MERDEKA WALK ‘THE LOST ICON’

Medan, Sumut24.co
Merdeka Walk, berawal dari gagasan Walikota Medan ke-14 Abdillah yang menginginkan adanya pusat kuliner di inti kota untuk menghidupkan suasana malam Kota Medan.
Kala itu, Abdillah yang berlatar pengusaha baru saja memenangkan Pilkada langsung dan terpilih untuk memimpin kembali Kota Medan periode kedua.

Di masa itu, Abdillah memang dinilai cukup fenomenal dalam mengembangkan kota. Ia getol merevitalisasi taman yang ada sehingga menjadi “paru-paru” kota, pusat kebugaran dan destinasi wisata. Apalagi aneka bunga dan pohon penghijauan dilengkapi air mancur serta lampu-lampu hias berwarna-warni menghiasi taman dan jalanan, membuat Kota Medan hijau dan terang benderang di malam hari.

Tak sia-sia memang perhatian yang ia berikan dan secara cepat taman-taman kota seperti Taman Sri Deli, Taman Teladan, Taman Ahmad Yani, Taman Sudirman, Taman Gajah Mada, Taman Lapangan Merdeka, Taman Cadika dan lainnya yang semula tak terawat, kumuh bahkan kerap menjadi “markas” gelandangan pengemis, secara radikal berubah menjadi pusat olah kebugaran tubuh dan destinasi wisata warga kota.

Tak mengherankan jika sejumlah pihak termasuk jurnalis melabeli Abdillah sebagai “Wagiman” alias Walikota Gila Taman.
“Kegilaannya” akan taman itu jugalah yang menyelamatkan salah satu tempat bersejarah Taman Sri Deli, tak jadi berubah fungsi menjadi ruko.
Di awal tahun 2003, Taman atau Kolam Sri Deli oleh pihak swasta yang telah membeli lahan tersebut mulai melakukan pekerjaan untuk membangun ruko di atas lahannya.

Wali Kota Abdillah dengan persetujuan DPRD Medan kemudian mengalokasikan anggaran APBD untuk pembelian Taman/Kolam Sri Deli yang merupakan bagian sejarah Kesultanan Deli.
Selamatlah aset bersejarah itu dan kini menjadi taman milik pemerintah kota dan sebelum masa pandemi covid, difungsikan sebagai tempat pagelaran Ramadhan Fair.

Nah, untuk menghidupkan giat perekonomian di malam hari melalui pusat kuliner kota, Abdillah kemudian meluncurkan 2 destinasi kuliner yakni Merdeka Walk di Lapangan Merdeka dan Kesawan Square di kawasan Jl Ahmad Yani.

Dalam perjalanannya, Kesawan Square yang punya konsep kuliner out door ternyata tak langgeng. Fasilitas yang tak memadai untuk tetap membuat pengunjung nyaman makan dan minum di segala cuaca, menjadi kendala sehingga Kesawan Square yang dikelola PT Star, hanya beroperasi beberapa tahun saja.

Sedangkan Merdeka Walk beroperasi dengan konsep out door dan in door. Dengan pengelola PT Orange Indonesia, Merdeka Walk tetap survive bahkan tak hanya sebatas pusat kuliner, melainkan sudah menjadi ikon kota.

Dari pagi hingga malam hari, ribuan pengunjung, baik dari luar kota Sumut bahkan turis mancanegara menyinggahi Merdeka Walk, tak sekadar makan dan minum tetapi ingin merasakan sensasi duduk di salah satu ikon kota, yang berada persis di titik nol Kota Medan.

Meski makanan dan minuman di Merdeka Walk tergolong tak murah, tetapi juga tak tergolong “high class”. Bisa disebut kelas menengah, sehingga masih bisa dijangkau.

Abdillah sendiri punya salah satu pemikiran menetapkan Merdeka Walk di sisi Lapangan Merdeka untuk menata tamannya yang di masa itu kerap menjadi lokasi parkir atau “ngetem” taksi gelap.

Merdeka Walk yang mulai resmi beroperasi Mei 2005 untuk masa 20 tahun hingga Mei 2025, ternyata sudah harus tamat riwayatnya sebelum masa kontrak berakhir.
Merdeka Walk tinggal kenangan menjadi “lost icon”.

Walikota Medan Bobby Nasution telah memutuskan akan merevitalisasi Merdeka Walk dan mengembalikan fungsi Lapangan Merdeka sebagai RTH (Ruang Terbuka Hijau) serta pusat kegiatan rakyat.
Sebelumnya juga Gubsu Edy Rahmayadi sudah terlebih dahulu meminta agar Lapangan Merdeka difungsikan seperti sedia kala dan Merdeka Walk ditutup.

Sebagai gantinya, Pemko Medan akan merevitalisasi kota tua Kesawan menjadi pusat kuliner. Bobby bahkan punya obsesi keberadaan Kuliner Kesawan menjadi ikon baru dengan sebutan Medan Kitchen Of Asia.

Kita nantikan apakah label Merdeka Walk sebagai Hottest Hang Out in Medan dan Hottest Spot in Medan bisa tergantikan, atau bahkan lebih baik lagi?
Kita nantikan.(red/suwandi purba)