Pelantikan Rektor USU, Bobby Nasution Titipkan Nasib Mahasiswa Korban Bencana ke Wamen PTST
MEDAN Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution secara khusus meminta kebijakan relaksasi biaya pendidikan bagi mahas
News
Baca Juga:Oleh: H Syahrir Nasution SE MM
Bangsa Indonesia hari ini sedang hidup dalam penyanderaan ekonomi yang nyata — disandera oleh utang, dikunci oleh sistem keuangan global, dan dikendalikan oleh segelintir elit yang rakus. Setiap tahun, alasan yang sama selalu digulirkan: APBN defisit, negara butuh pinjaman. Maka, jalan pintas "ngutang terus" menjadi kebijakan permanen yang diwariskan dari satu rezim ke rezim berikutnya.
Ironinya, negeri yang katanya "kaya raya" ini justru terus menjerumuskan dirinya dalam jebakan utang abadi. Bunga utang dibayar dari utang baru, dan setiap tahun, triliunan rupiah uang rakyat habis hanya untuk melunasi cicilan yang tak pernah selesai. Inilah bom waktu ekonomi bangsa, dan pemerintah seolah memilih untuk menutup mata.
Menteri Keuangan Purbaya kini dihadapkan pada tantangan besar. Ia harus mencari jalan keluar dari sistem yang telah lama busuk — sistem yang bukan hanya salah arah, tapi juga penuh kepentingan gelap. Ia harus berani memutus rantai ketergantungan pada utang luar negeri dan menolak menjadi boneka lembaga keuangan internasional.
Namun, keberanian itu tidak akan mudah. Sebab di tubuh pemerintahan sendiri, baik eksekutif, legislatif, maupun lembaga lain, masih bercokol para penikmat "uang haram" hasil permainan fiskal. Mereka yang selama ini hidup dari proyek fiktif, mark-up anggaran, dan permainan bunga pinjaman tentu tidak akan diam. Ketika muncul gagasan untuk membenahi sistem, mereka justru bereaksi keras, membuat gerakan sporadis untuk menjegal perubahan.
Inilah wajah sesungguhnya dari "ekonomi utang": rakyat dikorbankan, negara dijadikan jaminan, sementara elit menari di atas penderitaan. Di balik setiap pinjaman triliunan rupiah, selalu ada pihak yang kenyang makan komisi. Dan ketika cicilan jatuh tempo, yang harus menanggung bukan mereka, melainkan rakyat kecil — lewat pajak, kenaikan harga, dan penghapusan subsidi.
Indonesia hari ini bukan kekurangan uang, tapi kekurangan moral dan keberanian politik. Para pemimpin lebih senang menjadi pengutang daripada menjadi pembangun. Mereka lebih bangga menandatangani pinjaman luar negeri daripada menggali potensi ekonomi dalam negeri.
Bangsa ini harus sadar: selama utang dijadikan sumber utama pembangunan, maka kedaulatan hanyalah ilusi. Negara ini tidak lagi merdeka dalam menentukan arah ekonominya sendiri. Kita hanya menunggu waktu sampai "rentenir global" menulis ulang masa depan republik ini.
Jika tidak ada pembenahan serius, maka benar kata banyak pengamat — negara ini akan terus ngutang sampai kiamat.
Dan ketika itu terjadi, sejarah akan mencatat: Indonesia pernah kaya, tapi dijual murah oleh penguasanya sendiri.***
MEDAN Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution secara khusus meminta kebijakan relaksasi biaya pendidikan bagi mahas
News
SLEMAN Polemik penetapan Hogi Minaya sebagai tersangka akhirnya berakhir dengan pengakuan terbuka dari aparat penegak hukum. Kapolresta
Hukum
Medan Pemerintah Kota Medan berhasil menerima penghargaan Universal Health Coverage (UHC) Awards 2026 pada Kategori Madya, sebagai bentu
kota
Jakarta Sari Yuliati, politisi Partai Golkar yang dikenal memiliki kekayaan fantastis, resmi menempati posisi Wakil Ketua DPR RI untuk s
News
Pendidikan Makin Kuat, Pemkab Paluta Resmi Terima Sertifikat Tanah Sekolah Rakyat
kota
Perkuat Sinergi Kepemudaan, Wali Kota Letnan Dalimunthe Terima SAPMA PP Padangsidimpuan
kota
Komitmen Jamin Kesehatan Warga, Pemkab Padang Lawas Digelari UHC Madya
kota
Menuju Indonesia Emas 2045, Pemkab Padang Lawas Utara Siap Sukseskan Sensus Ekonomi 2026
kota
Sportifitas Masa Depan Pelajar Muda, Ketua MPC Pemuda Pancasila Bersama TNI dan Walikota Tutup Futsal SLTA SeTabagsel
kota
Datang dengan Harapan, Guru Padangsidimpuan Curhat ke DPRD Soal Hak dan Perlindungan
kota