Akibat Perilaku Seks Bebas LSL 1.680 Warga Medan Terjangkit HIV

0
1957

MEDAN | SUMUT24
Perilaku seks bebas Lelaki Suka Lelaki (LSL), memiliki resiko tinggi terjangkit HIV. Di Kota Medan tercatat 1.680 orang terancam terjangkit HIV, akibat perilaku seks bebas.

Menurut Sekretaris Pelaksana Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Sumut, Ahmad Ramadhan, resiko itu ada karena luka yang ditimbulkan akibat perlakuan melakukan hubungan seks bebas. KPA mengarahkan agar tidak melakukan hubungan yang berkaitan dengan resiko tersebut.

Hasil Survei Cepat Perilaku (SCP) berkaitan dengan LSL tahun 2015 di Medan oleh KPA Sumut yang difasilitasi KPA Nasional, populasi LGBT khususnya LSL di Medan, sesuai pemetaan tahun 2014 berjumlah sekitar 1680 orang. Jumlah ini dikarenakan cara mereka mendapatkan teman, paling dominan melalui media sosial atau internet sebagai tempat sosialisasi.

“Tapi, kita tidak tahu apa konten LGBT yang membuat orang tertarik dalam media sosial. Apakah karena bosan dengan lawan jenis. Apakah sudah karakternya. Apakah faktor hormonal atau lingkungan. Ini perlu pengkajian, apa latar belakangnya,” ujar Ramadhan.

Hasil SCP terhadap 240 orang LSL yang secara umum lesbian gay biseks trasgender(LGBT) dari jumlah 1680 itu, sambungnya, berusia antara 16 sampai 60 tahun, dominan usia 20 sampai 30 tahun dan yang paling tinggi usia 30 tahun.

“Dari tingkat pendidikan, SLTA 121 orang atau 50,4 persen dan perguruan tinggi atau akademi 107 orang atau 44,6 persen. Berbeda dengan hasil survey terhadap Wanita Pekerja Seks kebanyakan di tingkat SD,” ungkapnya.

Dalam survey yang dilakukan, sambungnya lagi, ada yang mengaku dalam 1 bulan, satu orang 30 kali berhubungan, ada 30 orang yang berhubungan dengan 1 orang.

“Ada yang mengaku 10 orang berhubungan dengan 60 orang dan ada yang 65 orang dengan 1 pelanggannya. Selain itu, dari 240 orang yang di survey, 66,7 persen mengatakan mengetahui tempat tes HIV dan 33,3 persen tidak tau dimana tempatnya. 54,2 persen saat berhubungan memakai kondom dan pelican dan 35 persen tidak menggunakan keduanya,” terangnya.

KPA sendiri, timpal Ramadhan, sudah lama mengetahui fenomena LGBT ini dan memiliki program bagi LGBT dan WPS, serta melakukan kerjasama dengan LSM Pendamping. “Tahun ini, kita menunggu anggaran untuk menjalankan program,” imbuhnya.

Ia juga berharap kepada sektor terkait seperti Dinas Pendidikan dan Kopertis serta tokoh agama untuk melakukan penanggulangan menghadapi kondisi saat ini. Membuat program atau kegiatan pencegahan dan upaya pada yang sudah berperilaku, karena ada pengaruh dari lingkungan.

Sementara itu, Proyek Maneger Global Fund Andi Ilahm Lubis mengatakan, untuk resiko terinfeksi HIV hasi survey terpadu biologi tahun 2011 sebesar 1,3 persen. Namun, tahun 2014 hasil survey yang dilakukan itu kepada 1680 LGBT khususnya LSL naik menjadi 4 persen dan Waria diatas 20 persen.

“Hasil survey dari 1680 populasinya LGBT khusus LSL ada 4 persen yang positip HIV atau 70 sampai 80 orang dan untuk WPS dari 900 populasinya yang positip HIV ada 20 persen atau sekitar 180 orang,” ujarnya.

Saat ini, sambungnya lagi, karena pasangan lebih banyak, tak tertutup kemungkinan dengan trend LSL yang saat ini lagi marak, mereka mengubah status menjadi LSL. Jadi, Andi berharap, pendekatan tidak hanya dari sisi kesehatan dan perilaku tetapi juga penting adanya pendekatan lini psikologi seperti perlunya psikiater atau kejiwaan.

“Tidak cukup dilayanan IMS saja, perlu dilakukan secara komprehensif, membuat mereka menjadi berguna dan bertanggung jawab. Juga kerjasama lintas sektor difasilitasi KPA Sumut sepeti di Medan dan Deli Serdang yang jumlah penduduknya banyak,” pungkasnya.(nis)