Murid SMPN 2 Silau Jawa, BP.Mandoge Belajar di Lantai, Dinas Dikjar Kabupaten Asahan Tutup Mata

 

ASAHAN I SUMUT24.co

Terkait Murid SMP Negeri 2 Silau Jawa, Bandar Pasir Mandoge belajar dilantai, Dinas Pendidikan dan Pengajaran (Dikjar) diduga tutup mata.

Perihal ini sudah pernah dikonfirmasi awak media ke Dinas Dikjar Kab.Asahan yang diterima oleh Mursaid selaku Kabid yang membawahi SMP se-Kabupaten Asahan, pada 06 September 2022 yang lalu, kepada awak Media Mursaid menjelaskan jika Zahrilla, S.Ag selaku Kepala Sekolah SMPN 2 Silau Jawa sudah dipanggil ke Dinas Dikjar Kab.Asahan dan dimintai keterangannya, dan menurut Mursaid kondisi saat ini sudah berubah, semua anak didik yang mengikuti mata pelajaran Agama sudah duduk dibangku.

“Saat ini semua anak didik di SMPN 2 Silau Jawa BP Mandoge sudah bisa mengikuti mata pelajaran Agama dengan duduk di kursi, namun kami memang belum sempat melihat langsung dikarenakan jarak tempuh yang lumayan jauh,” ungkap Mursaid.

Membuktikan kebenaran ucapan dari Mursaid selaku Kabid Dinas Dikjar Kab.Asahan yang membawahi SMP se-Kabupaten Asahan, awak Media melakukan croschek langsung ke SMPN 2 Silau Jawa BP Mandoge Kabupaten Asahan, Rabu (14/09/2022) sebelumnya awak Media sudah mendapatkan informasi dari para orang tua murid yang mengatakan jika anak-anaknya masih tetap belajar di lantai saat mengikuti mata pelajaran Agama.

Sesampainya di SMPN 2 Silau Jawa, BP Mandoge sekitar pukul 10.30 WIB keadaan sekolah sudah sepi sebab ujian, sehingga anak didik pulang lebih awal, dan awak Media langsung menjumpai guru yang sedang duduk di bangku piket, diterima dengan sangat tidak ramah oleh guru yang mengaku sebagai guru mata pelajaran Bahasa Inggris yang menolak menyebutkan namanya dan menolak ketika dimintai tolong supaya menelepon Kepala Sekolah (Kepsek) karena posisi Kepsek sedang tidak hadir saat itu di sekolah.

“Saya tidak berani berikan izin ke bapak sesuai pesan Kepsek kepada saya, dan saya cuma menjalankan perintah dari atasan saya, dan kalau untuk menelpon Kepala Sekolah untuk memberi informasi ke beliau jika orang bapak mau chek bangku ke kelas dan ruangan belajar Agama, saya tidak ada nomor telepon Kepala Sekolah,” ucapnya dengan sinis.

Namun tidak berselang lama ternyata Zahrilla, S.Ag yang merupakan Kepala Sekolah menghubungi awak Media, dan setelah awak Media menjelaskan maksud dan tujuannya berada di SMPN 2 Silau Jawa BP Mandoge, Zahrilla, S.Ag menjawab jika kursi plastik masih ada di Kisaran, karena belum ada mobil yang bisa mengangkatnya, dan meminta supaya handphone awak Media diserahkan guru piket.

“Bu bilang sama Wartawan itu jika Kursi plastik memang sudah ada dan karena belum ada mobil yang bisa mengangkatnya maka sampai dengan saat ini kursi belum bisa dibawa ke Silau Jawa, dan sampaikan juga jika sekarang anak-anak saat mengikuti mata pelajaran Agama membawa kursi dari kelas masing-masing, tegaskan ke wartawan itu jika yang diangkat anak-anak ke ruangan Agama cuma kursi bukan ikut mejanya,” pesan Kepsek kepada guru piket nya.

Namun setelah dilakukan pengecekan ke ruangan kelas, kita sebagai orang sosial’ kontrol sangat prihatin dengan keadaan kursi dan mejanya yang dengan keadaan reot dan keropos, namun baru dua kelas yang awak media masuki, sang guru piket yang sudah marah dan berkata, “lho pak katanya cuma mau ngecek ruang Agama tapi koq masuk ke ruangan kelas yang lain, yah gak bisa gitu lah pak,” ucapnya dengan nada ngengas.

Setelah memasuki ruangan Agama ternyata keadaannya lebih memprihatinkan, yang didapat di ruangan Agama cuma ada 2 meja dan satu kursi saja, sang guru yang mendampingi awak Media hanya bisa mengatakan “yah kan anak-anak membawa kursi dari ruangan kelasnya ke ruangan Agama ini pak,” namun saat disinggung jadi bagaimana anak-anak menulis kalau tidak ada mejanya, sang guru pun menjawab”ada pak cuma tadi mejanya dipinjam untuk keruangan sebelah,” ucapnya.

Menyikapi hal temuan awak Media di sekolah SMPN 2 Silau Jawa BP Mandoge, para orang tua murid pun meminta kepada awak Media supaya membantu sekolah anaknya agar bisa mendapatkan perhatian dari Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Asahan dengan lebih serius sebab murid atau siswa/i adalah generasi bangsa. (tec)