Selasa, 03 Februari 2026

Psikolog Irna Minauli: Istri Kedua Memiliki Sifat Cemburu Besar dan Lebih Agresif

Administrator - Jumat, 10 Januari 2020 07:29 WIB
Psikolog  Irna Minauli:  Istri Kedua Memiliki Sifat Cemburu Besar dan Lebih Agresif

MEDAN I SUMUT24.co

Baca Juga:

Psikolog dan Direktur Minauli Consulting Irna Minauli mengatakan, kasus pembunuhan yang dilakukan oleh seorang istri terhadap suami biasanya disebabkan oleh motif cemburu karena kehadiran perempuan lain.

Akan tetapi umumnya perempuan tidak berani melakukan pembunuhan secara langsung sehingga mereka sering menyuruh orang lain untuk membantunya, kata Irna di Medan, Kamis (9/1) terkait berita pembunuhan hakim PN Medan Jamaluddin (55) terungkap dan istri korban (ZH) diduga otak pelaku.

Dikatakan Irna, banyak istri yang tidak menyadari bahwa suami yang berani meninggalkan istri sebelumnya dan anak-anaknya demi mendapatkan perempuan baru, cenderung akan mengulang perbuatan serupa pada istri berikutnya.

Hal ini menyebabkan banyak istri kedua dan seterusnya memiliki perasaan insecure (tidak aman) dalam kehidupan perkawinannya karena selain dihantui oleh kehadiran istri sebelumnya, mereka juga dibayang-bayangi kekhawatiran bahwa suaminya akan mencari perempuan lain. Perasaan tidak aman ini sering membuat para istri kedua menjadi lebih pencemburu dan posesif. Mereka biasanya lebih sensitif terhadap perubahan perilaku suaminya ketika mulai terlibat affair dengan perempuan lain, katanya.

Hal ini mungkin juga disebabkan karena ia juga pernah melakukan hal serupa sebelumnya pada suaminya.

Dikatakannya, berdasarkan banyak kasus konseling yang dilakukan, ternyata para istri kedua atau para selingkuhan ternyata memiliki sifat cemburu yang lebih besar sehingga mereka cenderung menjadi lebih agresif dan mudah marah atau menyerang orang lain. Mungkin kita masih ingat kasus bu Dedi (?) yang melabrak selingkuhan suaminya sambil menyawer banyak uang di depan kamera.

Istri yang cemburu sering bertindak irrasional yang bahkan tanpa disadarinya mempermalukan diriny sendiri. Mereka cenderung bersikap impulsif sehingga cenderung menuruti dorongan hatinya. Terlebih ketika mereka dipanas-panasi oleh pihak lain,kata Irna.

Secara sosial, kehadiran istri kedua juga sering kurang diterima secara sosial. Mereka sering dianggap sebagai pelakor atau pengganggu rumah tangga orang lain. Label tersebut tentunya membuat banyak perempuan berusaha untuk mempertahankan posisinya.

Pada penelitian lain juga ditemukan bahwa mereka yang sebelumnya bercerai maka ketika mereka menikah lagi, peluang mereka bercerai ternyata jauh lebih besar.

Misalnya pada perkawinan di Amerika dan Skandinavia, peluang bercerai pada perkawinan pertama sebesar 50% namun pada perkawinan kedua peluang mereka untuk kembali bercerai meningkat menjadi 75%. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya orang yang bercerai adalah mereka yang tidak mampu membina komitmen dalam perkawinan sehingga mereka lebih rentan untuk bersikap tidak setia pada pasangannya,katanya. (C04)

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
beritaTerkait
Terdakwa Kasus Oplosan Minyakita Hanya Dituntut 2 Tahun Penjara
Sekdako T. Tinggi Himbau Pedagang Tempati Kios Pasar Inpres
FWK Tegaskan 9 Februari Tetap Hari Pers Nasional, Soroti Sejarah dan Desak Revisi UU Pers
Istri Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso, Meriyati Hoegeng Tutup Usia di Umur 100 Tahun
New SUMUT Mobile, Asisten Finansial Kekinian Bagi UMKM
Sat Lantas Polresta Deli Serdang Gencarkan Sosialisasi Ops Keselamatan Toba 2026
komentar
beritaTerbaru