DPD PDI Perjuangan Sumut Dukung Penuh Langkah Ketua DPRD Karo Iriani Tarigan Kawal Tuntas Kasus Keracunan MBG
DPD PDI Perjuangan Sumut Dukung Penuh Langkah Ketua DPRD Karo Iriani Tarigan Kawal Tuntas Kasus Keracunan MBG
News
Baca Juga:
Medan — Di tengah duka dan krisis akibat bencana banjir-longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, sikap dan tanggung jawab kolektif pemerintah sangat dibutuhkan. Dalam situasi ini, ajakan "tobat nasuha" oleh Menko Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar meskipun menuai kritik dari internal Partai Golkar — sejatinya bisa dilihat sebagai wujud kepekaan moral dan komitmen spiritual terhadap amanah publik.
Terkait ajakan "tobat nasuha" kepada para pejabat negara mendapat respon dari praktisi hukum, Joni Sandri Ritonga, SH., MH. Menurutnya, pernyataan tersebut tidak boleh dipersempit hanya sebagai isu kewenangan politik, melainkan harus dilihat sebagai ekspresi kepedulian moral seorang pemimpin terhadap kondisi masyarakat.
"Saat rakyat menghadapi bencana dan berbagai tekanan hidup, ajakan moral seperti itu merupakan wujud empati pemimpin kepada masyarakat. Ini bukan soal siapa yang berwenang, tetapi soal keberanian menyuarakan refleksi untuk kemaslahatan bersama," ujar Joni Sandri Ritonga dalam pernyataannya
Ia menegaskan bahwa pejabat negara, apalagi yang memiliki posisi strategis dalam penanganan persoalan rakyat, tidak bisa dipisahkan dari tanggung jawab moral dan spiritual. Ajakan Cak Imin, menurutnya, adalah pengingat bahwa negara harus hadir tidak hanya lewat kebijakan teknis, tetapi juga lewat kepekaan hati.
"Bangsa ini sedang diuji oleh bencana. Banyak keluarga kehilangan rumah, harta, bahkan nyawa. Dalam kondisi seperti itu, kritik dan evaluasi diri memang diperlukan.
Pernyataan Cak Imin justru relevan, karena mengajak semua unsur pemerintahan untuk kembali pada niat suci dalam mengabdi kepada rakyat," tambahnya.
Joni juga menilai respons sebagian pihak yang mengkritik Cak Imin terlalu reaktif dan cenderung politis. Ia menekankan bahwa ajakan introspeksi seharusnya tidak dipersoalkan, apalagi jika tujuannya untuk memastikan negara bekerja lebih serius dalam mencegah dan menangani bencana.
"Pemimpin itu bukan hanya memegang kewenangan, tetapi juga menjadi teladan moral. Ketika Cak Imin berbicara soal tobat, ia sedang menegaskan pentingnya perbaikan diri dan kebijakan agar rakyat tidak terus menjadi korban. Ini pesan yang justru harus diapresiasi," tegas Joni.
Di akhir pernyataannya, Joni Sandri Ritonga mengajak seluruh pejabat negara untuk melihat momentum ini sebagai kesempatan memperkuat solidaritas, empati, dan integritas dalam bekerja melayani masyarakat.
"Kita butuh pemimpin yang berani mengingatkan. Kepedulian tidak boleh dimaknai sebagai pelampauan kewenangan. Justru di situlah letak nilai seorang pemimpin—mampu menyuarakan suara hati rakyat ketika negara sedang tidak baik-baik saja," pungkasnya.
DPD PDI Perjuangan Sumut Dukung Penuh Langkah Ketua DPRD Karo Iriani Tarigan Kawal Tuntas Kasus Keracunan MBG
News
Gus Irawan Kembali Nahkodai HKTI Sumut, Petani Jadi Fokus Utama
News
The Power of Small Acts Bersama Menciptakan Dampak yang Lebih Besar bagi MasyarakatIndonesiasumut24.coPerubahan positif tidak selalu dimul
Umum
Bupati Solok Terima Kunjungan Kakanwil BPJS Ketenagakerjaan Sumbar Riau Kepri
News
Presiden PTM Eksekutif Sumut H. Ikrom Helmi Nasution Lepas Datuk Bandar Alor Setar, Saling Bertukar Cenderamata
News
Kota Medan & Pulau Pinang Ukir Prestasi Bersama, Raih Penghargaan IMTGT 2026
News
Pasca Bencana, Dompet Dhuafa Resmikan Posyandu di Tapanuli TengahTapanuli Tengahsumut24.co Dompet Dhuafa meresmikan dua Posyandu yang diper
News
Kerjasama Kota Bersaudara Medan&ndashPulau Pinang 42 Tahun Silaturahmi, Kini Semakin Kokoh
News
KAWS Hadirkan KarakterKarakter Baru Bersama COMPANION dalam Koleksi UT Terbaru Tersedia mulai 14 SeptemberJakartasumut24.co 9 September 20
Umum
sumut24.co PAKPAK BHARAT, Peraturan Daerah tentang Perubahan Angaran Pendapatan Belanja Daerah Pakpak Bharat Tahun Anggaran 2026 disahkan h
News