Gubernur BI Perry Warjiyo: 3 Makna Tersirat pada Peluncuran Buku KSK No.38

Jakarta I Sumut24.CO

Stabilitas sistem keuangan tetap terjaga, di tengah pemulihan perekonomian global dan domestik yang masih dibayangi berbagai tantangan.

Sinergi kebijakan menjadi kunci stabilnya sistem keuangan, yang diwujudkan melalui bauran kebijakan nasional yang akomodatif. Sistem keuangan tetap berdaya tahan, dan intermediasi melanjutkan perbaikan seiring dengan membaiknya kinerja korporasi dan Rumah Tangga (RT) serta persepsi risiko.

Dalam rangka mendorong fungsi intermediasi yang seimbang dan berkualitas, Bank Indonesia (BI) melanjutkan bauran kebijakan yang mendukung pemulihan ekonomi nasional, di antaranya melalui kebijakan makroprudensial yang akomodatif dan inovatif bersinergi dengan kebijakan KSK. Seiring dengan prospek pemulihan ekonomi, stabilitas sistem keuangan Indonesia diprakirakan tetap terjaga pada 2022, meskipun masih dihadapkan pada sejumlah tantangan yang perlu diwaspadai.

Demikian intisari buku Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) No.38 “Sinergi dan Inovasi Untuk Mengakselerasi Pemulihan Intermediasi dan Menjaga Ketahanan Sistem Keuangan” yang diluncurkan pada 13 Mei 2022.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo dalam peluncuran buku KSK dimaksud menyampaikan 3 makna tersirat dari KSK No.38.

Pertama, optimisme pertumbuhan intermediasi yang semakin membaik di tahun 2022 di tengah dinamika ekonomi global yang masih dibayangi berbagai tantangan.

Kedua, transformasi kebijakan untuk menjaga ketahanan sistem keuangan dengan tetap mendorong intermediasi yang seimbang.

Ketiga, sinergi dalam membangun ekonomi yang inklusif melalui pembiayaan dan gerakan penggunaan produk dalam negeri.

Dalam rangkaian acara yang sama, Deputi Gubernur Senior, Destry Damayanti pada pembukaan Webinar “Bauran Kebijakan Nasional di tengah Dinamika Ekonomi Global, Dampak Ketegangan Geopolitik dan Tantangan Scarring Effect” menekankan pentingnya kebijakan otoritas yang well calibrated, well planned, and well communicated untuk menjawab berbagai tantangan yang masih akan mewarnai pemulihan ekonomi global dan domestik ke depan.

Diskusi dalam webinar ini mengemukakan beberapa tantangan dimaksud, di antaranya ketegangan geopolitik Rusia Ukraina yang masih berlanjut dan dampak luka memar (scarring effect) pandemi Covid-19 yang bersifat struktural. Untuk itu, Bank Indonesia terus berupaya menjaga momentum pemulihan melalui penguatan sinergi kebijakan nasional, termasuk didalamnya kebijakan makroprudensial akomodatif.

Hadir sebagai narasumber webinar yaitu Dietrich Domanski, Secretary General Financial Stability Board (FSB), Yati Kurniati, Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia, Wahyu Utomo, Kepala Pusat Kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Kementerian Keuangan dan Anung Herlianto, Kepala Departemen Penelitian dan Pengaturan Perbankan Otoritas Jasa Keuangan. Webinar dihadiri pula oleh perwakilan Himbara, Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) dan kalangan akademisi. (red)