Prestasi Luar Biasa Nasution: Yang Dipertuan Huta Siantar Buat Mandailing Pusat Syiar Islam

0
140

Catatan : Ali Sati Nasution

BERKISAR pada akhir abat ke-18-19 hingga 20, Huta Siasiantar (sekarang Kota Siantar) Kabupaten Mandailing Natal pernah menjadi pusat perada-ban Syiar Islam di wilayah Mandailing sekaligus ibukota Keresidenan Mandailing Angkola.

Keberadaannya semakin strategis sebagai pusat Pemerintahan, Ekonomi, Informasi dan Peradaban. Ini terjadi berkat pengaruh dan perjuangan Sutan Kumala Sang Yang Dipertuan Hutasiantar Sebagai Raja Panusunan Nasution, sekaligus sebagai Kepala Kekuriaan Huta Siantar.

Sutan Kumala, yang lebih dikenal dengan gelar
Syang Yang Dipertuan Hutasiantar, beliau bekerja sama dengan Asiten Residen Belanda: Alexander Philippus Godon; melaksanakan pembangunan prasarana ekonomi selama 9 tahun (1848-1856). Sutan Kumala berhasil memajukan keseahteraan masyarakat Mandailing.

Prospek pembangunan kesejahteraan itu termasuk pembangun prasana jalan dan pasar.Waktu itu Pasar yang berkembang adalah Tano Bato Kayulaut, berikut pembangunan jalan ke Natal.

Tentunya tidak mengherankan, pada masa itu anak keturunan Sutan Kumala banyak yang menyebar ke berbagai daerah, bukan saja di Sumatera Utara,bah-kan hingga ke daerah Riau dan Malaysia, luar negeri.

Sutan Kumala Nasution (Sang Yang Dipertuan) Hu-tasiantar sangat sangat perhatian terhadap ajaran Islam dan dekat dengan ulama, dibuktikan sewaktu menjemput Syeikh Zainal Abidin Hasibuan ke Barumun Padang Lawas unuk tinggal dan menjadi guru agama Islam di Hutasiantar, beliau langsung ikut ke Barumun. Sebagai pusat informasi,dari Huta Siantar menyebar pemberitahuan ke kampung-kampung dan raja-raja huta bahwa di Kekurian Huta Siantar telah menyediakan guru-guru agama Islam ternama.

Di kemudian hari muncullah nama Syeh Abdul Fatah (makamnya tempat bernazar) dan Syekh Zainal Abidin Hasibuan. Kedua makam ini berada di Pagaran Sigatal.Pada masa Itu Hutasiantar banyak melahirkan ulama besar di Mandailing. bahkan sewaktu Sang Dipertuan berangkat ke Mekkah beliau membawa  Abdul Qodir yang masih berusia sekitar 12 tahun.

Keberadaan Abdul Qodir di Mekkah untuk menuntut ilmu yang pada akhirnya menjadi Syekh dan Imam Besar Masjidil Harom, orang pertama Asia Teng-gara menjadi Imam di Masjidil Harom.Majelis pengajiannya banyak dikunjungi murid-muridnya dari belahan timur dan barat. Terkenal dengan Syekh Abdul Qodir Al-Mandily.

Sutan Kumala Syang (Yang Dipertuan Hutasiantar)
Anak Baginda Mangaraja Enda I Panyabungan To- tonga dari istri pertamanya (Namora) boru Lubis dari Desa Roburan Dolok. Kisah permaisuri Baginda Mangara Enda Namora boru Lubis mengandung suatu riwayat yang spesifik. Namora boru Lubis setelah kawin dengan Baginda Mangaraja Enda, lama baru mendapat keturunan.

Setelah melalui pemeriksaan orang pintar, walau umurnya sudah mulai tua, tetapi diisyaratkan kembali Marulak Ari ke Desa Roburan Dolok. Oleh rombongan Baginda Mangaraja Enda hal itu dapat dipenuhi,upacara adat kebesaran Marulak Ari kembali dilakukan.

Saat berangkat dari Bondul Nipintu (gerbang pintu sebelah dalam) rumah ayah dari Namora boru Lubis bernama Datu Tolpang Lubis, Namora boru Lubis disuruh marambit (menggendong batu). Itu dilaku-kan mulai dari Desa Roburan Dolok hingga ke Panyabungan Tonga.

Percaya atau tidak, setelah itu beberapa bulan kemudian Namora boru Lubis  berbadan dua.Anak yang dikandungnya Sutan Kumala Syang Yang Dipertuan. Setelah beliau dewasa dinobatkan menjadi raja.

Dikutip dari karya tulis Ali Sati Nasution yang belum dibukukan : Klan Nasution Ibarat Bahtera Nabi Nuh,Penuh Muatan…