IDI Sumut Ikut Pusat, Tolak Eksekutor Hukuman Kebiri Kimia

Medan | Sumut24

Pasca Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menolak menjadi eksekutor hukuman kebiri kimia bagi pelaku kejahatan seksual pada anak. IDI Provinsi Sumatera Utara (Sumut) menyarankan agar si pelaku diberi hukuman mati dengan alasan, hukuman kebiri kimia itu bukanlah suatu penyelesaian efek jera.

“Kita satu suara dengan IDI pusat untuk menolak menjadi eksekutor. Kita lebih setuju pelaku dihukum dengan seberat-beratnya ataupun dihukum mati saja biar memberi efek jera. Hukuman kebiri kimia itu bukan suatu penyelesaian,” kata Ketua IDI Sumut melalui Sekretaris IDI Sumut dr Khairani Sukatendel SpOG kepada wartawan di Medan, Minggu (12/6).

Di sisi lain, kata dokter spesialis kandungan ini, dokter tidak bisa menjadi eksekutor karena pengabdian kepada prinsip profesi kedokteran yang tidak membeda-bedakan pasien. “Hukuman kebiri kimia ini memaksa dokter untuk menyakiti manusia, sedangkan dokter tidak pernah diajarkan untuk menyakiti. Padahal, tugas dokter untuk mengobati orang yang sakit agar kembali sembuh,” ujarnya.

Khairani mengatakan penyelesaian kejahatan seksual ini dapat diselesaikan dengan dilakukannya secara komprehensif oleh semua pihak. Pelaku kejahatan seksual kepada anak masih kebanyakan usia anak remaja. Dimana anak remaja itu melakukannya disebabkan beberapa faktor seperti pengaruh minuman keras (miras), narkoba, suka menonton film ataupun melihat foto pornografi serta pendidikan moral sekarang dinilai lemah.

“Mereka bisa saja melakukan itu karena pengaruh minuman keras, narkoba, mudah mengakses film atau foto pornografi dari media sosial (medsos) serta pendidikan moral kepada anak sekarang itu lemah. Banyak orang tua yang tidak bisa memberikan panutan moral kepada anaknya baik di rumah, sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal. Itulah penyebab utama yang harus diberantas habis oleh pemerintah, orang tua dan guru,” ungkapnya.

Menurut Khairani, bila anak remaja setiap hari mengakses film ataupun foto pornografi, meminum minuman keras, memakai narkoba dan pendidikan moral tidak diberikan, sudah tentu otaknya rusak seperti orang yang sudah kecanduan narkoba berat. “Pada intinya, anak-anak sekarang sudah menjadi korban jaman moderen,” pungkasnya. (W04)