Ops Ketupat Toba 2026 Polrestabes Ungkap 119 Kasus, 184 Tersangka Diringkus
Ops Ketupat Toba 2026Polrestabes Ungkap 119 Kasus, 184 Tersangka Diringkus
kota
Baca Juga:
Oleh: H. Syahrir Nasution, Pemerhati Sosial dan Ekonomi
"Bayar, bayar, bayar untuk menjadi Gubernur Bank Indonesia."
Kalimat itu bukan sekadar ungkapan emosi, melainkan jeritan nurani melihat semakin kaburnya batas antara integritas dan transaksi dalam proses penentuan pejabat strategis negeri ini.
Disinyalir, dalam rangka fit and proper test calon Gubernur Bank Indonesia di Komisi XI DPR RI, harus ada "uang pemanis" — atau dalam istilah yang lebih satir saya sebut "sweet fulus" — agar seorang kandidat bisa "goal" menduduki kursi empuk Gubernur BI. Ironisnya, praktik tersebut bahkan dikemas dengan istilah Corporate Social Responsibility (CSR), seolah-olah uang pelicin itu adalah sumbangan sosial.
Padahal, CSR adalah ranah dunia korporasi — bukan lembaga negara.
Ketika Bank Indonesia, lembaga yang sejatinya menjadi penjaga moral moneter dan kestabilan ekonomi nasional, ikut dipersepsikan bermain di wilayah "CSR politis", maka publik patut bertanya:
Apakah BI masih menjadi lembaga independen, atau sudah berubah menjadi "perusahaan" yang membayar untuk mendapatkan kepercayaan politik?
Ujian Integritas
Fit and proper test seharusnya menjadi ruang pengujian moral, visi kebijakan, dan kapasitas profesional calon pejabat publik. Namun, jika ruang itu telah bergeser menjadi arena transaksi, maka yang terpilih bukanlah yang terbaik, melainkan yang terkaya.
Di sinilah kemunduran etik bangsa bermula — ketika jabatan strategis ditentukan bukan oleh kualitas, melainkan oleh amplop yang paling tebal.
Bahaya Sistemik
Bayangkan dampaknya jika dugaan ini benar terjadi. Seorang Gubernur BI yang "membayar" untuk duduk tentu akan mencari cara untuk "mengembalikan modalnya". Keputusan moneter, kebijakan suku bunga, hingga arah stabilisasi nilai rupiah bisa terkontaminasi oleh kepentingan kelompok tertentu, bukan kepentingan rakyat banyak.
Maka, "sweet fulus" hari ini bisa menjadi "bitter economy" besok.
Saatnya DPR dan BI Buka Diri
Kita tak ingin tudingan ini sekadar lewat tanpa tanggapan. Komisi XI DPR RI dan Bank Indonesia wajib membuka diri, menunjukkan transparansi proses seleksi, dan memastikan bahwa tak ada satu rupiah pun uang pelicin yang berputar di balik fit and proper test.
Jika tidak, kepercayaan publik terhadap BI — sebagai simbol stabilitas keuangan negara — akan runtuh.
Bangsa ini sudah terlalu lama membiarkan politik uang merusak sendi-sendi pemerintahan. Jangan biarkan penyakit itu menjalar ke lembaga yang seharusnya menjadi benteng moral ekonomi nasional.
Karena jika untuk menjadi Gubernur Bank Indonesia saja harus "bayar", maka yang sejatinya memimpin bukanlah penjaga rupiah, melainkan penjaga amplop.***
Ops Ketupat Toba 2026Polrestabes Ungkap 119 Kasus, 184 Tersangka Diringkus
kota
Polda Sumut Ungkap Peredaran 2 Kg Sabu dan 2.000 Butir Ekstasi, Seorang Oknum Guru Ditangkap
kota
Siluet yang Membuat Perbedaan Kurasi Koleksi UNIQLO untuk Tampilan Seharihari yang Lebih StatementJakartasumut24.co Di tengah keseharian
Umum
Polresta Deli Serdang Gelar Patroli Blue Light, Wujudkan Rasa Aman Bagi Masyarakat
kota
Prestasi membanggakan kembali ditorehkan UNPAB dalam ajang Rakerwil LLDIKTI Wilayah I Tahun 2026 di Berastagi
kota
sumut24.co TANJUNGBALAI, Pemerintah Kota Tanjungbalai mencanangkan Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) sebagai upaya mencipt
News
sumut24.co DELI SERDANG, Pemerintah bersama PT PLN (Persero) meninjau langsung progres pekerjaan program listrik desa di Desa Durin Serugun
News
sumut24.co Tebingtinggi, Tim Pengendalian inflasi Daerah (TPID) Pemerintah Kota Tebingtinggi dipimpin sekretaris daerah Erwin Suheri Damani
News
sumut24.co ASAHAN, Firma Hukum Hendra Gunawan, S.H., M.H. & REKAN yang bertindak mewakili Kepala Desa Silo Bonto telah resmi mendaftarkan l
News
sumut24.co JAKARTA, PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Sumatera Bagian Utara (UIP SBU) kembali menorehkan prestasi membanggakan dengan
News