang biasa menggenggam senjata, kini dengan lembut namun bertenaga memetik tongkol-tongkol jagung yang merunduk berat, tanda keberkahan tanah Tapanuli Selatan telah tiba pada puncaknya.
*Statement Dansatgas TMMD ke-127: "Napas TNI adalah Napas Rakyat"*
Komandan Satgas (Dansatgas) TMMD ke-127 yang juga menjabat sebagai Dandim 0212/Tapsel, Letkol Inf Dedi Harnoto, memberikan pernyataan yang menggetarkan jiwa mengenai aksi heroik anggotanya di lapangan.
"TNI hadir di Huta Tonga bukan sekadar untuk membangun jalan atau jembatan fisik yang megah, melainkan untuk membangun jembatan hati yang takkan pernah putus dengan rakyat," tegas Letkol Inf Dedi Harnoto dengan nada penuh wibawa.
Bagi Bapak Jahroni Hutasuhut, kehadiran sosok Kopda Irwansyah di ladangnya bukan sekadar bantuan tenaga, melainkan mukjizat yang turun di tengah keletihannya. Dengan suara bergetar dan mata yang berkaca-kaca, ia mengungkapkan rasa syukurnya yang mendalam.
"Saya tidak pernah membayangkan seorang tentara mau mengotori seragamnya yang gagah itu hanya untuk membantu orang kecil seperti saya memanen jagung di bawah terik yang luar biasa ini. Beliau (Kopda Irwansyah) bekerja lebih keras dari kami yang punya ladang," ungkap Bapak Jahroni sambil mendekap hasil panennya.
"Rasanya beban di pundak saya hilang seketika. Bagi kami, mereka bukan sekadar Satgas TMMD, mereka adalah saudara kandung yang dikirim Tuhan untuk menemani perjuangan kami di tanah ini," tambahnya.
Aksi Kopda Irwansyah Nasution ini menjadi bukti nyata bahwa TMMD ke-127 bukan hanya soal angka-angka pembangunan dalam laporan, melainkan tentang tetesan keringat yang jatuh ke bumi, tentang tawa yang pecah di tengah ladang, dan tentang pengabdian tanpa batas tanpa mengharap pamrih.
Di Huta Tonga, hari ini, jagung-jagung itu tidak hanya dipanen dengan tangan, tapi dipetik dengan hati. Sebuah harmoni indah antara pengabdi negara dan sang perawat bangsa yakni petani.zal
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di
Google News