Monza Dilarang, Monza Diburu

MEDAN|SUMUT24
Monza sangat akrab di kalangan warga Sumatera Utara, Medan khususnya. Monza sebutan untuk pakaian bekas impor.

Konon monza adalah singkatan dari Mongonsidi Plaza yang terinspirasi dari Jalan Mongonsidi Medan Polonia Kota Medan.

Di Jalan Mongonsidi tersebutlah dulu pusat penjualan pakaian bekas impor yang tidak terbatas hanya bagi kalangan warga bawah, tetapi juga orang kaya Medan yang ingin mencari pakaian luar negeri dengan merk ternama.

Monza kemudian popular sebagai sebutan pengganti untuk pakaian bekas impor.

Belakangan Pasar Monza bukan hanya terpusat di Jalan Mongonsidi Medan namun sudah bergeser ke sejumlah titik sepeti Pasar Sambu, Pusat Pasar, Pajak Melati yang hingga kini masih konsisten.

Selain di Medan,pasar monza sudah meluas ke berbagai daerah di Sumatera Utara. Awalnya pasokan monza datang dari Tanjung Balai Sumatera Utara yang kemudian mulai redup setelah adanya larangan impor pakaian bekas.

Namun pasokan monza tak pernah dapat berhenti setelah pintu masuk di Tanjung Balai ‘tertutup’ pasokan datang dari pelabuhan di kawasan timur Jambi.

Di Medan, pasar moza masih menjadi incaran bagi masyarakat baik dari kalangan muda maupun tua.

Berbagai lapak penjualan pakaian bekas tersebut sudah hampir tersebar di sejumlah titik di Kota Medan.

Selain harganya murah, masyarakat juga mengaku pakaian monza yang dijual oleh beberapa pedagang memiliki khualitas yang cukup baik dan bisa tahan lama karena banyak yang bermerek asli tanpa harus beli baru.

Walaupun masih ada polemik antara para padagang monza dengan peraturan pemerintah yang melarang perdagangan monza. Namun sejatinya banyak masayarakat yang justru gemar dan lebih mengincar monza dibandingkan harus membeli pakaian baru yang tentu harganya berbanding jauh.

Pasar monza bukan hanya terbatas bagi pakaian tetapi juga sepatu, topi, jaket, termasuk juga pakaian dalam impor bermerek bahkan bra dan kutang.