Tahun 2015 di RSUPH Adam Malik Tiga Pasien Meningitis Meninggal

406
Pada Tahun 2015, Rumah Sakit Umum Pusat H Adam Malik menangani sekitar 15 hingga 20 pasien meningitis atau radang selaput otak. Dari jumlah tersebut dua hingga tiga pasien meninggal karena mengalami meningitis purulenta atau meningitis bakteria.
“Jadi untuk penanganan penderita meningitis atau radang selaput otak di RSUP H Adam Malik tahun 2015 rata-rata 15 sampai 20 pasien dalam setahun. Dalam jumlah tersebut yang meninggal hanya dua atau tiga orang,” ujar Dr dr Kiking Ritarwan SpSK MKT yang ditemui di RSUP H Adam Malik, Rabu (10/8).
Pasien yang meninggal dunia itu, lanjutnya, tidak hanya menderita menginitis saja. Namun sudah memiliki penyakit lainnya alias sudah komplikasi. Bisa karena efek daripada mungkin bisa terjadi karena hidrosefalus (hydrocephalus), kemudian bisa karena komplikasi kejang-kejang bisa berlanjut menjadi ensevalitis.
“Memang yang ditakuti pada meningitis ini yakni meningitis purulenta. Karena meningitis jenis ini yang paling banyak menyebabkan pasien meninggal,” jelasnya
Penyebab meningitis ini lanjutnya, ada tiga, yakni, ada disebabkan bakteri yang disebut dengan meningitis purulenta. Kemudian ada yang dikatakan meningitis viral, kemudian meningitis jamur serta meningitis oleh karena TB yang biasa disebut Meningitis Tuberkulosa.
“Banyak macam cara meningitis ini bisa diidap oleh seseorang,” cetusnya. Salah satu cara melalui efek langsung perkontinuitatum. Misalnya memijit-pijit jerawat. Saat memijit jerawat harus berhati-hati. Dengan pijitan itu bisa memecahkan trombosis sinus. Jika trombosis sinus ini pecah dan masuk ke saluran daripada sinus-sinus itu, yang mana diketahui sinus ini sangat dekat dengan proses terjadinya radang selaput otak.
Untuk mengetahui apakah seseorang itu mengidap salah satu jenis meningitis, seorang dokter spesialis syaraf harus melakukan lumbal fungsi yang merupakan pemeriksaan yang paling akurat untuk mengetahui apakah itu kategori jenis meningitis purulenta, TB atau jamur.
Untuk antisipasi terhadap penyakit ini, sambungnya, masyarakat harus menjaga kebersihan tangan. Pakailah enam langkah untuk membersihkan tangan dengan baik, masaklah makanan dengan bersih, hindari tempat-tempat yang kumuh terutama bagi penderita TB. Jadi misalnya daerah-daerah di pinggir sungai yang kadang-kadang tidak masuk sinar matahari, tertutup udara.
“Ini bisa menimbulkan dampak pada kesehatan, jangan mengorek-ngorek kuping, hidung dengan menggunakan tangan saat kondisi tidak bersih. Kadang kita juga sering lupa pada saat kita sakit kepala. Kadang kita masukan paper klip ke telinga. Ini bisa menimbulkan luka, luka inilah yang dapat menimbulkan radang ke selaput otak,” paparnya.
Faktor Resiko
Untuk di Indonesia pasien meningitis tercatat yang paling banyak di Bandung. Dalam setahun bisa 60 hingga 70 pasien. Sebabnya di daerah sekitar Cimahi, Cibaduyut di sekitar Bandung itu masih ada daerah yang terbelakang. Kalau di Sumut mungkin di Medan pinggiran. Coba lihat di sekitar Sungai Deli, misalnya, itu masih ada tempat yang masih kumuh. Dan pembuangan sampah, atau pun kebersihannya masih kurang.
“Ini bisa menjadi faktor resiko terjadinya suatu infeksi daripada meningitis,” ujarnya. Bisa juga disebabkan malnutrisi, jangan salah. Karena meningitis ini juga sering dialami anak-anak. Dewasa itu paling komplikasi akhir. Jadi pada anak-anak itu, misalnya kurang gizi, terjadi suatu infeksi kuman TB. “Pada anak-anak mendapat pengobatan namun setelah dewasa mungkin kurang mendapat makanan kurang bersih, ya bisa kembali lagi,” pungkasnya.
Loading...