Terungkap di RDP DPRD Karo, Nursianna Br Surbakti Digugurkan Bukan Karena ‘Tak Sehat’

0
2267
Jpeg

KABANJAHE | SUMUT24

Nursianna Br Surbakti yang digadang bakal calon wakil bupati pada Pilkada Karo Desember tahun lalu mendampingi calon bupati dari (incumbent) dengan nomor undi 6.

Namun setelah ikut menjalani tahapan pilkada, ia dinyatakan tidak mampu mengikuti pilkada setelah adanya rekomendasi dari RSUD Kabanjahe ke pihak IDI (Ikatan Dokter Indonesia) untuk selanjutnya diteruskan ke KPUD Karo sebagai penyelenggara pemilu, yang menyatakan bahwa dalam dirinya terjangkit penyakit jantung koroner.

Namun pengakuan mengejutkan diutarakan Nursianna dalam rapat dengar pendapat (RDP) umum DPRD Karo yang dilaksanakan, Kamis (11/2) di ruang rapat paripurna yang menanggapi demo massa sehari sebelumnya, yang menuntut agar pelaksanaan pelantikan Paslon bupati terpilih di Karo dibatalkan karena adanya pelanggaran yang dilakukan oleh KPUD Karo sesuai rekomendasi Panwaslih Karo no 33/LP/panwas-Karo/II/2015 tentang dugaan pelanggaran.

“Kami paslon No 6 memilih jadwal pemeriksaan kesehatan pada hari kedua. Saya ikut menjalani test kesehatan sesuai prosedur. Namun hingga sore harinya, saya tidak mendapat hasil pemeriksaan kesehatan saya. Esoknya saya dijemput Joni Barus seorang oknum PNS sekaligus ajudan bupati saat itu, dan dibawa ke rumas dinas yang ditempati bupati. Disana hak kemerdekaan saya dihilangkan selama 8 jam,” kata Nursianna dalam RDP.

Lanjutnya, kemudian sore harinya, ketua tim pemenangan Sentosa Sinulingga datang menyodorkan surat untuk ditandatanganinya. Ia menanyakan perihal surat yang akan ditandatanginya. Oleh Sentosa Sinulingga mengatakan, surat ini hanya sebagai pelengkap berkas pencalonan.

Tanpa rasa curiga terhadap ketua tim pemenangan  ia menandatanginya, yang tidak disangkanya ternyata surat tersebut adalah surat yang menyatakann bahwa dirinya ‘Sakit’. “Hingga hari ini yang memiliki surat rekomendasi dari Partai Gerindra pusat adalah saya,” katanya.

Hal ini dibenarkan Sentosa Sinulingga  ketua tim pemenangan Paslon No 6 yang sudah mengundurkan diri sebelum pilkada dilaksanakan, yang juga hadir dalam RDP DRPD Karo. Ia menceritakan kronologis pergantian calon wakil bupati Paslon No 6 dari Nursianna Br Surbakti kepada Cory Sebayang.

“Saya hanya diperintahkan pimpinan saya yakni ketua DPC Gerindra Karo bapak  Abednego Sembiring Milala untuk membuat surat rekayasa tersebut, sebab Paslon No 6 dan ketua DPC Gerindra Tanah Karo tidak senang terhadap ibu Nursianna Br Surbakti,” kata Sentosa.

Dirut RSUD Kabanjahe yang hadir dalam RDP tersebut menjelaskan bahwa pada hari kedua menurut jadwal KPUD Karo, secara keseluruhan test yang dijalani Nursianna memang mengidap penyakit jantung. Sehingga keesokan harinya disarankan kembali untuk datang melakukan pemeriksaan lagi, namun Nursianna tidak hadir dengan alasan sakit melalui surat.

“SOP dan aturan yang kita ikuti kan nada, buka per test yang dimiliki, misalnya hanya mata, tetapi secara keseluruhan bahwa ibu Nursianna tidak mampu, namun esoknya tidak datang lagi dan kami hanya menyerahkan hasil pemeriksaan, penentuannya bukanlah kami,” kata Arjuna.

Mananggapi hal tersebut, anggota DPRD Karo komisi C Lusia Sukatendel berang. Ia mengatakan dalam tindakan yang dilakukan tim paslon No 6 menyingkirkan Nursianna Br Surbakti telah menyepelekan dan mengecilkan derajat perempuan.

Ia mengatakan halo tersebut telah bertentangan dengan UU kesetaraan gender dan Nawa Cita Jokowi. Ia berjanji akan memperjuangkan nasib Nursianna melalui Gerakan Kerja Wanita yang ada di Medan. “Kami berada di barisan palin depan, jika ada yang menghalangi perjuangan ibu ini memdapatkan keadilan hukum,” kata Lucia. (tepu)