Wiwiek: Inflasi Sumut Mengkhawatirkan Capai 5,21 Persen

176
Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sumut Wiwiek Sisto Widayat, memberikan penjelasan kepada wartawan, Rabu sore (14/8) di Medan. SUMUT24/amru lubis

MEDAN I SUMUT24.CO
Cabai merah, bawang merah, bawang putih, ayam ras dan lainnya menjadi komoditas penyumbang inflasi 2019 yakni cabai merah, bawang merah, bawang putih, ayam ras dan sebagainya.

“Hingga Juli tingkat inflasi Provinsi Sumut secara year to date telah mencapai 5,21 persen, berada di atas inflasi Sumatera dan Nasional. Bahkan inflasi Sunatera Utara menduduki nomor dua secara nasional setelah Sulawesi Selatan,” ujar Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sumut Wiwiek Sisto Widayat, Rabu sore (14/8).

Untuk itu, sambung Wiwiek Sisto, Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sumatra Utara meminta Pemprovsu untuk lebih fokus menstabilkan harga bahan pokok di Kota Medan.

“Kota Medan berkontribusi paling besar, atau mencapai 82 persen dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya. Kenapa tidak difokuskan ke Kota Medan. Kalau Medan terkendali maka inflasi Sumut akan terkendali, karenakan 82 persen kontribusi dari Medan,” kata Wiwiek lagi.

Secara tahunan, inflasi IHK Sumut periode Juli mencapai 6,28 (yoy), jauh lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 5,87 (yoy). Lonjakan IHK bersumber dari kelompok komoditas volatile food (VF) yang mencatatkan angka 15,75 (yoy).

Wiwiek Sisto Widayat menjelaskan harga bahan pokok, cabai merah masih menjadi faktor utama panyebab inflasi di beberapa daerah, termasuk Sumut. Menurutnya, hal tersebut sebagai akibat dari kemarau panjang.

“Selain itu, kami juga dapat info dari petani ada beberapa hama yang membuat keriting daun cabai, sehingga membuat cabai busuk sebelum matang,” jelasnya.

Guna menggendalikan inflasi daerah, BI bersama dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk menemukan solusi-solusi baik dari jangka pendek, menengah, dan jangka panjang.

“Apa yang dikerjakan TPID, untuk mencoba agar inflasi tidak terlalu tinggi, terus melakukan berbagai upaya agar tidak terlalu tinggi. Caranya kita tetap mengacu road map yang sudah ditandatangani Sumut di 33 kabupaten, yaitu bagimana kita menjaga ketersediaan pangan, keterjangkauan harga, menjaga kelancaran distribusi, kita tetap melakukan komunikasi kepada stakeholders, asosiasi perdagangan, asosiasi komoditi para pedagang dan masyarakat, semua elemen dan dan semua unsur,” ungkap Wiwiek.

Sebelumnya, pihaknya bersama Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi sudah melakukan survei di kabupaten Batubara. Menurutnya, daerah Batubara dapat menjadi sentra baru produksi cabai merah. “Totalnya sangat menjanjikan, kurang lebih ada lahan 400 hektar di Batubara (untuk produksi cabai),” jelasnya.

Wiwiek menjelaskan pengendalian harga juga dapat dilakukan dengan controlled atmosphere storage (CAS), yakni teknologi pengkondisian atmosfer pada ruang penyimpanan komoditas hortikultura.

Itu digunakan untuk mempertahankan mutu dan memperpanjang umur simpan buah dan sayuran. “Kalau yang jangka panjang bisa belajar dari DKI Jakarta dengan membentuk Badan Usaha Pangan, mereka berhasil menstabilkan harga bahan pokok. Sumut apalagi sebagai produsen pasti lebih mudah,” katanya. (R03)

Loading...