Kamis, 19 Maret 2026

Dari Tukang Bersih Masjid hingga Eksportir Korea–Malaysia, Perjuangan UMKM Keripik Singkong asal Deli Serdang

Administrator - Sabtu, 31 Januari 2026 20:38 WIB
Dari Tukang Bersih Masjid hingga Eksportir Korea–Malaysia, Perjuangan UMKM Keripik Singkong asal Deli Serdang
Istimewa

DELI SERDANG – Cemilan keripik nyaris tak pernah kehilangan penggemar. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, semua akrab dengan renyahnya keripik kentang, jagung, hingga singkong atau ubi. Di balik kemasan rapi dan label "snack berkualitas", tersimpan kisah panjang perjuangan pelaku UMKM yang merintis usaha dari nol, salah satunya pengusaha keripik singkong asal Deli Serdang, Sumatera Utara.
Adalah Muhdi, seorang Pujakesuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatera), yang datang ke Sumatera Utara pada era 1990-an. Ia mengawali hidup sebagai petugas kebersihan masjid di Kota Medan hingga tahun 2000. Tanpa latar belakang usaha dan pengalaman produksi pangan, ia nekat mencoba peruntungan dengan membuat keripik singkong rumahan pada rentang 2001–2003.
Modal awalnya hanya lima kilogram singkong. Namun usaha itu nyaris kandas. Keripik yang dihasilkan kerap tak seragam, kadang matang, kadang gosong, bahkan menuai keluhan tetangga.
"Mungkin karena latar belakang pendidikan saya sarjana agama, jadi tidak paham teknis. Pertama goreng, kadang putih, kadang merah, kadang gosong. Tetangga sampai protes, katanya kalau mau dijual jangan kayak begitu," kenangnya sambil tersenyum.
Kegagalan tak membuatnya menyerah. Tahun 2007 ia pulang ke kampung halaman di Jawa Tengah. Di sana, Muhdi melihat langsung industri keripik singkong yang telah menggunakan mesin pemotong ubi dan melibatkan banyak tenaga kerja. Pengalaman itu menjadi titik balik. Ia pun membeli mesin pemotong singkong dan membawanya kembali ke Tuntungan, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang, untuk memulai kembali usahanya.
Sejak 2005, usaha keripik singkongnya mulai berkembang. Produksi dikerjakan secara mandiri, mulai dari menggoreng, mengemas hingga memasarkan. Awalnya ia menyasar sekolah-sekolah, sebelum pada 2010 mencoba masuk pasar modern seperti Indomaret dan membuka toko snack sendiri. Namun penetrasi ke ritel modern tak sepenuhnya mulus.
"Kalau Indomaret, sistemnya berat. Pembayaran bisa 14 hari sampai tiga bulan. Kadang barang sudah lama masuk, tapi belum ada profit," ujarnya.
Perjalanan usaha Muhdi justru menemukan jalannya ke pasar internasional. Tahun 2015, keripik singkong produksinya secara tak terduga mulai dikirim ke Korea Selatan. Awalnya hanya satu kilogram per pengiriman, berawal dari seorang kedi golf yang rutin membeli produknya. Keripik tersebut kemudian dikirim ke keluarga kedi itu di Korea.
"Di Korea, keluarganya heran, kok ada snack singkong yang crispy. Padahal orang luar taunya keripik kentang," katanya.
Kebetulan, ayah dari kedi tersebut memiliki supermarket di Korea Selatan. Keripik singkong itu dibagikan ke pelanggan, dan respons pasar ternyata sangat positif. Dari situlah, dengan pendampingan kelompok UMKM Sumut, Muhdi mulai serius menggarap pasar ekspor.
Pengiriman perdana dilakukan lewat Kantor Pos sebanyak 17 kilogram. Namun ongkos kirim menjadi tantangan besar. Harga satu kilogram keripik hanya Rp50 ribu, sementara biaya kirim per kilogram mencapai Rp350 ribu.
"Barangnya murah, ongkirnya mahal. Di situ saya sadar, UMKM ekspor butuh dukungan serius pemerintah," tegasnya.
Sejak 2015, ekspor ke Korea Selatan terus berjalan. Pada 2019, pasar Malaysia menyusul, awalnya melalui perusahaan pihak ketiga. Kini, Muhdi telah memiliki PT sendiri dengan merek Keripik Singkong Lutvi, mengekspor produk secara mandiri tanpa perantara. Di dalam negeri, produknya dipasarkan di supermarket, pasar modern, Indomaret, serta toko miliknya di Tuntungan, Pancur Batu.
Meski telah menembus pasar internasional, tantangan belum usai. Kendala terbesar saat ini adalah ketersediaan bahan baku singkong. Untuk kebutuhan ekspor, dibutuhkan 5–6 ton keripik per hari, yang setara dengan sekitar 120 ton singkong segar. Namun pasokan dari petani belum berkelanjutan.
"Selama ini singkong dari Deli Serdang dan Sergai, itupun belum cukup. Banyak petani lebih memilih tanam singkong untuk tepung tapioka," ungkapnya.
Menurut Muhdi, dibutuhkan sedikitnya 60 hektare lahan tanam singkong agar pasokan stabil. Namun petani enggan menanam karena margin keuntungan yang tipis.
"Harga singkong pernah cuma Rp1.000 per kilo, biaya produksi Rp800. Petani cuma dapat Rp200. Ya wajar mereka malas tanam lagi," katanya.
Ia mengaku pernah mengusulkan kepada pemerintah kabupaten agar mendorong petani menanam singkong secara berkelanjutan dengan jaminan harga dan serapan. Namun di lapangan, konsistensi petani masih menjadi masalah.
"Pemerintah jangan hanya fokus ke jagung. Mungkin ada lahan tidur yang bisa dimanfaatkan untuk singkong. Kalau langsung dari petani, tidak lewat agen, semua diuntungkan," harapnya.
Kendala lain adalah soal pengapalan. Antrian panjang kapal dan kontainer dinilai dapat mengganggu kualitas produk makanan yang diekspor.
Sebagai pelaku UMKM yang telah naik kelas ke level ekspor, Muhdi berharap pemerintah lebih serius memperhatikan dan memfasilitasi promosi produk lokal ke luar negeri.
"Kalau ada pameran di luar negeri, fokuskan satu produk unggulan. Kalau event keripik, tampilkan semua jenis keripik. Jangan dicampur dengan kopi atau tenun. Pemerintah juga harus punya data pengusaha dan kontaknya, supaya mudah koordinasi," pungkasnya.
Kisah Muhdi menjadi cermin bahwa UMKM Indonesia memiliki daya saing global, asalkan mendapat dukungan nyata, mulai dari hulu bahan baku hingga hilir pemasaran ekspor.rel

Baca Juga:
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Administrator
Sumber
:
SHARE:
Tags
beritaTerkait
PKB Sergai Pererat Silaturahmi dengan Insan Pers Melalui Buka Puasa Bersama
Dompet Dhuafa Gelar Pelatihan Sekolah Tukang Ahli bagi Penyintas Bencana di Aceh Tengah
Wujudkan Suka Cita Lebaran, Ribuan Peserta Mudik Gratis PTPN IV PalmCo Resmi Diberangkatkan Serentak
Bukber PKB Sergai, Anggota DPRD Sumut Loso Mena Ajak Kades Perkuat Sinergi Pembangunan Desa
PC GP Ansor Kabupaten Langkat Tegaskan Solid di Bawah Satu Komando Ketua Umum
PC GP Ansor Kabupaten Langkat Tegaskan Solid di Bawah Satu Komando Ketua Umum
komentar
beritaTerbaru