MEDAN | SUMUT24
Baca Juga:
Manipulasi data pada Penerimaan Siswa Didik Baru (PPDB) yang terjadi di SMA Negeri 4 adalah bentuk pelanggaran tersistem yang sudah menjadi borok setiap penerimaan siswa baru.
“Dan itu tak terjadi di SMA Negeri 4 saja. Tahun ini, SMA 4 yang kena naasnya, sedangkan tahun kemarin SMA 3 sasaran empuknya. Namun memang begitula dunia pendidikan kita di Medan ini. Semakin kuatlah orang menyebutkan dunia pendidikan di Medan ini hancur,” tegas Kepala Perwakilan Ombusdman Sumut Abyadi Siregar, Rabu (27/7).
Dia menjelaskan, sebenarnya ada tiga cara PPDB, pertama dengan nilai ujian murni, kedua ujian dan ketiga bina lingkungan. Di tahap yang ketiga inilah banyak sekolah yang bermain.
“Tapi jangan heran keberanian kepala sekolah melakukan hal ini juga mendapat dukungan dari Dinas Pendidikan Medan,” kata Abyadi.
Bagaimana tidak, setiap PPDB maka yang banyak mengisi kelas tambahan ini atau dari Bina Lingkungan berasal dari anak-anak titipan. Titipan si anu, anu dan anu.
“Bagaimana kepala sekolah tak mengamini, karena ini sudah permintaan dari dinas. Dinas pun tak bekerja sendiri, ada beberapa jalur lagi yang numpang dan minta tolong pada mereka,” kata Abyadi.
Nah, inilah yang menyebabkan kuota penerimaan siswa baru setiap sekolah tak pernah terungkap, karena masing-masing sekolah menyiapkan “bangku- bangku” barunya untuk anak titipan ini.
Seperti kasus SMA 4 Medan, tak dapat mengungkapkan berapa data real siswa barunya saat ini . Karena hal itu masih akan terus bertambah hingga pertengahan semester nanti.
Hal senada juga dikatakan pengamat pendidikan Ali Nurdin .Dia menegaskan, manipulasi data pada penerimaan siswa baru adalah hal biasa. “Karena disitulah peluang untuk bermain,” tegas Nurdin.
Hingga tak heran,tambah Nurdin acap kali PPDB disebut masa panen bagi sekolah dan disdik. “Bahkan lebih ekstrimnya, masa ganti mobil bagi panitia dan staf yang terlibat PPDB di Disdik Medan,” pungkas Nurdin. (R.05)
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di
Google News