Hukum Pelaku Seberat – beratnya | Ayah Kawin Lagi, Anak jadi Sasaran “Sansak” Ibu Tiri

SIDIMPUAN | SUMUT
Kekejaman ibu tiri kembali terjadi di Kota Padang Sidimpuan. Adalah Rifaldi Sihombing (10) warga Jalan Sutan Sori Padamulia Gang Serasi X Kelurahan Sadabuan Kecamatan Padang Sidimpuan Utara menjadi korban kekejaman Suryani Ritonga yang tak lain ibu tirinya. Parahnya, akibat aksi sadis Suryani tersebut sekujur tubuh korban penuh dengan luka lebab bekas cubitan, tamparan dan tendangan Suryani.
Informasi yang dihimpun di Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak Yayasan Burangar yang berada di Jalan Danau Lau Kawar Kota Padang Sidimpuan, Kamis (28/7) siang, terkuaknya aksi sadis Suryani tersebut lantaran wali kelas 5 SDN 200118 Batang Ayumi Julu, Elvi Khairani melihat luka lebam dibagian wajah Rifaldi kala aktivitas belajar mengajar sedang berlangsung, Rabu (27/6) pagi. Melihat hal tersebut, Elvi pun menanyakan siapa pelaku yang menyebabkan luka yang ada di wajah muridnya tersebut.
Dengan polosnya, Rifaldi pun mengaku luka lebam pelipis kanannya dan luka di daerah telinganya tersebut bekas siksaan Suryani. Mendengar pernyataan sang murid tersebut, Elvi pun menanyakan bagian mana lagi menjadi siksaan Suryani.
Kala itulah, Rifaldi pun mengatakan bagian dada, perut, pinggang dan punggungnya. Atas pernyataan polos Rifaldi tersebut, Elvi pun meminta kepada Rifaldi guna membuka bajunya.
Alangkah terkejutnya Elvi kala itu melihat bagian sekujur tubuh korban dipenuhi luka lebam berwarna biru akibat cubitan. Alhasil, Elvi pun tak dapat berkata apa-apa melihat apa yang ada dihadapannya.
Atas apa yang telah dilihatnya tersebut, Elvi pun kemudian menceritakan kepada para guru SDN 200118 Batang Ayumi. Akibatnya, aksi Suryani pun menjadi buah bibir di sekolah tersebut. Oleh guru, kejadian tersebut pun kemudian dilaporkan ke Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak Yayasan Burangir.
Kepada SUMUT 24, Kamis (28/7) siang, Direktur Eksekutif Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak Yayasan Burangir, Fitri Leniwati Harahap mengatakan, pihaknya telah melaporkan kejadian tersebut ke Polres Kota Padang Sidimpuan. Hal tersebut dibuktikan dengan memperlihatkan bukti laporan polisi nomor STPL/337/VII/2016/SU/PSP tanggal 27 Juli 2016.
“Kejadian yang menimpah Fadli (sapaan Rifaldi) ini telah kita laporkan ke polisi. Ini sesuai dengan nomor laporan polisi STPL/337/VII/2016/SU/PSP tanggal 27 Juli 2016,” ujarnya.
Lebih lanjut, perempuan yang menggenakan kerudung tersebut mengatakan, pihak kepolisian juga telah memvisum bekas penganiayaan yang ada di tubuh Fadli. Pemisuman tersebut dilakukan petugas kepolisian di Rumah Sakit Umum Kota Padang Sidimpuan.
“Kita telah menunggu hasilnya saja. Selain itu juga, pihak kepolisian juga telah mengambil keterangan korban,” pungkasnya.
Kemudian, Fitri mengatakan, penganiayaan yang dialami Fadli tersebut telah berlangsung selama 1 tahun. Hal tersebut diketahuinya dari keterangan yang diutarakan Fadli dengan polosnya.
“Penganiayaan ini sudah setahun dialaminya, mulai dari dia kelas 4 SD sampai kelas 5 SD. Itu yang diceritakannya kepada kami,” ujarnya.
Kemudian, Fitri mengatakan, dari keterangan Fadli juga diketahui aksi penganiayaan tersebut terjadi lantaran korban tidak sesuai mengerjakan pekerjaan rumah sebagaimana yang diharapkan Suryani. “Selain melakukan pekerjaan rumah, Fadli juga harus menjaga 3 adik tirinya yang masih berusia 6 tahun, 4 tahun, dan satu setengah tahun. Kan tidak mungkin anak seusianya bisa bekerja secara maksimal seperti orang dewasa,” bebernya.
Selain itu, Fitri mengatakan, aksi penganiayaan yang dilakukan Suryani tersebut selain mencubit, pelaku juga melempar benda-benda keras seperti gelas dan ember. “Bahkan, pelaku juga tak segan-segan menendang kepala korban. Lihat saja, telinganya masih berdarah,” ujarnya.
Kemudian, Fitri mengatakan, sebelum tinggal bersama pelaku korban tinggal tinggal bersama opungnya di asrama polisi polres yang berada di Sitataring pasca ayahnya, Abdul Rahman Nasution menikah dengan Suryani kala korban berusia 3 tahun.
“Dari usianya 3 tahun, dia tinggal bersama opungnya di asrama polisi Sitataring. Soalnya, kala itulah ayahnya menikah dengan ibu tirinya yang merupakan PNS di Kota Padang Sidimpuan,” ungkapnya.
Fitri juga mengatakan, korban tinggal bersama Suryani lantaran opungnya pindah ke Sipirok. “Opungnya sekarang di Sipirok. Tinggal bersama saudara ayahnya. Sejak itulah dia tinggal bersama ayahnya dan ibu tirinya. Ini berdasarkan pengakuannya,” terang Fitri.
Lebih lanjut, dia mengatakan, ayah korban juga mengetahui apa yang telah dilakukan Suryani terhadap korban. Namun, lantaran peran Suryani merupakan PNS sedangkan ayahnya merupakan kepala tukang menjadi alasan tidak dapat berbuat apa-apa.
“Ayahnya hanya bisa mengatakan supaya korban bersabar. Nanti setelah korban tamat SD, ayahnya menjanjikan akan menyekolahkannya ke pesantren,” ucapnya.
Melihat korban yang mengalami trauma cukup parah, Burangir pun berancana mengembalikan psikolis korban dengan cara membawa korban ke psikolog. “Kita berencana membawa korban ke psikolog. Soalnya, saat ini korban mengalami trauma yang cukup parah,” ungkapnya.
Saat disinggung dimana keberadaan ibu kandung korban, Fitri mengaku tidak mengetahuinya. Pasalnya, korban juga tidak mengetahuinya.
“Kita tidak tahu dimana ibu kandungnya. Karna korban, juga mengaku tidak tahu. Setelah perceraian antara ibu kandungnya dan ayahnya, korban mengaku baru dua kali ketemu dan itu terjadi saat korban tinggal bersama opungnya serta disaat korban kelas 4 SD,” tuturnya.
Kendati demikian, Burangir berencana mencari alamat ibu kandung korban. Hal itu dilakukan, guna mengembalikan korban ke hak asuh ibunya.
“Disamping itu, kita juga harus melakukan pemantauan kepada korban selama dia dirawat bersama ibunya,” pungkasnya.
Sementara itu, Fadli yang saat diwawancarai mengaku, selama penganiayaan berlangsung, Suryani kerap menghardik korban supaya tidak melaporkan kejadian penganiayaan yang dialaminya. “Mamak selalu bilang, kalau aku nangis akan dipukuli lebih parah lagi. Makanya aku diam aja kalau dicubit, dipukul dan dilempar. Selain itu, mamak juga bilang jangan melapor sama siapapun. Kalau aku melapor, aku disebut mulut perempuan,” ujar Fadli terbata-bata.
Raut wajah korban tampak sangat ketakutan. Pasalnya, saat wawancara berlangsung korban kerap melihat ke depan pintu rumah.
“Mamak itu bang,” ungkapnya setiap melihat mobil melintas di depan kantor Burangir.
Namun, setelah berusaha ditenangkan pihak Burangir, Fadli pun kembali melanjutkan kisah yang dialaminya selama tinggal dengan Suryani. Dikatakannya, selama tinggal bersama Suryani dia memiliki tugas menyapu rumah, mencuci piring, dan menjaga 3 adiknya serta mandiin mereka.
“Kalau pagi, aku nyapu bang. Kerja ku di rumah, nyapu, cuci piring, dan jaga adik-adik. Kalau aku terlambat kerja, dan adik-adikku lasak aku dipukul, dicubit. Kadang, aku juga dilempar gelas, ember, sama ditendang bang,” ujarnya dengan polos sembari mempraktikkan cubitan yang dilakukan Suryani kepadanya.
Sadis memang apa yang dilakukan Suryani, pasalnya saat mencubit korban Suryani kerap menjepit kukunya di tubuh korban. Tak pelak, hasilnya pun membekas berwana biru di tubuh korban.
“Jumat kemarin, aku dicubit. Dan Rabu pagi sebelum sekolah aku ditendang. Itu karena lama siap makannya,” tuturnya.
Saat disinggung di kamar mana dirinya tidur, Fadli mengaku dia tidur di kamar gudang. “Aku tidur di gudang bang. Di rumah itu, ada 3 kamar. Satu kamar untuk ayah dan mamak, satunya lagi untuk adik. Dan yang satu lagi untuk gudang. Di gudang itulah aku tidur,” pungkasnya.
Kemudian, Fadli juga menuturkan, dirinya pernah melaporkan penyiksaan tersebut kepada tetangganya. Tapi sayang, tetangganya tak dapat membantunya.
“Pernah bang aku cerita sama uwak yang rumahnya disamping rumah. Tapi, ya tetap aja aku disiksa,” pungkasnya.
Bahkan, saat disinggung apa dirinya masih mau tinggal bersama Suryani, Fadli mengaku tidak. “Disini aja lah aku bang,” pungkasnya dengan mimik wajah ketakutan.
Terpisah, Anggota DPRD Kota Padang Sidimpuan, Timbul P Simanungkalit mengatakan, dirinya sangat mengapresiasi respon masyarakat yang telah melaporkan kisah penganiayaan yang dialami korban ke Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak Yayasan Burangir. “Salut kita atas respon masyarakat yang telah sigap melihat kejadian penganiayaan terhadap anak ini dan melaporkannya ke Burangir. Melihat hal ini, berarti masyarakat Sidimpuan peduli terhadap program yang telah dilakukan pihak Pemko Padang Sidimpuan terhadap perlindungan anak,” ucapnya.
Namun, dia sangat menyayangkan aksi penganiayaan yang dilakukan Suryani. “Sebab, pelakunya merupakan seorang PNS. Berarti ada apa-apa ini dengan kejiwaan pelaku. Karna, yang kita alami sebelumnya pelaku penganiayaan terhadap anak kejiwaannya terganggu,” pungkasnya.
Untuk mengantisipasi hal tersebut tidak terulang kembali, Timbul menyarankan Pemko Padang Sidimpuan terus melakukan sosialisasi UU Perlindungan Anak kepada masyarakat. Bahkan, jika perlu usai sosialisasi tersebut aparatur negara yang ada di pedesaan terus melakukan pemantauan.
“Ini supaya, program perlindungan anak tersebut berjalan dengan maksimal,” ujarnya.
Disamping itu juga, Timbul mengharapkan supaya petugas penegak hukum bekerja secara maksimal dalam kasus penganiayaan terhadap anak. “Kalau kita lihat dalam kasus Fadli ini, selain penganiayan. Pelaku juga dapat dijerat telah melakukan eksploitasi anak. Soalnya, diusianya yang masih 10 tahun tersebut dirinya harus mengerjakan pekerjaan rumah. Ini sudah salah, diusianya tersebut korban itu masih perlu bermain dan belajar. Bukan melakukan pekerjaan rumah,” pungkasnya. (dra)