Sempat Tutup Empat Bulan, Pertunjukan Tari Sigale-gale Masih Sepi Pengunjung

234

SAMOSIR  I Sumut24.co
Sejumlah destinasi wisata di kawasan Danau Toba, Provinsi Sumatera Utara sepi pengunjung selama hampir setahun dihantam pandemi Covid-19. Perekonomian masyarakat sekitar pun ikut terimbas, salah satunya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.

Pertunjukan tari Sigale-gale Desa Tomok Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, misalnya, wisatawan yang berkunjung praktis didominasi oleh keluarga, tak lagi ada rombongan dengan jumlah yang banyak seperti sebelumnya.

“Kami sempat tutup empat bulan saat awal pandemi Covid-19, tapi kemudian kita buka lagi. Sejak pandemi ini pasti berkurang pengunjung, seperti kemarin kami hanya tampil satu kali,” kata pemilik pertunjukan Tari Sigale-gale, Sontang Sidabutar, Rabu (17/2).

Sontang mengatakan, sebelum pandemi Covid-19 pihaknya bisa melakukan pertunjukan 10 hingga 15 kali dalam sehari. Dalam satu rombongan juga bisa terdapat hingga 40 wisatawan.

“Kalau sekarang paling keluarga saja, lima orang satu rombongan. Kalau dulu bus besar itu bisa sampai 40 wisawatan,” katanya.
Dikatakannya, selama empat bulan tidak beroperasi, pihaknya beralih kepada kegiatan bertani di sawah dan menanam jagung. Saat beroperasional di masa pandemi ini, pihaknya tetap menerapkan protokol kesehatan. Untuk kursi penonton pertunjukan juga diberikan jarak.

“Ulos yang biasa dikenakan wisatawan saat menari sebelumnya kita simpan saja. Tapi wisatawan merasa gak lengkap tanpa ulos, kalau mereka minta ya kita kasih,” pungkasnya.

Masih di desa itu, kondisi tak jauh berbeda dirasakan pengelola destinasi wisata Makam Tua Raja Sidabutar. Situs sejarah yang berusia ratusan tahun itu juga sepi pengunjung, apalagi selama ini kebanyakan pelancong memang berasal dari luar negeri.

“Dari dulu kebanyakan pengunjung kita datang dari luar negeri. Bisa dikatakan setiap hari pasti ada pengunjung dari Malaysia di sini kecuali saaat bulan Ramadan,” kata penjaga harian Makam Tua Raja Sidabutar, Karmiden Sidabutar.

Diungkap dia, pengunjung dari luar negeri mendominasi hingga 70 persen dibandingkan pengunjung lokal. Sebab destinasi wisata tersebut menawarkan budaya dan sejarah yang sangat menarik perhatian wisatawan mancanegara dibandingkan wisatawan domestik.

“Di sini kan banyak benda bersejarah, kalau orang Batak itu peninggalannya tidak ditulis. Tapi benda-benda bersejarah ini yang menarik wisatawan dari luar negeri, karena mereka paling cinta akan budaya itu,” katanya.

Meski pengunjung drastis berkurang pada masa pandemi, namun setiap hari masih ada saja wisatawan lokal yang datang.

“Hampir setiap hari ada pengunjung. Tapi pernah gak ada datang orang. Kalau adapun hanya sekitar tiga orang saja,” katanya.

Dikatakannya pengunjung yang pertama datang ke destinasi wisata ini pada tahun 1952. Wisatawan tersebut berasal dari Karo, Cina, dan Jawa. “Sekarang dari luar negeri sudah satu tahun inilah belum ada lagi datang,” pungkasnya.

Pemilik objek wisata Huta Siallagan Gading Jansen Siallagan, juga menyampaikan hal serupa. Sebelum pandemi, sebut dia, pengunjung objek wisata sekaligus situs bersejarah suku Batak itu mencapai 3.000 orang pengunjung dalam seminggu. Sejak pandemi melanda, dalam seminggu hanya ada satu atau dua orang pengunjung saja.

“Kalau high season sampai 3.000 orang, hari biasa 2.000. Kalau sekarang terkadang satu minggu bisa ada satu yang datang. Apalagi waktu zaman awal Covid-19,” katanya.

Turunnya jumlah wisatawan ini juga dipengaruhi oleh ditutupnya pintu masuk wisatawan asing. Kata Gading, kebanyakan wisatawan yang berkunjung ke tempat tersebut berasal dari luar negeri. “Orang Indonesia gak terlalu interest dengan sejarah. Tapi orang luar negeri sangat interest,” imbuhnya.

Akibat dampak pandemi, pelaku UMKM di Kampung Ambarita, Kecamatan Simanindo, pun bagai hidup segan mati tak mau alias mati suri. Kondisi dimaksud bahkan sudah terjadi sejak awal Covid-19. Amatan Sumut Pos, hanya sedikit saja terlihat kios UMKM yang mayoritas menjual souvenir tersebut membuka lapaknya.

“Di Kampung Ambarita ini sedang mati suri akibat pandemi Covid-19, sudah banyak pedagang yang tutup. Selain tidak ada pembeli juga wisatawan baik mancanegara dan lokal sudah jarang sehingga pelaku UMKM sangat terpuruk akibat zaman Covid-19,” kata warga sekitar, Lidia Siallagan.

Warga berharap pemerintah memberikan stimulus atau perhatian sehingga mereka dapat bangkit dari keterpurukan. Apalagi sudah banyak program pembangunan oleh pemerintah terhadap destinasi super prioritas Danau Toba.
“Mudah-mudahan dengan siapnya semua fasilitas wisata tersebut kunjungan wisata makin meningkat tidak seperti sekarang ini, apalagi sudah hampir satu tahun kami terpuruk,” katanya.
Diakuinya, mayoritas pelaku UMKM terpaksa kembali ke ladang dampak dari sepinya pengunjung ke wilayah itu. “Yang tetap buka lapaknya pun sekarang ini lebih sibuk di ladang daripada di kiosnya. Tapi kebanyakan seperti yang kalian tengok, pada tutup kios-kios di sini,” pungkasnya.
Di lain sisi, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kereatif telah mengeluarkan panduan cleanliness, healthy, safety, environmental sustainability (CHSE) pada kegiatan pertemuan, insentif, konvensi, dan pameran (MICE). Panduan tersebut adalah pedoman bagi pelaku industri pariwisata untuk menjalankan bisnisnya di tengah pandemi Covid-19 sesuai protokol kesehatan.

<span;> Kemenparekraf tengah melakukan sosialisasi CHSE MICE tersebut kepada pelaku industri pariwisata. Hal tersebut merupakan upaya Kemenparekraf membangkitkan kembali kini bisnis yang terpuruk akibat pandemi Covid-19.

Buku panduan CHSE MICE dapat diunduh bebas di portal kemenparekraf.go.id. Di samping itu, Kemenparekraf mendorong pemanfaatan sistem mice.id kepada seluruh pengelola wisata terkhusus di kawasan Danau Toba.(red)