Bayar Rp 14,2 Miliar, 10 WNI Dibebaskan

JAKARTA|SUMUT24
10 warga negara Indonesia (WNI) yang disandera oleh kelompok Abu Sayyaf akhirnya dibebaskan setelah satu bulan disandera. Sebelumnya ada kabar, tercapainya kesepakatan pembayaran tuntutan uang tebusan antara PT Patria Maritim Lines selaku pemilik kapal dengan pihak Abu Sayyaf senilai 50 juta Peso atau sekitar Rp 14,2 miliar.

Kepala Penerangan Kodam Mulawarman, Kolonel Andi Gunawan, Minggu, (1/5) mengatakan, dia mengaku memperoleh informasi bahwa PT Patria Maritim Lines telah membayar tebusan ke Abu Sayyaf.
“Pimpinan TNI belum mengabarkan apa pun soal sandera ini. Namun informasinya memang pihak perusahaan sudah membayar tebusan yang menjadi tuntutan Abu Sayyaf,” ujar Kolonel Andi Gunawan.

Sehubungan itu, gerombolan Abu Sayyaf hanya membebaskan 10 sandera, yang merupakan karyawan PT Patria Maritim Lines. Mereka masih menahan empat ABK MV Massive 6, yang merupakan kapal batu bara dan turut menjadi korban perompakan di perairan Filipina.

Para sandera yang dibebaskan adalah Peter Tonsen Barahama, Julian Philip, Alvian Elvis Peti, Mahmud, Suriansyah, Surianto, Wawan Saputra, Bayu Oktavianto, Rinaldi dan Wendi Raknadian. Adapun sandera yang tersisa adalah yakni Moch Ariyanto Misnan, Lorens MPS, Dede Irfan Hilmi dan Samsir.

Andi mengatakan, sepuluh sandera itu masih dalam proses pemulangan ke Jakarta dalam waktu dekat ini. Pemerintah Filipina masih memeriksa kondisi kesehatan para sandera sebelum dipulangkan. “Informasinya akan dipulangkan ke Jakarta dalam waktu dekat ini,” kata dia.

Meskipun demikian, 500 personil pasukan khusus TNI/Polri masih terus bersiaga di Pangkalan Utama TNI AL Tarakan Kalimantan Utara. Kapal perang juga tetap disiagakan jika sewaktu-waktu diperlukan.

Staf Koordinator Kru PT Patria Maritim Lines di Banjarmasin Kalimantan Selatan, Arief Hermawan menyatakan dia tidak mengetahui perkembangan terbaru soal pembebasan sandera. Menurut dia, penanganan urusan ini ditangani langsung manajemen pusat perusahaan di Jakarta.

“Saya juga tidak mengetahui informasinya apakah perusahaan sudah membayar tebusan yang menjadi tuntutan Abu Sayyaf,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso, mengatakan sesuai dengan jadwal, 10 WNI itu akan tiba di Bandara Halim Perdana Kusuma, sore.

Namun, Sutiyoso belum mau membuka bagaimana keadaan 10 WNI itu. Dia meminta masyarakat bersabar menunggu pengumuman resmi dari pemerintah.

“Sore ini pemerintah akan memberikan pengumunan ya,” kata Sutiyoso kepada wartawan, Jakarta, Minggu (1/5).

Diketahui, Minggu 1 Mei 2016, Kepolisian Filipina mengabarkan bahwa 10 pelaut Indonesia yang diculik kelompok militan Abu Sayyaf dan disandera selama lima pekan dibebaskan.

Adapun 10 orang itu disandera Abu Sayyaf pada 28 Maret lalu. Sejauh ini belum diketahui alasan pembebasan para sandera itu.

Ke-10 sandera Indonesia itu dibebaskan enam hari setelah Abu Sayyaf memenggal sandera asal Kanada, John Ridsdel.

Sampai saat ini, Abu Sayyaf masih menyandera 11 orang, yaitu empat warga Indonesia, empat warga Malaysia, serta masing-masing seorang warga Kanada, Norwegia, dan Belanda.

Abu Sayyaf adalah kelompok radikal yang memberontak terhadap Pemerintah Filipina sejak 1970-an dan selama ini sudah menewaskan sedikitnya 100.000 orang. (int)