Diskusi BPAD Sumut Minat Baca Tumbuh Sejalan dengan Ketersediaan Buku

MEDAN | SUMUT24
Para penggiat gerakan gemar baca, seperti tak jemu-jemunya  mensosialisasikan “Gerakan Gemar Membaca ” ke setiap kota/kabupaten di Sumatera Utara. Dari gerakan ini muncul, komunitas atau kelompok yang punya hobi sama yakni membaca.
Saat gerakan ini, dapat  menyentuh masyarakat terpencil di Sumatera Utara, ironisnya pelajar SMA Kota Medan tak terpuaskan kegemaran bacanya karena ketidaktersediaan buku di perpustakaan sekolah. Hal tersebut diungkapkan seorang pengelola perpustakaan SMAN di Medan  pada acara Gerakan Pemasyaraktan Minat Baca di Sumut yang diadakan Badan Perpustakaan Arsip dan Dokumentasi (BPAB) Sumut di Hotel Antares, Rabu (25/5).
Pengelola perpustakaan SMAN 16 yang diketahui bernama Suyono itu mengatakan, sejak perpustakaan di sekolahnya diadakan, sampai sekarang begitu-begitu saja alias tak berkembang.
“Bukunya  itu-itu saja, sampai sudut buku  lecet-lecet,” katanya di depan Kepala BPAD Sumut Hasangapan Tambunan S. SPd, M.Si dan Ketua Gerakan Gemar Membaca ( GMB) Sutias Handayani, SE.
Ditambahkan Suyono, kondisi tersebut disebabkan tak ada biaya khusus untuk pembinaan perpustakaan apalagi menambah buku .Untuk itu dia berharap BPAD dapat memberikan buku pada perpustakaan sekolah. Sehingga gerakan gemar membaca  makin  tersosialisasi di sekolah-sekolah.
Menanggapi hal tersebut, Kepala BPAD Hasangapan Tambunan berjanji akan memenuhi permintaan buku untuk perpustakaan sekolah. “Tatapi mengisi kuisener terlebih dahulu. Karena banyak tempat dan daerah yang harus kami penuhi permintaannya,” kata Hasangapan.
Hal yang sama juga diutarakan Lasma, anggota gerakan gemar membaca yang ada di Samosir. Dia juga meminta BPAD Sumut untuk memberikan buku kepada kelompoknya. Karena mereka punya ide untuk membuat ruang baca di kapal-kapal yang akan berangkat dari Ajibata ke Samosir .
“Sebagai destinasi wisata, kami ingin kapal-kapal tersebut ada ruang baca meski kecil. Untuk rak buku kami sudah minta Pemkab Tobasa. Sekarang bukunya saja. Buku kami punya 3.000 judul buku. Kami minta BPAD memberikan 1500 judul lagi, ” kata Lasma penuh semangat.
Disisi lain, peserta diskusi juga minta BPAD menyediakan tempat dan fasilitas kepada kelompok mahasiswa dan komunitas lainnya untuk berdiskusi . Hal itu juga disanggupi Kepala BPAD dengan mengatakan, BPAD saat ini sudah berubah dengan menambah luas pada sisi kiri dan kanan perpustakaan. Dan ada tiga ruangan besar yang bisa menampung masyarakat untuk berdiskusi di dalamnya.
Diskusi yang dihadiri para pustakawan dan komunitas membaca dari seluruh daerah ini, berlangsung sehari penuh dengan pemateri Kepala BPAD Hasangapan Tambunan, Ketua GMB Sutias Handayani dan dua penulis senior Jannerson Girsang dan Eduard Sinaga.
Kepala BPAD Hasangapan Tambunan mengatakan, literasi Indonesia masih rendah, 15 judul buku, untuk 1 juta orang. Atau dari 10.000 orang rata-rata 1 orang yang membaca. “Sedangkan  tingkat melek huruf orang Indonesia 98,7 % tapi kemiskinan masih relatif tinggi sekitar 20 %,” katanya.
Sementara Sutias mengingat menumbuhkan minat baca sebenarnya dimulai dari keluarga sebagai satuan terkecil dalam negara.
“Bapak dan ibulah yang seharusnya mencontohkan gerakan gemar membaca pada anak-anaknya. Jangan anak disuruh membaca tapi orangtuanya menonton televisi. Itu yang salah, sebaiknya anak punya contoh. Orangtua membaca, anak mau tak mau juga akan mengikut. Atau sekali -kali pergi ke perpustakaan  saat liburan atau toko buku. Jangan hanya ke mal saja,” kata Sutias. (R.05)