Picing Mata Jadi…Jenderal.! Catatan : Wiku Sapta

175
MEDAN | SUMUT24.co
Setahun silam,  kisah ini bermula.  Pastinya kapan saya lupa, mungkin faktor U (usia). Saat itu, kami trio berkawan bertandang ke Pulau Jawa.
Di Polres Madiun Kota, saya,  Zulkifli Tanjung dan Chairum Lubis, terdampar. Beruntung, bro Nasrun Pasaribu (begitu kami biasa menyapa), ramah menyambut. Ups….Nasrun ketika itu adalah komandan disitu, di Polres Madiun Kota. Pangkatnya, Ajun Komisaris Besar.
“Kalau aku jawab WA (whatsapp) bro, pasti bro nggak jadi kesini. Makanya, biar penasaran, kudiemin, nggak kujawab. Nah akhirnya sampe juga bro ke Madiun Kota kan,”katanya sambil tertawa ngenyek, saat menyambut kami di Mapolres. Asli kena lonjan (kerjai) sama mantan Kapolsek Medan Baru itu.
Persis di seberang mako, ada masjid megah, (maaf) lagi-lagi saya lupa merekam nama masjidnya. Di belakang masjid, ada rel kereta api. Jaraknya hanya seratusan meter berjalan kaki dari mako. Yang saya ingat, hari itu pas hari Jumat.
Kombur-kombur bentar, sebelumnya cepika cepiki (waktu itu belum ada Covid), hampir setengah jam berlalu, kami pun digelandang ke masjid.
“Jumatan dulu kita,”ajaknya.
Singkat kisah, usai salat Jumat, kami pun balik duduk-duduk di lobi Mapolres. Nah pas asik ngobrol, entah siapa yang awal mula menyebut nama Sandy Nugroho, yang kini naik pangkat dari Komisaris Besar menjadi Brigadir Jenderal.
Nasrun yang alumni AKPOL 2000 itu langsung nyeletuk. “Kalau kakak asuh yang satu itu, picing mata sudah pasti jadi,”urai alumni SMA Matauli, Tapanuli Tengah itu, memprediksi.
Setahun setelah reuni itu, prediksi Nasrun, bablas tak meleset sedikit pun. Bukti nyatanya, kemarin, Telegram Rahasia (TR), tapi boleh diketahui publik, beberapa perwira tinggi Polri, meluncur ke ranah publk. Urutan paling bontot di TR itu adalah  Sandy Nugroho.
Haiz..tebakan Nasrun jadi kenyataan. Untuk sementara ini. Ke depan, apakah penerawangan lewat picing mata ini jadi kenyataan yang berlebih, wallahualam.
Tapi yang saya tahu, walau tak sedekat rekan-rekan jurnalis lain di Medan, nama Sandy cukup disegani dan diyakini moncer karir, mengimbangi dua seniornya yang juga pernah Kapolrestabes Medan. Keduanya, Brigjend Pol Mardiaz Kusin Dwihananto dan Brigjend Pol H Dadang Hartanto.
Sandy, tipikal polisi ramah. Komitmen sikapnya, sama persis dengan Nasrun. Walau berpisah jarak ribuan kilometer, nyeberang samudera, ketika dikunjungi, tak kabur.
“Biasa kalau sudah tugas di luar Sumatera, pas didatangi lari ya kan ngab,”ucap Zulkifli, ketika itu  membahas komitmen sikap Nasrun dan Sandi.
Siapa sangka, memang. Saat kami tiba di Surabaya, di kota Sandi menjabat sebelum naik jadi jenderal, aura disambut hangat itu sudah terasa.
Padahal, dari komunikasi antara Sandi dan Chairum Lubjs, malamnya, posisi sang jenderal di Sulawesi. “Lagi ikut pak Kapolri (kala itu dijabat Jenderal Tito Karnavian) dan istri nyelam,”kata Chairum.
Itu pas Sabtu malam, saat dimana kota Surabaya menggeliat dengan beragam keriuhan di sepenjuru kota.
Nyaris pupus harapan bertemu mantan Kasat Reskrim Polres Asahan itu, sebetulnya. Tapi Allah berencana lain. Balasan SMS mendarat. “Minggu pagi saya tunggu di kantor (Polrestabes Surabaya),” jawab Sandy.
Jam tidur pun disetel cepat. Biar besok pagi tidak bangkong. Paginya, tiba di Mapolrestabes Surabaya, Sandy belum muncul. Ternyata, alumni AKPOL 95 itu, sedang jojing massal. Setengah jam menunggu, pria berbadan kurus itu pun muncul.
“Ini teman-teman saya dari Medan, orang-orang hebat di Medan ini, katanya kepada beberapa personel polisi yang ada, campur bohong ehehee. Naik sebentar kuping awak. Tapi los lah, sekali-sekali disanjung, alhamdulillah.
Sandy menyambut sangat ramah. Siapa pun akan terkesima. Siapapun akan kaget, jumawa dan berdecak. Dia mempersilahkan kami melihat-lihat isi Mapolrestabes yang disebutnya museum. Kemudian diajak raun-raun dan terpelongo menyaksikan teknologi pemantau kamera CCTV seluk beluk kota Pahlawan. Jam dolan-dolan pun disudahi. “Betul nggak mau nginap, biar saya bukain khusus buat mas-mas?” tawarnya.
Kami menolak halus, karena harus.melanjutkan road show ke Semarang, ngadep Komjen Ryco Amelza Dhaniel, ketika itu Kapolda Jateng.
“Ya sudah kalau nggak mau, nggak apa-apa. Jangan kapok main kemari lagi ya!”kata Sandi. Satu unit mobil Innova disediakannya, komplet dengan driver. Antar mas-mas hebat ini kemana mereka mau, sampai tujuan harus selamat tanpa lecet sedikit pun,” sebutnya kepada sang driver.
Owalah, sampai segitumya atensi Mas Sandy. Ampuuuuun atas sambutan dan kebaikan mu mas! Semoga tetap menjadi pribadi yang baik, amanah, ramah, murah senyum, rajin sedekah (karena sempat nitip tiga map bermotif batik),  meski kelak, dengan hanya picing mata (meminjam mulut Nasrun) jadi pemimpin Polri tertinggi. Aaamiin.(red)
Loading...