Dirjen Pajak Ngaku Kecolongan

NIAS | SUMUT24

Pasca tewasnya Petugas pajak Kantor Pelayan Pajak (KPP) Pratama Sibolga, Parada Toga dan petugas sekuriti, Soza Nolo Lase yang dibunuh seorang pengusaha jual beli karet penunggak pajak, Agusman Lahagu alias Ama Tety (45), Selasa (12/4) kemarin, Polda Sumut saat ini berupaya mendalami kasus pembunuhan tersebut setelah belakangan menjadi atensi Kapolri bahkan Presiden.   Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Helfi Asegaf didampingi Kasubbid Penmas, AKBP MP Nainggolan, Rabu (13/4) siang menyampaikan kepada sejumlah wartawan, pihak kepolisian khususnya Polda Sumut dan Polres Nias saat ini masih mendalami pembunuhan yang terjadi guna mengetahui lebih jauh motif dan latar belakang peristiwa tersebut.

“Sementara ini Polda Sumut dan Polres Nias berusaha mendalami peristiwa pembuhan yang menimpa petugas pajak itu Tersangka dan 9 orang saksi yang merupakan karyawannya masih dilakukan pemeriksaan dan dimintai keterangannya untuk mencari tahu lebih jauh motif serta latar belakangnya,” jelas Kombes Helfi Assegaf.   Menurut Helfi, untuk kepentingan penyidikan pihak kepolisian juga melakukan pra rekontruksi peristiwa tersebut, Rabu (13/4) sore di lokasi kejadian.

Helfi juga mnyebutkan bahwa Polda Sumut telah menginstruksikan kepada Polres Nias untuk turut memintai keterangan pihak-pihak yang memiliki hubungan kerja dengan usaha milik tersangka guna mengetahui sejauh mana proses pemungutan pajak tersangka.

“Untuk kepentingan penyidikan akan dilakukan Pra Rekontruksi peristiwa kasus itu di lokasi kejadian, Rabu (13/4) sore. Kita juga inturksikan ke Polres Nias agar memintai keterangan pihak-pihak yang memiliki hubungan kerja dengan usaha milik tersangka melalui informasi di kantor atau orang-orang sekitarnya. Supaya hal-hal yang diperlukan dalam penyidikan lebih jelas, apakah sebelumnya sudah dilakukan somasi mengenai tunggakan pajak terhadap tersangka atau yang berkaitan dengan itu,” sebut Kombes Helfi.

Sementara Kapolres Nias AKBP Bazawato Zebua melalui Humas Aiptu O Daili mengatakan bahwa awalnya petugas pajak ini meminta tersangka melunasi hutangnya yang harus dibayar 1 x 24 jam. “Jadi saat itu kedua petugas datang dan menagih tunggakan pajak pelaku, saat itu korban mengatakan tunggakan pajak harus dibayar 1 X 24 jam, jika tidak semua aset pelaku akan disita,” terangnya.

Mendengar harta bendanya akan disita, Agusman mulai emosi. Namun saat itu ia masih dapat menahan dan mengajak kedua petugas dari KKP untuk menuju pondok yang tidak jauh dari gudang miliknya guna membicarakan hal tersebut.  “Saat itu pelaku mengajak keduanya menuju pondok yang tidak jauh dari gudang, di sana pelaku kebelakang dan mengambil sebilah belati. Selanjutnya ia kembali menemui kedua korban,” kata Osiduhugo Daili.

Setelah berada di depan pondok, korban pun kembali menanyakan prihal tunggakan pajak pelaku.  “Saat kembali ditanyakan pelaku langsung membabi buta menikami keduanya hingga roboh,” terangnya lagi.

Sementara Dirjen Pajak Kemenkeu Ken Dwijugiasteadi mengaku kecolongan atas insiden tewasnya dua petugas pajak Parado Toga Fransriano Siahaan (30) dan Sozanolo Lase (35) yang dibunuh oleh seorang penunggak pajak Agusman Lahagus alias Ama Tety (45). Keduanya tewas setelah menagih tunggakan pajak sebesar Rp 14 miliar kepada Agusman.  “Mungkin kemarin kita kecolongan karena yang bersangkutan satu orang. Ini orang dari Pulau Nias jadi menganggap itu daerah saya,” kata Ken di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (13/4).  Berkaca dari insiden naas itu, dia berjanji nantinya pegawai pajak akan selalu berkoordinasi dengan kepolisian jika terjadi kendala atau ancaman di lapangan.

“Saya berharap juga ke depan pegawai pajak harus selalu koordinasi dengan kepolisian karena di daerah dikira biasa ternyata daerah rawan,” ujarnya.  “Kami sudah diskusi Kapolri akan mendampingi. Setiap petugas sekiranya ada kerawanan, kami akan di-backup sepenuhnya oleh jajaran kepolisian,” tambahnya.  Sementara jenazah Parada Toga F Siahaan (30), warga Jalan Air Bersih Ujung Blok III Medan, satu dari dua petugas Pajak yang tewas dibunuh oleh pengusaha karet di Gunung Sitoli, tiba di Bandara Kualanamu International Airport (KNIA) Deliserdang, Rabu siang .

Jenazah diterbangkan dari Pulau Nias menggunakan pesawat Susi Air.  Turut hadir dalam penjemputan jenazah tersebut, Ditjen Pajak Wilayah I Sumut, bersama beberapa pegawai pajak, keluarga besar korban serta pengawalan dari patroli Polresta Medan.  Jenazah korban langsung disambut di Avron KNIA menggunakan ambulance Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP). Saat jenazah tiba di terminal kargo, suasana haru langsung menyelimuti.  Tampak salah seorang tante korban, Putri Siahaan (40) menangis sambil memeluk peti jenazah di dalam Ambulance. Putri mengaku sangat terkejut mendengar terjadinya pembunuhan terhadap keponakannya tersebut.

”Dia adalah tumpuan keluraga kami dan dia adalah anak panggoran di keluarga kami. Kami sangat terpukul dan berduka,” ujarnya.

Dia berharap penegak hukum bertindak tegas terhadap siapa saja yang terlibat dalam peristiwa pembunuhan itu.  ”Pelaku harus dihukum berat, kalau perlu hukum mati saja. Karena dia sudah menghilangkan dua nyawa orang,” kata Putri.  Dia menilai, pelaku adalah pembunuh yang sangat sadis dan psikopat. Sebab masih sempatnya dia menyerahkan diri setelah menghilangkan nyawa orang seolah tanpa ada masalah. (SL)