sumut24.co - Medan
Baca Juga:
Anak-anak perlu tahu apa yang harus dilakukan ketika bumi berguncang atau air mulai memasuki rumah dan lingkungan mereka. Tidak cukup hanya berteriak ketakutan atau berlari tanpa arah, mereka harus memahami cara melindungi diri agar tetap selamat saat bencana datang. Pengetahuan inilah yang ingin ditanamkan Ketua Tim Pembina Posyandu Kota Medan, Ny. Airin Rico Waas, sejak usia dini.
Airin menegaskan, edukasi kesiapsiagaan bencana harus menjadi perhatian bersama, termasuk melalui lingkungan sekolah dan Posyandu. Sebab, Posyandu kini tidak hanya berperan memberikan pelayanan kesehatan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam pemenuhan enam bidang pelayanan dasar, salah satunya perlindungan masyarakat.
Penegasan itu disampaikan Airin saat menghadiri Sosialisasi Penanggulangan Bencana di Sekolah yang digelar di Yayasan Pendidikan Harapan Mandiri, Jalan Brigjend Hamid, Jumat (30/10/26). Hadir dalam pertemuan tersebut, Kalaksa BPBD Kota Medan Yunita Sari, Pj Ketua Dharma Wanita Persatuan Fahriatunnisa Erfin Fachrurrazi, Ketua Yayasan Pendidikan Harapan Mandiri Medan Febriyanto Wijaya, Camat Medan Johor Bachtiar Rivai Nasution, pengurus Tim Pembina Posyandu, serta para guru dan pelajar.
Menurut Airin, anak-anak perlu dibekali pengetahuan mengenai langkah-langkah menyelamatkan diri ketika menghadapi situasi darurat, baik akibat gempa bumi maupun banjir.
Ditambahkan Airin, Posyandu saat ini tidak lagi terbatas pada pelayanan kesehatan ibu dan anak. Perannya telah diperluas untuk mendukung enam bidang pelayanan dasar, meliputi pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, ketenteraman dan ketertiban umum serta perlindungan masyarakat, dan sosial.
"Penanggulangan bencana menjadi salah satu program penting dalam upaya perlindungan masyarakat. Ini merupakan pengetahuan yang perlu kita pelajari sejak dini, karena sangat berguna bagi kita semua dalam menghadapi berbagai kemungkinan bencana," ujar Airin.
Airin mengatakan, penguatan kesiapsiagaan bencana harus dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan keluarga, sekolah, masyarakat, dan Posyandu. Dengan demikian, pemahaman tentang mitigasi bencana tidak hanya menjadi pengetahuan orang dewasa, tetapi juga tertanam dalam diri anak-anak.
Airin mengingatkan, upaya mengurangi risiko banjir sebenarnya dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan.
Selain banjir, ia juga mengingatkan potensi gempa bumi mengingat Indonesia berada di kawasan Ring of Fire. Karena itu, anak-anak perlu mengetahui tindakan yang tepat agar tidak panik ketika bencana terjadi.
"Bencana tidak bisa kita hindari, tetapi kita harus belajar bagaimana mengantisipasi dan menghadapinya jika bencana itu terjadi. Jangan sampai ketika terjadi gempa kita panik dan tidak tahu harus melakukan apa," tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Airin juga mengajarkan langkah-langkah penyelamatan diri ketika gempa bumi terjadi. Anak-anak diminta tetap tenang, segera berlindung di bawah meja yang kokoh, melindungi kepala dan leher, serta berpegangan hingga guncangan berhenti.
Setelah kondisi memungkinkan, mereka harus mengikuti arahan guru untuk keluar dari bangunan dan menuju titik kumpul yang telah ditentukan.
Sementara dalam menghadapi banjir, para pelajar diingatkan agar menjauhi genangan air yang berbahaya, tidak bermain di sekitar lokasi banjir, serta segera meminta bantuan guru atau orang dewasa apabila melihat tanda-tanda bahaya.
Airin juga menekankan pentingnya mengenali jalur evakuasi dan lokasi titik kumpul di lingkungan sekolah. Pengetahuan tersebut akan membantu anak-anak mengambil tindakan lebih cepat dan tepat ketika keadaan darurat terjadi.
"Edukasi kesiapsiagaan bencana perlu kita tanamkan sejak usia dini, termasuk melalui lingkungan pendidikan. Anak-anak yang memahami cara menyelamatkan diri juga dapat membantu mengingatkan teman-temannya, dengan tetap mengutamakan keselamatan diri dan mengikuti arahan guru," pesannya.
Airin berharap sosialisasi tersebut tidak berhenti pada penyampaian teori, tetapi dapat membentuk kebiasaan tanggap bencana dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga berharap peran Posyandu dalam enam bidang pelayanan dasar dapat semakin dirasakan masyarakat, termasuk dalam membangun kesadaran akan pentingnya perlindungan dan keselamatan sejak dini.
Sementara itu Kalaksa BPBD Kota Medan Yunita Sari menjelaskan Sosialisasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) ini bertujuan untuk mengedukasi anak-anak sejak dini mengenai langkah-langkah mitigasi saat menghadapi bencana, seperti gempa bumi. Mulai dari cara melindungi kepala, merunduk di bawah meja, hingga prosedur evakuasi diri yang benar tanpa panik.
"Harapannya, pengetahuan mitigasi ini bisa menjadi kebiasaan (habit) yang tertanam sejak dini dan ditularkan kepada keluarga serta lingkungan sekitar. Program ini menyasar 10 sekolah pada tahun 2026, yang kemudian akan dilanjutkan ke tingkat Kelurahan Tangguh Bencana", jelas Yunita Sari. Rel
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di
Google News