MEDAN | SUMUT24
Munculnya akademisi maju di Pilgubsu 2018, seperti mantan Rektor Universitas Muslim Nusantara (UMN) Prof Dr Sri Susilawati SH MH dan Ade Sandrawati Purba, adalah sesuatu yang wajar saja untuk menjadi pemimpin di negara ini khususnya di Sumatera Utara.
Baca Juga:
“Saya kira, Susilawati dan Ade Sandra dilamar untuk jadi calon wakil gubernur Sumatera Utara (cawagubsu) dan berusaha meraih hal tersebut, sehingga mereka berdua akan bersaing sangat ketat nantinya,” ujar Pengamat Sosial Politik Shohibul Anshor Siregar kepada SUMUT24, Selasa (31/10).
Menurutnya, Susilawati dan Ade Sandra tergantung Cagubsu yang melamarnya. “Saya belum dapat kejelasan kecenderungan kemana mereka berdua merapat. Sebagai perempuan, mereka berdua akan menjadi daya tarik tersendiri. Mungkin mereka bisa berwacana tentang gender, juga perbaikan perlakuan budaya terhadap perempuan,” tegas Shohibul Anshor.
Sebetulnya figur perempuan lainnya masih ada Nurhajizah Marpaung yang sedang menjabat Wagubsu. Tapi saya tidak tahu apakah ia akan maju atau menghabiskan masa jabatannya.
Lebih lanjut dikatakan Sohibul, seperti Sri Mulyani Indrawati adalah akademisi berkualitas beraliran neolib yang direkrut menjadi anggota kabinet oleh Jokowi.
Sebelumnya juga menteri pada pemerintahan SBY. Berpengalaman dalam lembaga moneter internasional. Type akademisi teknokrat jarang kita temuai di Indonesia. Begitu juga Soekirman (Sergai) adalah dosen. Juga Saleh Harahap (Tapsel) Thamrin Munthe (Tanjung Balai).
“Saya tak melihat cara-cara akademisi yang menonjol dalam kinerja mereka menjalankan pemerintahan. Meneth Ginting pada jaman Orba pernah memimpin di Karo. Saya mengapresiasi kinerjanya disana, meski proses pengorbitannya berbeda dengan model sekarang,” ujar Sohibul. (W03)
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di
Google News