Selasa, 24 Februari 2026

Bank Indonesia Prioritaskan Pemulihan Ekonomi dan Penanganan Dampak Covid-19

Administrator - Senin, 21 Maret 2022 13:25 WIB
Bank Indonesia Prioritaskan Pemulihan Ekonomi dan Penanganan Dampak Covid-19

Medan I Sumut24.CO Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo menyampaikan, pemerintah telah mengidentifikasi 3 agenda utama dalam rangka mewujudkan G20 Concrete Collaboration tersebut, yakni: Global Health Architecture, Digital Transformation dan Energy Transition.

Baca Juga:

Demikian disampaikan Dody Budi Waluyo saat Bank Indonesia (BI) menggelar seminar yang membahas tentang agenda prioritas Presidensi G20 Indonesia di antaranya Exit Strategy to Support Recovery dan Adressing Scaring Effect to Secure Future Growth yang merupakan dua dari 6 agenda prioritas G20 yang digelar secara online maupun offline di Hotel Adi Mulia, Medan, Senin (21/3/22).

Lebih lanjut dikatakan Dody Budi Waluyo, Pembahasan kedua agenda tersebut guna merumuskan kebijakan bersama untuk keluar dari krisis atau exit strategy yang tepat dan akan mampu mengatasi dampak berkepanjangan atau scarring effect akibat pandemi Covid-19.

Oleh karena itu, upaya untuk merumuskan exit strategy yang tepat guna mendukung pemulihan dan upaya penanganan scarring effect dalam perekonomian untuk mendukung pertumbuhan yang lebih kuat di masa depan.

Seminar Strategic Issues in G20: Exit Strategy dan Scarring Effect Post Covid-19 menghadirkan Leader’s Insight Gubernur BI Perry Warjiyo, Keynote Speech & Welcoming Remarks Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo dan Gubernur Sumatera Utara H Edy Rahmayadi, serta narasumber seminar, Kepala Bank Indonesia Institute Yoga Affandi, Pendiri CORE Indonesia Hendri Saparini Ph.D, Ketua ISEI Medan Prof Dr Ramli SE MS.

Selain itu, Indonesia juga mengusung 6 Agenda Prioritas Jalur Keuangan dalam Presidensi G20 Indonesia 2022, dengan fokus dan gambaran output yang akan dihasilkan, antara lain mencakup Exit Strategy to Support Recovery; Adressing Scaring Effect to Secure Future Growth; Payment System in Digital Era; Sustainable Finance; Financial Inclusion; dan International Taxation.BI Sumut Berikan Bantuan Sarana Produksi Air Minum ke Pasantren Al-Uswah

“Exit Strategy to Support Recovery, membahas bagaimana G20 melindungi negara-negara yang masih menuju pemulihan ekonomi (terutama negara berkembang) dari efek limpahan (spillover) exit policy yang diterapkan oleh negara yang lebih dahulu pulih ekonominya (umumnya negara maju),” ujar Dody dalam seminar tersebut.

Kemudian Adressing Scaring Effect to Secure Future Growth, bagaimana mengatasi dampak berkepanjangan (scarring effect) krisis dengan meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan jangka panjang, memperhatikan ketenagakerjan, rumah tangga, sektor korporasi, dan sektor keuangan.

Terkait exit strategy, lanjutnya, untuk memitigasi dampak pandemi dan menopang perekonomian, negara-negara di seluruh dunia telah mengeluarkan kebijakan fiskal, moneter, dan peraturan yang sifatnya extraordinary dan belum pernah terjadi sebelumnya untuk melindungi masyarakat dan dunia usaha. “Saat ini, kegiatan ekonomi mulai berangsur pulih. Namun, pemulihan tersebut tidak berjalan dengan laju yang sama atau tidak sinkron. Di negara maju, pertumbuhan ekonomi pulih lebih cepat disertai inflasi yang juga melonjak,” sebutnya.

Kondisi demikian, lanjutnya, mendorong negara maju melakukan normalisasi kebijakan lebih dulu antara lain dengan menaikkan suku bunga kebijakan. Implikasinya bisa signifikan, karena berpotensi mendorong arus keluar modal dari negara berkembang di tengah kebutuhan pembiayaan yang besar untuk mendukung pemulihan.

“Kondisi ini menandakan perlunya exit strategy yang terkalibrasi dengan baik (well calibrated), terencana (well planned) dan terkomunikasikan dengan baik (well communicated) untuk recover together, recover stronger,” ucapnya.

Terkait scarring effect, Pandemi Covid-19 telah menyebabkan gangguan ekonomi global yang mendalam, baik di sisi penawaran maupun permintaan. Pandemi telah menyebabkan perubahan struktural dari aspek investasi yang tertunda tidak hanya modal fisik, namun juga human capital.

Sementara, Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi, Keuangan, Pembangunan, Aset dan SDA Sumut, Agus Tripriyono yang mewakili Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi menuturkan, ekonomi di Sumut tahun 2021 telah keluar dari zona kontraksi dan menunjukkan pemulihan ekonomi di tengah pandemi yang masih berlangsung.

“Ekonomi Sumut berhasil tumbuh 2,61% yoy di tahun 2021, capaian vaksinasi Sumut juga cukup membanggakan dan diperkirakan menjadi kunci dan game changer perekonomian Sumut. Namun, masih ada tantangan ke depan yang harus dihadapi. Di tengah tantangan itu, kami yakin ekonomi Sumut masih akan berpotensi tumbuh. Karenanya, kerjasama dengan seluruh elemen masyarakat dan stakeholder di daerah harus terus diperkuat,” ujarnya. (red)

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
beritaTerkait
Ahmadi Darma Apresiasi Inisiatif Pemuda, Gema Takbir 1447 H Siap Digelar di Tanjung Beringin
Dua Sesi Penyaluran, SPPG Suka Jadi Pastikan Gizi Penerima Manfaat Tetap Terpenuhi
Pastikan Layanan Pendidikan Optimal, Kadis Pendidikan Sergai Kunjungi Sekolah di Dolok Masihul dan Sei Rampah
Kapolres Sergai AKBP Jhon Sitepu Pimpin Doorstop Pengungkapan Kasus Penipuan Rp100 Juta dan Pembunuhan
31.9 Milyar Rekontruksi Jalan Desa Silau Jawa Menuju Desa Gotting Sidodadi Terkesan Asal Jadi dan Menuai Sorotan Masyarakat
Rico Waas Lantik 213 Pejabat, Tekankan Mental Tancap Gas, Ini Pesannya
komentar
beritaTerbaru