Pengakuan Tersangka  Fery Pasaribu Kepada Penyidik, Keluarga Korban Alm Fitri Yanti Menangis Melihat Pra Rekontruksi

426
MEDAN I SUMUT24.co
Keluarga korban menangis, menjerit ketika mendengar pengakuan tersangka kepada penyidik Polrestabes Medan, Hal yang membuat keluarga menangis ketika Kapolrestabes Medan Kombes Pol Riko Sunarko menyampaikan motif pembunuhan dikarenakan sakit hati, korban meminta dibelikan rumah dan selalu dimaki-maki ketika dalam pelaksanaan Konfrensi pers di Polrestabes Medan, Kamis (24/09/2020) pukul 17.00 Wib.
Menanggapi ucapan tersangka kepada penyidik ini membuat kami sekeluarga menangis, karena semua yang disampaikan tersangka kepada penyidik tersebut sangat bertolak belakang, kata Yeny ketika ditemui wartawan di Jalan Bromo, Gang Bahagia. Kel Ts II, Kec Medan Area. Sabtu (26/09/2020).
Kami sekeluarga sangat mengapresiasi kinerja Unit Jahtanras Polrestabes Medan dan Polsek Percut Seituan dan Polsek Tapung Riau. Terima kasih kepada Bapak Kapolrestabes Medan Kombes Pol Riko Sunarko, kami seluruh keluarga Alm Fitri Yanti tidak dapat membalas kebaikan Bapak dan Personil Polrestabes Medan yang tidak pernah merasa lelah untuk mengungkap kasus ini. Hanya Allah yang akan membalas keberhasilan pengungkapan kasus pembunuhan ini.ujar Yeny S.ag kakak kandung korban.
Kami bangga dengan Tim Jahtanras Polrestabes Medan. Yang dipimpin Kasat Reskrim Polrestabes Medan AKBP Martuasah Tobing, Kanit Jahtanras Iptu Yunan. Semoga Allah SWT melimpahkan Rahmad dan hidayahnya,  kepada seluruh Personil Polrestabes Medan dan Polsek Percut Seituan.
“Salam hormat kami dari  seluruh Keluarga” Alm Fitri Yanti” karena sudah berhasil mengungkap kasus pembunuhan yang dialami adek kami, Fitry. Dengan haru Yeny dan Eva disamping anak-anak korban menangis, melihat rekontruksi tersebut, kerna menurut Eva perbuatan tersangka sangat keji, kejam, kerna adek kami dibunuh seperti membunuh binatang saja, ujarnya.
Ketika ditanya wartawan tentang pra rekontruksi ini, Eva menjawab, bangga dan sedikit agak kecewa dgn pihak penyidik kerna tidak ada memberitahukan kepada kami keluarga padahal kami mau melihat bagaimana aksi tersangka ketika menghabisi Nyawa adek kami.
Kami tau pasti dgn adek kami ini, selama perkawinannya dgn tersangka ini tidak pernah merasa bahagia, Alm dijadikan pemuas nafsu, dijadikan ATM, mulai dari ngontrak rumah, makan sehari-hari nya, bahkan pakaian tersangka korban yang membelikannya.
Kami keluarga kecewa berat dengan pengakuan tersangka kepada penyidik yang mengatakan motif pembunuhan itu karena tersangka sakit hati korban mendesak minta dibelikan rumah dan memaki2nya.
Ini sangat tidak masuk akal apa yang disampaikan nya ini, kerna kami tau benar, mulai dari makan sehari-harinya saja korban yang menanggung, Adek kami dijadikan sapi prah oleh tersangka, apa bila tidak dipenuhi permintaan nya oleh korban.
Tersangka langsung memukul dan memaki-maki korban dengan kata2 kotor. Adek kami ini tidak pernah melawan tersangka walaupun berulang kali dipukul dam dianiaya. Bahkan uang korban hasil jenis payahnya senilai puluhan juta yang akan digunakan untuk membeli sebuah rumah itupun diambil oleh tersangka, dari mana jalannya adek kami meminta berikan rumah kepada tersangka. Sedangkan hidupnya saja bergantung kepada korban.
Yeni S.ag sedikit menceritakan tentang pernikahan korban dgn tersangka, terus terang pernikahan mereka penuh kebohongan, mengaku duda sambil menunjukan surat cerainya dgn keluarga. Yang menjadi haru pada waktu itu dia mengatakan kalau semua pakaiannya dibuang sama istri tuanya, mendengar hal itu oleh adek saya diberikan tas untuk mengambil pakaiannya, bahkan dibelikan Baju, sepatu untuk melakukan akad nikah.
Kebohongan tersebut tidak lama terbongkar, kalau seluruh surat yang diberikannya kepada keluarga korban semuanya palsu. 3 bulan lebih kurang korban diserang habis2an, dimaki-maki nyaris terjadi penganiayaan oleh istri tua, anak2 dan menantu tsk ikut menghujat korban dirumah orang tuanya di Jln Bromo, Gang Bahagia. Kel Ts II, Medan Area.
Tidak sampai disitu penderitaan korban berkelanjutan, korban diserang oleh istri tuanya dengan anak-anaknya. Hingga dianiaya oleh anak kandung Tsk bernama Mutia ketika berjualan di Pasar Halat Medan ada LP nya di Polsek Medan Kota. Kemudian Korban diajak pindah ke Jambi oleh tersangka juga dianiaya habis2an oleh tersangka, di Jambi ini juga ada LP nya di Polres Jambi.
Namun sangat disayangkan kedua LP polisi kasus penganiayaan tersebut tidak satupun yang di proses polisi. Ujar. Yeny dengan air mata berlinang, kami keluarga meminta kepada pihak kepolisian dan jaksa nanti agar memberikan hukuman mati kepada Pembunuh sadis ini, hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa, ujarnya sambil menangis, begitu juga anak sulung korban, Rani meminta agar tersangka dihukum seadil-adilnya, sampai kapanpun kami akan kejar sipembunuh orang tua kami ini, hutang nyawa harus dibayar nyawa, apa yang sudah diberikan orang tua saya kepada tersangka ini cukup menyayat hati kami adek beradik, mulai dari makan, uang yang dipakainya dan lain2nya, kami tidak Rela sama sekali dimakan oleh Pembunuh mama kami, dengan isakan tangisnya. Sambil mamanggil2 mamanya.(W05)
Loading...