Kamis, 26 Maret 2026

Menkopolhukam Kena Tikam, Shohibul: Standar High Maximum Security” Indonesia Sangat Lemah 

Administrator - Kamis, 10 Oktober 2019 14:15 WIB
Menkopolhukam Kena Tikam, Shohibul: Standar High Maximum Security” Indonesia Sangat Lemah 

MEDAN I SUMUT24 Terlepas dari kewajiban kita untuk mengutuk segala bentuk kekerasan dan kriminalitas di tanah air, saya mencatat beberapa hal dari kejadian penusukan terhadap Menko Polhukam Jenderal (purn) Wiranto siang tadi. Pertama, kejadian ini menunjukkan bahwa apa yang disebut sebagai “standar high maximum security” Indonesia itu sangat lemah. Bisa bertekuk lutut berhadapan dengan orang-orang amatiran. Ingat, Wiranto itu adaah figur yang berkedudukan sebagai salah seorang terdekat Presiden dengan otoritas penuh dalam bidang politik dan keamanan, ucap Pengamat Sosial dan Politik UMSU Shohibul Anshor Siregar kepada SUMUT24, Kamis (10/10). Menurutnya, Meski pun demikian, saya juga heran ketika dulu terjadi bom Sarinah, hanya dalam jarak waktu beberapa jam saja Presiden Joko Widodo sudah hadir ke tempat kejadian perkara tanpa alat pengaman sama sekali seperti rompi anti peluru dan sebagainya. Paradoksnya, Presiden Joko Widodo selalu terlihat memakai pengaman standar seperti helm dan rompi saat meresmikan beberapa proyek infrastruktur.

Baca Juga:

Kedua, kedua orang terduga pelaku, yakni SA alias AR dan FA binti S melakukannya seolah untuk tertangkap. Dari kejadian yang diberitakan media, kedua orang ini bukanlah orang terlatih sama sekali.

Ketiga, melihat nama-nama yang diidentifikasi sebagai terduga pelaku, apalagi dengan busana cadar si terduga peremuan itu, secara psikologis dengan mudah orang awam di Indonesia akan terdorong secara simplistis (semberono) menghubungkannya dengan umat Islam. Kelompok teror transnasional akan disebut-sebut untuk kejadian ini.

Kemudian tuduhan-tuduhan radikalisme, ekstrimisme, anti Pancasila, anti NKRI dan idiom-idiom peyoratif lainnya akan semakin disahkan untuk memojokkan umat Islam. Ini tidak boleh terjadi. Pihak berwenang silakan melakukan tugasnya agar masalah ini terungkap dengan sejelas-jelasnya.

Keempat, bisa saja tak sedikit orang di Indonesia yang pada saat transisi politik yang genting ini kerap merasa dongkol atas berbagai masalah dan respon yang diberikan pemerintah. Perasaan frustrasi itu dapat semakin bertambah karena ucapan-ucapan pejabat negara tertentu yang kurang menyejukkan.

Sama sekali tanpa bermaksud melebih-lebihkan, saya menduga saat ini di Indonesia banyak orang tidak puas, tetapi tak semua berani melakukan tindakan seperti kedua terduga penusukan atas Jenderal (purn) Wiranto itu. Karena itu pemerintah berkewajiban mendiagnosis akar masalah dan secara responsif melakukan perbaikan.

Masyarakat sebaiknya memandang kejadian ini dengan sikap percaya kepada pemerintah. Perbanyak istigfar dan di tengah kesulitan seberat apa pun, jangan lupa bersyukur, ucapnya. (W03)

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
beritaTerkait
PHR Zona 1 Jaga Operasi Produksi Tetap Aman dan Andal di Momen Lebaran
Apel Pagi Pasca Idul Fitri 1447 H, Rektor UNPAB Tekankan Semangat Kebersamaan dan Peningkatan Kompetensi
Jasa Marga Catat Lebih Dari 2,8 Juta Kendaraan melintas di Ruas Tol Regional Nusantara Hingga H+4 Idulfitri 1447H/2026*
Polda Sumut Bongkar Judol Jaringan Kamboja, Amankan 19 Tersangka
Polsek Medan Area Tangkap Residivis Pencurian Uang Digunakan untuk Beli Sabu dan Main Judi Online
Dukung Akses Warga, Polresta Deli Serdang Laksanakan Renovasi Jembatan Presisi Merah Putih Kuala Sabah
komentar
beritaTerbaru