Dinas Peternakan Sumut Siap Hadapi MEA

0
1109

MEDAN | SUMUT24
Sumatera Utara memiliki banyak potensi untuk menjadi pemain utama dalam Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Namun, potensi itu bisa menjadi sia-sia apabila Sumut tak bisa menjaga peluang dan daya saing.

MEA yang akan diberlakukan akhir bulan Januari mendatang akan selalu menuntut negara ASEAN untuk berkompetisi dengan negara lain dalam berbagai komoditas yang dimilikinya, sehingga komoditas tersebut dapat diakui oleh dunia dan diminati negara lain. Komoditas peternakan yang dimiliki Sumut harus memiliki kompetensi dan daya saing terhadap produk impor.

Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Peternakan Sumut, Parmohonan Lubis bahwa produk peternakan masih bisa bersaing, khususnya dalam bentuk produk unggas maupun sapi. Namun, ketergantungan peternakan unggas dan sapi terhadap pasokan bahan baku impor masih sangat tinggi. Salah satu komponen yang masih dipenuhi oleh impor adalah jagung sebagai bahan baku pakan.

“Jika dari pakan memang kita masih ada impor sebab petani kita masih petani rakyat yang modelnya musiman sementara peternak kita harus tiap saat mengkonsumsi pakan tersebut, tetapi jika dilihat dari hewannya, kita cukup optimis dari jumlahnya,”katanya diruang kerjanya kemarin.

Lanjutnya, untuk negara-negara maju seperti Australia bahwa peternak sudah berubah menjadi bisnis sehingga satu peternak mempunyai 2000 ekor sapi, sementara di Sumut masih peternak rakyat. 1 peternak mempunyai 3 atau 4 sapi. Tetapi, dinas peternakan selalu lakukan cek jumlah sapi tiap peternak di Sumut. Seperti di Langkat, Deliserdang maupun Asahan sebagai daerah populasi sapi terbesar di Sumut.

”Walaupun sistem ternak kita sistem peternak rakyat, namun jumlah yang kita targetkan selalu mendapatkan hasil dan tidak pernah kekurangan terutama lebaran maupun lebaran haji,”ujarnya.

Tambahnya, MEA dalam bidang peternakan harus dijawab dengan pendayagunaan dan pemanfaatan potensi yang dimiliki Sumut dalam bidang peternakan agar dapat sejajar dengan negara lain. Para pelaku usaha peternakan di Sumut tak kalah dengan luar negeri. Pemanfaatan dan peningkatan kualitas produk lokal dapat mencegah masuknya berbagai produk impor.

Jika produk peternakan yang dihasilkan Indonesia memiliki kualitas yang diakui dunia, maka MEA ini justru akan memacu pengembangan peternakan dalam negeri terutama Sumut sebagai propinsi 10 besar untuk penghasil sapi terbanyak.

“Untuk 2015 kemarin saja impor sapi masih tersisa 9000-an lagi untuk Sumut, disini membuktikan bahwa konsumen lebih memilih sapi Sumut daripada impor. Impor hanya di gunakan untuk hotel dan restoran saja, sehingga MEA ini tidak ada halangan untuk ternak kita,”katanya.

Parmohonan juga mengatakan bahwa peningkatan kualitas produk peternakan sudah diikuti pula dengan sikap nasionalisme warga Sumut yang dapat diwujudkan dengan mencintai sapi ternakan Sumut.

”Sumut siap apabila ingin menjadi pemain utama untuk hewan khususnya unggas dan sapi. Tetap kunci utama untuk mencapai hal itu adalah daya saing. Dan kita sangat optimis sebab hewan hewan di Sumut sehat dari segala penyakit hewan. Seperti sapi penyakit mulut dan kuku, di Sumut tidak ada penyakit itu,”ujarnya.

Pengembangan peternakan dalam menghadapi MEA dilakukan melalui kerjasama dengan berbagai pihak yang menjadi stakeholder dalam bidang peternakan.
“MEA seharusnya tidak dijadikan hambatan dalam pengembangan peternakan, namun harus dijadikan pemacu yang dapat membangun sistem peternakan yang tangguh, maju dan berkesinambungan,”pungkasnya.(nis)