Virus Corona Lemahkan Perekonomian Nasional

111

Medan I SUMUT24.CO
Wabah virus Corona di China yang berawal dari kota Wuhan ternyata menambah deretan ketidakpastian ekonomi global 2020 dan sekaligus beresiko mempengaruhi perekonomian Indonesia.

Hal itu dikatakan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah Utara Wiwiek Sisto Widayat kepada wartawan dalam Bincang-bincang Media di Medan Senin (10/2/2020).

Wiwiek didampingi Wakil Kepala Kantor BI Wilayah Sumut Ibrahim, Kepala Grup Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah BI Wilayah Sumut Andiwiana Septonarwanto.

Wiwiek memperkirakan wabah virus Corona di Sumut dampaknya sampai semester I/2020. “Jadi di triwulan I ini belum kelihatan,” katanya.

Advertisement

Menurut orang nomor satu di BI Sumut ini, dampak virus Corona itu untuk beberapa jalur apakah dari sektor perdagangan; dari sisi ekspor/impor dan investasi. Juga dari dampak dari harga saham yang sudah kelihatan di Januari 2020.

Jalur ketiga yang belum kelihatan dampaknya dari sisi inflasi dimana bawang putih selama ini banyak impor dari China. Dengan pasokan menipis, harga bawang putih akan mengalami kenaikan yang akan berdampak pada terjadinya inflasi.

Sepanjang tahun 2019, kata Wiwiek, ekonomi global semakin tidak ramah. Terjadi penurunan globalisasi akibat meluasnya perang dagang dan kebijakan berbagai negara yang mendahulukan kepentingan ekonomi dalam negeri.

Memasuki tahun 2020, perekonomiandunia menghadapi beberapa tantangan lanjutan. Tensi geopilitik di Timur Tengah yang meningkat antara AS dan Iran serta ancaman perlambatan ekonomi Tiongkok paska merebaknya virus Corona semakin menambah ketidakpastian ekonomi global di tahun 2020. “Penyebaran virus Corona beresiko mempengaruhi perekonomian global,” ungkapnya.

Wiwiek memaparkan perjalanan virus Corona dari waktu ke waktu yang begitu cepat. Pada 31 Desember 2019 China menyampaikan beberapa temuan kasus Pneumonia kepada WHO.

Lalu pada 7 Januari 2020 WHO mengidentifikasi virus baru bernama 2019-nCoV sebagai Coronavirus. Pada 13 Januari 2020 WHO melaporkan kasus di Thailand, yang pertama di luar China. Pada 29 Januari 2020, korban tewas melonjak ke 132, setidaknya dari 6.000 kasus.

Pada 1 Januari 2020, pasar seafood Wuhan, China ditutup. Pada 11 Januari 2020, China mengumumkan kematian pertama. Pada 23 Januari Wuhan dikarantina dari berbagai jalur apakah, baik udara maupun darat.

Pada 2 Pebruari 2020, 304 tewas dan sebanyak 14.380 terinfeksi virus Corona. Selain itu, virus juga telah menjangkit negara Australia, Kanada, Jerman, Singapura, US, UAE dan Vietnam.

Wiwiek menyebut banyak pakar yang memberikan estimasi dampak virus Corona tersebut seperti ekonom Chinaa Zhang Ming yang memprediksi ekonomi China akan turun di bawah level 5 persen pada kuartal I 2020 (Q1 2020) dari tahun sebelumnya 6 persen.

Goldman Sachs yang menyebut penyebaran virus akan menurunkan 0,4 persen dari pertumbuhan tahunan AS pada Q1 2020 melalui jalur turis dan ekspor dagang AS ke China. Oxford Economics menyebut pertumbuhan ekonomi China akan tumbuh di bawah 4 persen pada Q1 2020.

Secara keseluruhan tahun 2020, perekonomian Tiongkok diprediksi tumbuh 5,6 persen (yoyo), menurun 0,4 persen dari proyeksi sebelum kontrak virus. Pertumbuhan ekonini dunia diprediksi menurun 0,2 persen dari proyeksi sebelumnya.

UOB Group juga memperkirakan dengan asumsi virus Corona bertahan selama 6 bulan, perekonomian Tiongkok tahun 2020 diprediksi menurun 0,5-1,0 persen dari proyeksi pre-virus. Sementara itu pertumbuhan ekonomi Singapura diprediksi menurun 0,5-1,0 persen dan Indonesia menurun 0,1-0,2 persen terhadap proyeksi pre-virus. (R03)

Loading...