SUDAHKAH EKONOMI KITA BERDAULAT ?

119

MEDAN I SUMUT24.co
Di dunia ini ada 2 jenis harga, Pertama , yang disebut dengan
“Price Taker” (Pengambil Harga). Kedua , yang disebut dengan
“ price maker ” (Pembuat /Penentu Harga). Pertanyaan nya , seberapa jauh kita (Indonesia) ikut menentukan atau membuat harga tersebut atas product yang kita hasilkan? Yang mana juga kita merupakan memiliki Shmbet daya alam yang sangat kaya?, ucap Ketua, ISEI. Cabang Binjai- Sumut H Syahrir Nasution kepada Wartawan, Selasa (13/8). Menurutnya,
Kenapa saya kata kan , price maker? . Disinilah letak nya kelemahan-kelemahan sektor ekonomi kita yang sampai hari ini kita tidak bisa “ berdaya” dalam mengendalikan product-product kita, padahal raw material banyak yang kita miliki, tetapi secara Fisik memang kita akui , namun kita tidak punya “ daya getar “ untuk membuat negara-negara Importir product kita tersebut.

Jadi yang kita alami sampai hari ini kita masih manut-manut
terhadap jenis harga yang pertama diatas tadi yaitu “price maker” (Pengambil Harga), aneh memang, inilah penyebab nya kita secara ekonomi kita belum bahkan tidak berdaulat. Lebihlanjut Managing Director Political dan Economic Consulting of Indonesia (Peci) itu, Jadi kalau berbicara tentang PRICE TAKER, ( pengambil harga), sungguh UN-LOGIC (tak masuk akal) kita, kenapa?. Bayangkan, Sebagai contoh: kita penghasil Minyak, Tembaga , Batu Bara, dan banyak lagi product-product yang kita hasilkan.Masalah nya kita ikut dalam hal pengambil harga tersebut dansegala peraturannya.

Apakah harga itu berdasarkan “ “pasar” atau ada lembaga yang mengendalikannya/mengaturnya terhadap product-product kita itu?

Seperti semua kita tahu bahwa Komoditas yang kita sebut tadi, seperti minyak , di mana hasil nya Triliunan , tapi kita tidak berkutik terhadap penjualan. harga itu. Seharus nya selaku penghasil Comoditas minyak kita lah yang menentukan harga jual minyak tersebut, nyata kita hanya sebagai konsumen.

Siapa sebenar nya “ pasar” tersebut? Apakah terjadi begitu saja dengan adanya DEMAND & SUPPLY? Atau ada nya suatu lembaga yang bermain di pasar?, apapun dalih nya kita tidak bisa menjadi price maker itu, kita hanya menjadi korban.

Seperti , komoditas teh,tembakau, sawit (cpo), karet dan lain-lain juga price taker yang kita ikuti.

Kenapa kita tetap menjadi korban? Atau price taker , tidak bisa menjadi Price taker ?, sebagai negara Produsen dri beberapa komoditas tersebut kita kedepan nya harus menjadi negara price maker. Untuk menjadi penentu pasar itu indonesia harus mempunyai komoditas yang didominasi , agar supaya ada efek getar terhadap negara pengimpor dari produk-produk kita itu.

Ini semua terpulang kepada Policy dan Strong Leadership nya seorang kepala negara yang bersangkutan. Sehingga negara itu punya efek getar dan berwibawa di mata negara-negara importir dari komoditi yang ada di Indonesia ini. Untuk itulah prasyarat dari seorang kepala negara harus bisa membuat suatu gerakan revolusioner di bidang ekonomi untuk menjadi kan nya ekonomi kita itu berdaulat di mata anak bangsa indonesia ini.(W03)

Loading...