Pemkab Solok Perkuat Langkah Pemulihan dan Percepatan Pembersihan Material Pasca Bencana.
Pemkab Solok Perkuat Langkah Pemulihan dan Percepatan Pembersihan Material Pasca Bencana.
News
Baca Juga:
Medan — Pemerhati sosial politik Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Shohibul Anshor Siregar, menyoroti sejumlah masalah dalam demokrasi Indonesia pasca Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024. Menurutnya, hasil Pilkada yang sering berujung pada gugatan di Mahkamah Konstitusi (MK) menunjukkan adanya masalah serius terkait integritas demokrasi.
"Banyak paslon yang terpilih harus menghadapi gugatan di MK. Ini menunjukkan bahwa demokrasi kita masih bermasalah, dan integritas Pilkada kita patut dipertanyakan," ungkap Siregar dalam pernyataan yang diterima oleh media, Sabtu (11/2).
Selain itu, Siregar juga mengingatkan agar kepala daerah yang baru terpilih tidak terjebak dalam praktik korupsi. Ia menyebutkan bahwa banyak calon kepala daerah yang harus menanggung biaya besar untuk memenangkan Pilkada dan, dalam beberapa kasus, harus melunasi utang kepada pihak tertentu atau memenuhi komitmen dengan oligarki yang mengharuskan mereka memberikan proyek tertentu.
"Setelah terpilih, biasanya mereka harus merawat stabilitas politik dan mengamankan posisi mereka, yang sering kali melibatkan biaya besar. Itu sebabnya kita harus berhati-hati agar hal ini tidak merugikan rakyat," lanjut Siregar.
Shohibul Anshor Siregar juga menegaskan pentingnya untuk memperhatikan kesejahteraan rakyat, terutama kaum miskin. Ia mengajak kepala daerah terpilih untuk menjalankan program Jaminan Pekerjaan, dengan memberikan kesempatan kerja bagi pengangguran. "Pekerjaan adalah hak dan martabat setiap warga negara. Tanpa pekerjaan, orang tidak memiliki harga diri," ujarnya, mengutip Pasal 27 Ayat (2) UUD 1945 yang menyatakan bahwa setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak.
Terkait rencana untuk mengirimkan kepala daerah yang akan dilantik ke Akademi Militer di Lembah Tidar, Magelang, untuk menjalani pendidikan, Siregar menunjukkan ketidaksetujuannya. Ia berpendapat bahwa langkah tersebut tidak akan efektif dalam mengurangi korupsi, mengingat sejumlah masalah besar, seperti praktik perjudian online yang merugikan masyarakat, belum dapat diselesaikan meskipun ada program serupa di masa lalu.
"Saya sarankan kepada Prabowo untuk mengurungkan niat tersebut. Jika sudah ada upaya seperti itu, mengapa sampai saat ini masih muncul masalah besar yang merusak wibawa pemerintah?" tandasnya.
Siregar menegaskan bahwa Indonesia harus kembali fokus pada pelaksanaan pemerintahan yang berpihak pada rakyat, bukan untuk kepentingan segelintir elit atau oligarki. Dengan menegakkan prinsip-prinsip demokrasi yang sejati, ia berharap bisa tercipta pemerintahan yang lebih transparan, akuntabel, dan pro-rakyat.
Pemkab Solok Perkuat Langkah Pemulihan dan Percepatan Pembersihan Material Pasca Bencana.
News
Kementerian Sosial RI Serahkan Bantuan Penanganan Bencana Senilai Rp358,86 Juta kepada Kabupaten Solok
News
Bupati Solok Buka FGD Kelompok Kerja Percepatan Perhutanan Sosial
News
Disampaikan ke Wapres Gibran, Keluarga Korban Pencurian Pertanyakan Status Tersangka dan DPO
News
JAKARTA Perdebatan panjang terkait sengketa Sahara Maroko sering kali mengabaikan realitas empiris di lapangan. Padahal, berbagai pemban
News
Lapas Padangsidimpuan Buka Layanan Hak Remisi, 34 Warga Binaan Dapat Penjelasan Langsung
News
Nusron Wahid Mangkir dari Pemeriksaan KPK, Beralasan Ada Agenda Internal ATR/BPN
News
KAMMI Bakar Ban di DPRD Sumut, Desak Seleksi KPID Diusut dan Anggaran SosperWasbangPokir Diaudit
News
KPK Telaah Dugaan Politik Uang Muktamar NU, PCNU Sekadau Serahkan Uang dan Bukti
News
sumut24.co MedanKisah memprihatinkan dialami oleh Cici Herliawati bersama keluarganya yang sudah satu dekade bertahan hidup di dalam bilik
kota