Mendagri Apresiasi Launching Gerakan 2 Juta Masker Di Kota Depok

182
DEPOK | SUMUT24.co
Guna menekan penyebaran virus Corona (Covid-19) khususnya di Indonesia, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian kembali melaunching gerakan 2 juta masker yang dilaksanakan di Aula Kecamatan Tapos, Kota Depok, Jawa Barat, Kamis (13/08/2020).
Gerakan tersebut diapresiasi Mendagri sebagai salah satu upaya inisiatif dari Walikota Depok Mohammad Idris bersama TP-PKK Kota Depok dalam menangani pandemi Covid-19.
“Sekali lagi pak Walikota terima kasih banyak, Ibu terima kasih banyak atas acara ini. Ini membesarkan hati saya untuk gerakan nasional ini akan makin bergulir dan spesifik untuk Depok juga ya inilah jalannya. Inilah jalan untuk memperbaiki menahan laju penularan,” tuturnya.
Adapun berdasarkan hasil tinjauan letak geografis wilayah Depok yang tidak strategis dan jumlah kepadatan penduduk yang relatif tinggi menyebabkan penanganan covid-19 di wilayah tersebut menjadi cukup sulit. Salah satunya ialah kesulitan dalam melakukan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).
Sehingga, Pemda perlu melakukan kebijakan lain yang sesuai dengan karakterisitik wilayahnya masing-masing dalam penanganan Covid-19.
“Tadi di dalam ruang sebelum acara ini, sudah sempat kita sampaikan dalam diskusi ngobrol-ngobrol bahwa untuk Depok ini tidak gampang, karena dia disamping karakter Depok sendiri dengan luas wilayah yang relatif tidak terlalu luas, tetapi tingkat kepadatan penduduk sangat tinggi hampir 2 juta penduduk. Nah disisi lain juga ada permasalahan geografi, kita tahu tidak ada batas alam yang memisahkan Depok dengan wilayah sekitarnya,” ujarnya.
Oleh sebab itu, salah satu langkah terbaik yangdapat disarankan oleh Mendagri ialah dengan melakukan proteksi perorangan. Ada empat cara proteksi perorangan secara universal dalam menghadapi pandemi covid-19 ialah :
“Satu pakai masker, dua adalah cuci tangan, yang ketiga jaga jarak, keempat menghindari kerumunan sosial. Easy to talk but difficult to implement, mudah mengatakan melaksanakannya sulit,” imbuhnya.
Mendagri juga menyampaikan agar daerah-daerah yang dikategorikan zona merah seperti Depok agar sebaiknya memiliki Lab khusus sehingga memiliki kemampuan untuk melakukan tes covid-19 secara proaktif, sehingga hasilnya dapap dievaluasi dengan pengambilan kebijakan secara tepat.
“Supaya kita tahu siapa yang positif atau negatif untuk melakukan karantina, dipisahkan, yang kedua bisa melakukan penyerangan yang lebih agresif di daerah itu, penyerangan apa? ya mulai hidup sehat, kampanye PKK. Kemudian penerapan protokol, sehingga penerapan protokol yang paling utama adalah masker,” terangnya.
Mendagri juga mendorong Pemda untuk melakukan penelitian secara cepat agar mengetahui akar permasalahan warga Depok masih kurang paham terhadap fungsi dan penggunaan masker. Ia berharap ada sosialisasi baik secara door to door maupun melalui media konvesional/media sosial.
“Hipotesis saya dua, tidak mau pakai karena dia tidak mengerti buat apa ini masker, saya mengalami, istri saya mengalami, ada juga yang tau tetapi mengganggu, tidak terbiasa dengan kebiasaan baru, terganggu. Nah kita harus buat ini supaya tidak mengganggu bagi dia. Ini adalah kebutuhan untuk melindungi dia, jadi masker ini penting sekali pakai, bagaimana masyarakatnya bisa mau memakai, ini sosialisasi,” terangnya.
Selain itu, menurutnya penggunaan masker ini dapat menekan kurva turunnya penyebaran covid-19 sampai dengan 50%-60%. Oleh sebab itu, berbagai upaya sosialisasi yang dapat dilakukan baik melalui struktur pemerintahan, ormas, tokoh-tokoh agama maupun local wisdom yang ada di Depok untuk mendorong masyarakat terhadap disiplin protokol kesehatan.
“Kemudian juga disini ketokohan agama itu sangat kuat sekali, gunakan juga jalur undang tokoh agama berikan spesifik penjelasan terkait ini juga penjelasan korban-korban yang ada. Local wisdom, dibeberapa daerah juga efektif menggunakan jalur wayang. Nah ini yang kita harapkan bisa dikerjakan di Depok ini, sekali lagi ini tidak gampang. Ini sudah heterogen cosmopolitan campur dengan wilayah yang masih kumuh, ada yang middle-class, ada yang low-class yang masih banyak,” jelasnya.(red)
Loading...