Gunawan Benjamin : Minyak Anjlok Bukan Jaminan Harga BBM di Indonesia Turun

MEDAN | SUMUT24
Pada hari minggu kemarin, fokus perhatian pasar ke agenda pertemuan sejumlah Negara penghasil minyak terbesar di muka bumi. Dimana mereka bertemu untuk membahas mengenai pembekuan produksi minyak, dengan harapan kebijakan tersebut akan membuat harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan.

Namun apa yang didapat justru sebaliknya. Tidak tercapai kesepakatan dalam pertemuan yang berlangsung selama 5 jam tersebut, membuat harga minyak dunia kembali terkoreksi. Pada perdagangan minyak pada hari ini saja harga minyak turun dikisaran $39 per barel.

Hal ini dikomentari ekonom Sumut Gunawan Benjamin,  menurutnya tidak butuh waktu lama lagi harga minyak mentah tersebut akan menutup gap yang pernah terjadi akibat kenaikan secara tiba-tiba sebelumnya. Dalam rapat tersebut kabar terkahir yang diberitakan adalah bahwa Arab Saudi justru akan mengancam menaikkan outputnya jika Iran bersikeras tidak akan membekukan produksinya.

“Ini merupakan perkembangan terkini yang bisa mengakibatkan harga minyak mentah terpuruk lebih dalam. Dan keterpurukan harga minyak mentah tersebut membuat sejumlah indeks bursa global mengalami penurunan yang sangat tajam,” katanya Senin (18/4).

Tren penurunan harga minyak mentah ini disisi lain juga berpeluang menciptakan penurunan sejumlah harga komoditas dunia. Termasuk harga komoditas yang dihasilkan oleh Sumut. Ini yang membahayakan. Selain akan mengakibatkan tekanan terhdap pasar keuangan global, potensi kinerja harga komoditas SUMUT yang turun berpeluang menciptakan sebuah kekuatiran akan terpuruknya harga komoditas kita ditingkat petani.

Namun dikatakannya, memburuknya harga minyak mentah tersebut bukan jaminan bahwa harga BBM kita akan kembali duturunkan nantinya. Karena sejauh ini pemerintah telah melakukan penyesuaian harga BBM dalam penurunan yang tidak besar.

“Nilai keekonomian BBM itu sendiri juga tidak pernah tercapai. Strategi pemerintah dalam mengendalikan harga BBM sepertinya tidak hanya terfokus kepada penurunan harga BBM dan nilai tukar saja. Sehingga saya menilai kalaupun nantinya harga minyak dunia bertahan dikisaran $30 hingga $35 perbarel, harga BBM kita tidak akan turun,”ujarnya.

Dengan kinerja harga minyak mentah yang sejauh ini diperkirakan akan berlanjut karena ketidakpastian kebijakan pembatasan produksi. Maka potensi penurunan harga BBM itu berpeluang terjadi di tahun 2016. Namun perlu dipastikan terlebih dahulu bagaimana kinerja harga minyak mentah dunia nantinya. Karena memang isu-isu yang berkembang seperti ini gampang sekali tertutupi dengan isu baru yang bisa saja membuat harga minyak berbalik arah.

Walaupun terjadi penurunan harga yang sangat tajam pada harga minyak mentah dunia. Dan mengakibatkan terpuruknya kinerja sejumlah indeks bursa saham di luar. Namun IHSG pada penutupan perdagangan hari ini mampu ditutup naik.

“Pada perdagangan hari ini IHSG naik 0.87% di level  4.865,534. Kinerja IHSG tertopang oleh sejumlah harga saham di sektor perbankan yang sebelumnya sempat terpuruk di pekan yang lalu. Sementar itu rencana pembentukan holding sejumlah perusahaan pertambangan BUMN mengakibatkan kinerja harga saham sektor pertambangan juga mengalami pemulihan,”ujarnya.

Hal yang sama juga ditunjukan oleh Rupiah. Pada penutupan hari ini Rupiah sedikit menguat di level 13.170 per US Dolar. Selama sesi perdagangan hari ini Rupiah sempat melemah di level 13.230 dan posisi terkuat di level 13.150 per US Dolar.(W04)