Pengadaan Kendaraan Operasional Bank Sumut Senilai Rp 18 Miliar

MEDAN|SUMUT24

Akhirnya Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) membeberkan nama para tersangka kasus pengadaan kendaraan operasional Bank Sumut senilai Rp 18 miliar yang bersumber dari Rencana Anggaran Kerja (RAK) tahun 2013 kerugian negara diperkirakan mencapai Rp 4,9 milar.

Penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejatisu, dalam kasus ini menetapkan lima tersangka dalam kasus ini. Kelima tersangka berinsial IP Kepala Divisi Bank Sumut, MY mantan Direktur Operasional Bank Sumut yang kini menjabat sebagai Pimpinan Cabang (Pimcan) Bank Sumut, Z Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), JS Ketua Panitia Pengadaan dan HAK selaku rekanan.

“ Ada sebanyak lima tersangka kasus ini. Empat dari pihak Bank Sumut dan satunya lagi dari rekanan,” ungkap Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejatisu, Asep Mulyana didampingi Kepala Seksi Penyidikan (Kasidik) Kejati Sumut Novan Hadian saat dikonfirmasi, Senin (13/6) sore.

Dia menjelaskan penetapan kelima tersangka yang diajukan tim penyidik berdasarkan hasil keputusan yang diambil pihak Kejatisu setelah Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajatisu) menyetujui nama-nama tersangka yang diajukan tim penyidik.

“Berdasarkan hasil ekspose Rabu kemarin bersama Pak Kajati, kami mengusulkan nama-nama para tersangka ini dan langsung disetujui,” jelas Asep.

Adapun alasan kuat pihak Kejatisu menetapkan kelima tersangka dalam kasus ini setelah menemukan adanya beberapa penyimpangan yang dilakukan para tersangka. Seperti, spesifikasi kendaraan operasional yan tak sesuai, surat perintah kerja (SPK) yang dibuat sebelum kontrak dilakukan serta proses pembayaran yang menyalahi aturan.

“Indikasi penyimpangannya, pertama bahwa kami menemukan kendaraan yang disampaikan itu tidak sesuai dengan spek. Yang kedua, adanya surat perintah kerja (SPK) yang dibuat sebelum ada kontrak. Selain itu, kami lihat juga proses pelelangannya dan mekanisme pembarayannya yang tidak sesui dengan ketentuan yang ada,” tuturnya.

Sementara ketika ditanyakan hasil audit yang dilakukan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Sumut untuk menghitung kerugian negara, Asep menyebut kini tengah dalam tahap penyelesaian.

“Masalah audit, jaksa pada saat ini sudah mengumpulkan bukti-bukti pendukung terutama yang diminta auditor (BPKP) dalam rangka menghitung kerugian negara itu. Sekarang dalam tahap finalisasi,” ungkapnya.

Kendati demikian, Asep tak dapat memastikan kapan audit kerugian negara selesai dihitung karena sejatinya proses penghitungan tersebut bukan merupakan kewenangan pihak Kejatisu.

“Saya tidak dapat memastikan kapan, karena bukan kerjaan saya itu. Kalau ditanya kapan selesainya, saya gak bisa jawab. Kami hanya mengusulkan dan meminta auditor untuk menghitung kerugian negara saja. Mudah-mudahan dalam waktu dekat segera selesai,” bebernya.

Asep menambahkan, setelah hasil audit kerugian negara selesai dihitung, pihak Kejatisu segera melakukan pemberkasan untuk kelima tersangka untuk segera dilimpahkan untuk menjalani proses persidangan.

“Kami tetap akan menunggu hasil audit ini dulu selesai dihitung. agar para tersangka ini kami siapkan berkas dan segera dilimpahkan,” katanya.

Sementara itu, Kasidik Kejatisu, Novan Hadian mengatakan setelah ditetapkan tersangka terhadap lima petinggi Bank Sumut sudah menjadwalkan pemeriksaan terhadap lima tersangka pada pekan ini.

“Sudah kita layangkan pemanggilan untuk hari Kamis (16/6) besok. Pemanggilan untuk seluruh tersangka,” jelasnya.

Diketahui, Penyidik sudah memeriksa Zulkarnaen selaku Penjabat Pembuat Komitmen (PKK) di Bank Sumut seperti M Yahya mantan Direktur Operasional Bank Sumut yang kini menjabat sebagai Pimpinan Cabang (Pimcan) Bank Sumut; Lubukpakam, Edie Rizliyanto selaku Direktur Utama (Dirut) Bank Sumut; dan Ester Ginting Direktur Pemasaran Bank Sumut.

Dalam kasus ini, pengadaan 294 unit kendaraan operasional dinas di Bank Sumut diduga dikorupsi sehingga merugikan negara berkisar Rp3 miliar. Terdapat enam jenis mobil mewah dalam pengadaan kendaraan dinas itu, yakni Camry, Pajero Sport, Innova, Toyota Rush, Avanza dan Xinea. (W05)