Selasa, 27 Januari 2026

Kekuasaan Tanpa Integritas: Awal Mulai Datangnya Murka Allah

Administrator - Sabtu, 24 Januari 2026 17:33 WIB
Kekuasaan Tanpa Integritas: Awal Mulai Datangnya Murka Allah
Istimewa

Oleh: Syahrir Nasution

Baca Juga:

Kita sedang hidup di sebuah zaman yang ganjil. Kebenaran dan kejujuran tidak lagi dapat dibedakan secara tegas dari kebohongan. Fakta dipelintir menjadi opini, sementara opini yang sarat kepentingan dipaksakan sebagai kebenaran. Dalam situasi seperti ini, masyarakat perlahan kehilangan kompas moralnya, dan bangsa ini melangkah tanpa arah yang jelas.
Lebih memprihatinkan lagi, erosi nilai tidak hanya terjadi di ruang kekuasaan, tetapi juga merambah dunia akademik. Integritas para guru besar di kampus-kampus ternama—yang seharusnya menjadi mercusuar intelektual dan etika—kian hari kian memudar. Gelar akademik yang tinggi tidak lagi menjamin kebesaran moral. Kecerdasan intelektual diperalat oleh kepentingan sesaat, sementara nurani dikalahkan oleh ambisi. Otak yang semestinya digunakan untuk menjaga kebenaran justru dipakai untuk membenarkan kebohongan.
Dalam kondisi seperti ini, kekuasaan berdiri di atas fondasi yang rapuh. Kekuasaan tanpa integritas bukanlah kekuatan, melainkan ancaman. Ia melahirkan kebijakan tanpa keadilan, hukum tanpa moral, dan kepemimpinan tanpa tanggung jawab. Kekuasaan semacam ini hanya sibuk melanggengkan diri, menutup mata terhadap penderitaan rakyat, dan menumpulkan rasa bersalah.
Karena itu, jika ke depan masyarakat menyaksikan berbagai peristiwa yang terasa "aneh", janggal, bahkan di luar nalar—janganlah terkejut. Kerusakan sosial, konflik horizontal, krisis kepercayaan, hingga bencana kemanusiaan bukanlah peristiwa yang datang tiba-tiba. Semua itu merupakan akumulasi dari pembiaran terhadap kekuasaan yang kehilangan integritas.
Dalam perspektif iman, kekuasaan tanpa integritas adalah pintu awal datangnya murka Allah SWT. Bukan karena Allah zalim, tetapi karena manusia telah menutup pintu keadilan dan kebenaran. Ketika amanah dikhianati, ilmu diperdagangkan, dan kebohongan dinormalisasi, maka kehancuran moral adalah keniscayaan. Sejarah telah berulang kali mengajarkan: tidak ada peradaban yang runtuh karena kekurangan ilmu, melainkan karena kehilangan integritas.
Maka revolusi sosial bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Revolusi yang dimaksud bukan sekadar pergantian kekuasaan, tetapi pembaruan kesadaran: mengembalikan kejujuran sebagai nilai, menempatkan integritas sebagai syarat kepemimpinan, dan menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian, bukan alat legitimasi kebohongan.
Jika tidak, bangsa ini akan terus berjalan menuju jurang, dengan mata terbuka namun hati tertutup. Dan saat itu tiba, murka Allah bukanlah sesuatu yang patut dipertanyakan—melainkan akibat yang telah lama diperingatkan.**

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Ismail Nasution
Sumber
:
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Wali Kota : Sumpah Demi Allah, Tidak Ada Mahar Satu Rupiah Pun Diambil
Kunjungi Tuan Guru Babussalam, Hasan Basri Sagala: Senang Sekali Bertemu Wali Allah
AKBP Herwansyah Putra : Jaga Kondusifitas Diseputaran Asrama Haji Medan Saat Keberangkatan Tamu Allah ke Tanah Suci
komentar
beritaTerbaru