Revitalisasi Lapangan Merdeka Medan Harus Berdasarkan Prinsip Cagar Budaya.

0
160

Medan|Sumut24.co
Koalisi Masyarakat Sipil (KMS) Medan-Sumatera Utara mendukung revitalisasi Lapangan Merdeka Medan sebagai situs bersejarah, ruang publik, dan cagar budaya. Namun, revitalisasi harus melindungi hamparan lapangan, trembesi, dan memori bersejarah di dalamnya.

Hal itu menjadi kesimpulan Koalisi Masyarakat Sipil (KMS) Medan-Sumatera Utara dalam diskusi bertema “Revitalisasi Lapangan Merdeka” di Gedung Avros, kawasan Kesawan, Medan, Sabtu (4/6/2022).

Diskusi ini dimoderatori oleh Koordinator KMS Medan-Sumut Miduk Hutabarat dan dihadiri sejumlah dosen serta praktisi jejaring KMS Medan-Sumut. Rencananya KMS akan menemui Walikota Medan, Selasa (7/6) untuk usul saran.

Rencana pembongkaran semua bangunan dan pagar di Lapangan Merdeka Medan merupakan langkah yang tepat.

Namun, pembangunan gedung bawah tanah untuk area parkir dan komersial perlu dievaluasi karena berpotensi merusak unsur cagar budaya.

Selain itu, pembangunan area parkir di inti kota, bertentangan dengan program pembangunan transportasi publik di Kota Medan.

Hal itu menjadi fokus pembahasan dengan tinjauan dari beberapa praktisi dari masing-masing disiplin ilmu.

Sejarawan Universitas Negeri Medan yang juga pemegang Sertifikat Tenaga Ahli Cagar Budaya, Ichwan Azhari, mengatakan, langkah pertama yang harus diambil Pemerintah Kota Medan adalah menyelamatkan semua unsur cagar budaya di Lapangan Merdeka.

”Ada tiga unsur paling penting, yakni hamparan lapangan, pohon trembesi, dan memori yang tersimpan di dalamnya, antara lain tugu kemerdekaan. Ini semua tidak boleh diganggu,” kata Ichwan.

Pohon trembesi itu menjadi memori sejarah karena ditanam bersamaan dengan pembukaan Lapangan Merdeka Medan pada 1880.

Ichwan mengatakan, Lapangan Merdeka Medan dibangun pada tahun 1880 bersamaan dengan penanaman pohon trembesi di sekelilingnya. Alun-alun kota yang diberi nama De Esplanade itu berhadapan langsung dengan balai kota dan terintegrasi dengan kantor pos, stasiun kereta api, perbankan, dan pusat bisnis di sekitarnya.

Inti Kota Medan itu dibangun menyerupai kota-kota di Eropa sehingga disebut sebagai Parijs van Sumatra. Lapangan pernah berubah nama menjadi Fukuraido di masa pendudukan Jepang dan menjadi Lapangan Merdeka pascaproklamasi kemerdekaan RI.

Ada tiga unsur paling penting, yakni hamparan lapangan, pohon trembesi, dan memori yang tersimpan di dalamnya, antara lain tugu kemerdekaan.

Ichwan mengatakan, semangat revitalisasi harus melindungi unsur cagar budaya baik fisik maupun memori di dalamnya. Rencana pembangunan gedung bawah tanah di bawah lapangan dapat merusak pohon trembesi di atasnya.

Sementara Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara Johannes Tarigan mengatakan, hampir tidak mungkin membangun gedung bawah tanah dengan tetap mempertahankan pohon trembesi di atasnya.

”Kalau mau dipertahankan, gedung bawah tanahnya harus sangat kecil di tengah lapangan,” kata Johannes.

Transportasi publik.
Rencana pembangunan area parkir untuk menampung ratusan mobil pribadi juga dinilai bertentangan dengan semangat pembangunan transportasi publik kota yang saat ini mulai dirintis. Lapangan Merdeka Medan bahkan dirancang menjadi pusat transit Bus Trans Deli yang baru dirintis Kementerian Perhubungan dan Pemerintah Kota Medan.

”Konsep pembangunan transportasi publik justru harus mengurangi kendaraan pribadi ke inti kota. Tempat parkir harus dikurangi dan tarif harus dibuat mahal agar orang beralih ke transportasi publik,” kata Sekretaris Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI) Sumut Burhan Batubara.

Sedang Guru Besar (Emeritus) Antropologi Universitas Negeri Medan Usman Pelly mengatakan, revitalisasi Lapangan Merdeka seharusnya memikirkan bagaimana mengembalikan Balai Kota Medan agar berhadapan lagi dengan Lapangan Merdeka yang merupakan alun-alun kota.

Hubungan itu menggambarkan relasi rakyat dengan pemimpin kotanya. Relasi itu terputus sejak hotel dibangun di belakang balai kota dan Kantor Wali Kota Medan justru dipindah ke belakang hotel di seberang sungai.

Sementara secara terpisah Pemko Medan telah mencanangkan Lapangan Merdeka Medan mulai direvitalisasi 4 Juli mendatang.

Revitalisasi sendiri mengusung pendekatan history urban landscape.

Di lapangan merdeka juga akan dibangun tempat parkir bawah tanah atau basement.

“Konsep utamanya adalah pelestarian ruang kota bersejarah dan konteks dinamika rancang kota kontemporer,” ujar Suhardi Hartono, arsitek untuk revitalisasi Lapangan Merdeka Medan, Minggu (5/6/2022).

Di samping itu, lanjutnya, revitalisasi ini mempertahankan signifikansi sejarah dan karakter Lapangan Merdeka, termasuk mempertahankan keberadaan pohon-pohon tua di sana.

“Dalam revitalisasi ini juga dirancang tempat parkir yang akan dibangun di bawah tanah,” katanya.

Wali Kota Medan Bobby Nasution mengatakan revitalisasi lapangan merdeka yang melengkapi penataan kawasan kota lama Kesawan.

Bobby berharap revitalisasi ini juga akan menciptakan keterhubungan antara Kesawan, Lapangan Merdeka, dan Stasiun Kereta Api. “Persoalan parkir di kawasan tersebut terpecahkan melalui revitalisasi yakni dengan membangun tempat parkir terpusat di bawah tanah,” katanya.(R02)