Demosi di Daerah, Dipromosikan di Pusat, JAGA MARWAH Kecam Pengangkatan Nuryanti oleh Menaker Yassierli
Demosi di Daerah, Dipromosikan di Pusat, JAGA MARWAH Kecam Pengangkatan Nuryanti oleh Menaker Yassierli
kota
SIMALUNGUN I SUMUT24.co Abdurrahman Manik, pengelola kawasan tersebut mengatakan, dahulu di tahun 2000-an Taman Wisata Kera setiap bulannya ramai dikunjungi orang. Masyarakat menjadikan Taman Wisata Kera sebagai destinasi wisata lain sebelum ke Kota Wisata Parapat. Hal inilah yang menarik perhatian Pemerintah Kabupaten Simalungun untuk ikut serta mengelola kawasan tersebut.
Baca Juga:
Namun seiring dengan berjalannya waktu, Taman Wisata Kera ini mulai terabaikan dan kurang mendapat perawatan. Salah satu penyebabnya karena semakin minimnya masyarakat yang berkunjung. Imbasnya, kera-kera yang selama ini dimanjakan dengan makanan yang diberikan oleh pengunjung harus kehilangan makanannya.
“Makanya kita lihat sekarang ini banyak kera-kera yang turun ke jalan-jalan mencari makanan. Bahkan ada di antara mereka yang mati tertabrak. Kita kasihan, tapi juga tak bisa berbuat apa-apa karena tidak punya biaya untuk makanan mereka. Terkadang saya sama mamak harus kumpuli pisang atau roti-roti bekas dari pajak untuk kasih makan mereka,” ujar Abdurahman.
Padahal, lanjut Abdurrahman, setelah menggantikan peran ayahnya, Umar Manik yang mulai sakit-sakitan pada 2011, ia sangat berkeinginan untuk serius mengelola Taman Wisata Kera ini. Apalagi Taman Wisata Kera Sibaganding masuk kedalam Geo Area Porsea Geopark Kaldera Toba.
Abdurrahman sudah melekat betul dengan kawasan itu. Sewaktu Abdurrahman habis meniup tanduk kerbau, kera-kera pun satu-satu bermunculan. Ada yang datang dari pepohonan dan ada juga yang lewat jalanan semen yang kondisinya mulai terselimuti lumut.
Di antara mereka tampak seekor yang bertubuh besar dan bertaring tajam. Bawaannya tenang dan mata tajam lebar, memandang daerah sekitarnya. Sedangkan kawanan lainya tampak lebih agresif mendekati para pengunjung yang memegang bungkusan kacang tanah.
Ali Imron, Kepala Seksi Program dan Evaluasi Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli mengatakan kawasan wisata kera ini lebih dulu ada ketimbang wisata trekking, camping dan penangkaran gajah Aek Nauli.
Menurut Imron, kera-kera tidak seharusnya berada di pinggir jalan menuju Parapat. Kera selayaknya berada di hutan. Untuk itu, taman kera diharapkan dapat menjadi tempat kembali kera-kera yang berada di pinggir jalan itu. “Harapannya, kera dan monyet di pinggir jalan itu kembali ke hutan,” kata Imron.(W03)
Demosi di Daerah, Dipromosikan di Pusat, JAGA MARWAH Kecam Pengangkatan Nuryanti oleh Menaker Yassierli
kota
JAKARTA, SUMUT24.CO Mantan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi, Yudi Purnomo Harahap, menegaskan bahwa kepala daerah yang masih nekat mela
Hukum
Layanan Imigrasi Kunci Iklim Investasi Indonesia Kondusif
kota
Medan, Sumut24.co Nama Datok Afit kian dikenal sebagai salah satu master of ceremony (MC) profesional di Kota Medan. Kiprahnya dalam membawa
Profil
Polsek Padang Bolak Ungkap Kasus Curanmor, Pelaku Sempat Gadaikan Motor Hasil Curian
kota
Polres Padangsidimpuan Ungkap Kasus Curas Sadis, Pelaku Ditangkap Usai Lukai Korban dengan Parang
kota
sumut24.co MedanSuasana penuh kehangatan dan semangat persaudaraan mewarnai Halalbihalal Himpunan Masyarakat Pakpak (HIMPAK) Kota Medan Ta
kota
sumut24.co MedanOrganisasi Amatir Radio Indonesia (Orari) memiliki peran strategis sebagai mitra pemerintah dalam berbagai aspek, seperti
kota
sumut24.co MedanSosok MC profesional di Kota Medan kembali mencuri perhatian publik. Datok Afit, yang dikenal luas sebagai pembawa acara d
Profil
Polresta Deli Serdang Laksanakan Pengamanan Kejurnas Sprint Rally Trophi Gubernur Sumut di Sport Centre Batang Kuis
kota