Gelar Sosper Sistem Kesehatan, Modesta Marpaung Komit Dukung Pemko Medan Pelayanan Kesehatan Lebih Baik
sumut24.co Medan, Anggota DPRD Kota Medan, Modesta Marpaung, S.K.M, S.Keb gelar sosialisasi Perda tentang kesehatan. Modesta menegaskan bah
kota
Baca Juga:
- JMSI Tabagsel dan Lapas Padangsidimpuan Bangun Sinergi, Ucok Rizal : Transparansi serta Profesionalisme Pers *Bikin Indonesia Terang*
- Pelantikan JMSI Sumbar 2026: Perkuat Barisan Media Siber, Lima Tokoh Raih JMSI Awards
- JMSI Sumut Dukung Penuh Program Irigasi Bobby Nasution, Pastikan Air Mengalir ke Lahan Petani
SEMARANG — Wartawan dapat berperan menjadi faktor yang meredakan konflik. Di sisi lain bila tidak berhati-hati wartawan juga dapat menjadi faktor yang membuat konflik justru semakin buruk. Dalam melakukan liputan seputar konflik, niat baik dan tekad kuat saja tidak cukup. Hal lain yang dibutuhkan adalah kemampuan jurnalistik yang memadai sehingga pesan perdamaian dapat disampaikan dengan baik dan diterima dengan baik pula.
Demikian antara lain kesimpulan yang dapat diambil dari Workshop Wartawan yang diselenggarakan United Tractors Group di Hotel Tentrem, Semarang, Selasa malam, 22 Oktober 2024.
Workshop bertema "Merajut Keberagaman, Menjunjung Kesatuan, dan Menjaga Perdamaian untuk Berkelanjutan" ini diikuti sekitar 50 wartawan media nasional dan lokal Jawa Tengah. Dibuka Corporate Secretary United Tractors Sara K. Loebis, workshop menghadirkan pembicara Duta Besar Dino Patti Djalal dan wartawan senior Metro TV Desi Fitriani, dengan moderator Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Teguh Santosa.
Mengawali diskusi, Dino Patti Djalal yang pernah menjadi Dubes RI di Amerika Serikat dan Wakil Menteri Luar Negeri memaparkan tujuh peristiwa yang memperlihatkan kemampuan diplomasi Indonesia dalam menyelesaikan konflik baik yang terjadi di luar negeri maupun di dalam negeri.
Pertama, keberhasilan Indonesia mendapatkan hak kedaulatan atas Irian Barat dari Belanda pada tahun 1962. Lalu keberhasilan diplomasi Indonesia sejak era 1960an dalam memperjuangkan konsepsi Laut Nusantara yang akhirnya dituangkan dalam Konvensi dan Hukum Laut PBB (UNCLOS) 1982. Kasus ketiga adalah normalisasi hubungan Indonesia dengan Malaysia di tahun 1966, setelah pada era Bung Karno sebelumnya Indonesia memandang Malaysia sebagai proyek neokolonialisme Inggris di kawasan.
Kasus keempat adalah keterlibatan aktif Indonesia dalam menyelesaikan konflik politik dan kemanusiaan di Kamboja tahun 1991. Lalu kasus penyelesaian Timor Timur yang kini menjadi negara Timor Leste di tahun 1999. Kasus berikutnya proses perdamaian di Aceh tahun 2005. Dan terakhir, upaya Indonesia melalui Presiden Joko Widodo melibatkan diri dalam perdamaian antara Rusia dan Ukraina tahun 2022.
Dalam setiap kasus itu, ada pelajaran-pelajaran penting yang dapat dipetik. Sejumlah kasus berhasil diselesaikan dengan baik. Misalnya peranan Indonesia dalam perdamaian di Kamboja.
"Saya belajar dari Pak Ali Alatas (Menlu RI 1988-1999), dia tidak melakukan ini (mengupayakan perdamaian di Kamboja) untuk kredit. Beliau negarawan sejati, low profile, benar-benar bekerja untuk perdamaian secara tulen,nanti mengetahui secara rinci dokumen perjanjian yang ditawarkan," ujarnya.
Namun ada juga kasus yang tidak begitu berhasil, bahkan gagal sama sekali karena persiapan yang tidak matang dan ketiadaan follow up yang signifikan.
Adapun Desi Fitriani dalam kesempatannya membagikan cerita mengenai liputan konflik yang dilakukannya di sejumlah negara seperti di Gaza, Palestina, juga di Mindanao Selatan, Filipina, dan Timor Leste. Liputan konflik lain yang tidak bisa dipisahkan dari Desi adalah konflik Papua dan konflik Aceh.
Desi membagikan potongan berita yang memperlihatkan dirinya berada di garis depan konflik, di antara peluru yang berdesing.
Desi mengingatkan, wartawan yang melakukan liputan di wilayah konflik wajib memiliki pemahaman mengenai dinamika konflik yang terjadi, termasuk akar konflik dan aktor-aktor yang terlibat dalam konflik berikut tuntutan-tuntutan mereka.
Di sisi lain, Desi mengakui bahwa wartawan yang melakukan liputan konflik menghadapi dilema yang tidak mudah terkait posisi dalam memandang konflik dan kepentingan para pihak.
Pada bagian penutup, Teguh Santosa yang memoderatori diskusi mengatakan, bahwa salah satu masalah yang dimiliki wartawan dalam melakukan liputan konflik adalah persepsi bahwa konflik harus berakhir dengan kemenangan salah satu pihak dan kekalahan pihak lainnya.
"Combative lense ini harus ditanggalkan agar wartawan dapat melihat situasi konflik dengan lebih jernih, dan menghadirkan sisi lain yang lebih humanis dan juga menawarkan alternatif solusi. Selain itu wartawan perlu juga perlu meng-upgrade writing skill atau reporting skill," ujar Teguh yang juga dosen hubungan internasional di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, ini. []
sumut24.co Medan, Anggota DPRD Kota Medan, Modesta Marpaung, S.K.M, S.Keb gelar sosialisasi Perda tentang kesehatan. Modesta menegaskan bah
kota
Bupati Solok Hadiri X Narkoba Nagari Kota Bawang Trail Adventure
News
Bupati Solok Buka Alek Buru Babi di Nagari Kuncia.
News
sumut24.co ASAHAN, Bupati Asahan, Taufik Zainal Abidin, S.Sos., M.Si., secara resmi mendukung dan menghadiri pelaksanaan Kisaran Science Ol
News
sumut24.co ASAHAN, Bupati Asahan, Taufik Zainal Abidin, S.Sos., M.Si., secara resmi menutup Turnamen Sepak Bola Piala DPRD Kabupaten Asahan
News
sumut24.co TANJUNGBALAI,, Wali Kota Tanjungbalai Mahyaruddin Salim turun langsung meninjau progres perbaikan Jalan Asahan dan Jalan Veteran
News
sumut24.co TANJUNGBALAI,, Wakil Wali Kota Tanjungbalai Muhammad Fadly Abdina mendorong Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam
News
Medan sumut24.co Kombes Pol Muhammad Reza Chairul Akbar Sidiq, S.H., S.I.K., M.H., resmi mengemban jabatan baru sebagai Direktur Lalu Lint
News
Polda Sumut Gerebek Sarang Narkoba di Percut Sei Tuan, 27 Orang Positif dan 2 Diduga Pengedar
News
Kapolri Rotasi Tujuh Wakapolda, Brigjen Fadillah Zulkarnaen Adik Ipar Wawako Medan Gantikan Naek Pamen di Sumut
News