Sistem Zonasi Bikin Jamaah Calhaj Serasa di Kampung Sendiri

71

MAKKAH | SUMUT24

Oleh  : Bupati Sergai, H Soekirman.
(Laporan langsung dari Makkah)

Tahun ini pemerintah telah menerapkan sistem pemondokan berdasarkan zonasi untuk mempermudah manajemen para jemaah calon haji (calhaj) asal Indonesia saat di Makkah. Kebijakan zonasi diterapkan dikarenakan beberapa pertimbangan pelayanan untuk jemaah seperti bahasa, budaya, adat istiadat.

Sebagai contoh sistem zonasi memudahkan petugas untuk memberikan atau menyediakan makanan khas daerah.

Ternyata sistem ini sangat disukai, sebab para jamaah calon haji serasa berada di kampung halaman sendiri.

Hal ini seperti yang disampaikan langsung oleh Bupati Sergai, H.Soekirman dari Makkah Al Mukaromah. Menurutnya, zonasi Syisyah merupakan embarkasi Aceh, Medan, Padang, Batam, dan Makasar.

Dia mengaku seluruh jamaah calon haji asal Sumut berada di Syisyah .

“Jamaah calon haji Sergai, Tebinggi, Nias masuk dalam kloter 7. Mereka berada di zonasi Syisyah tepatnya di Hotel Rehab Al Mahabbah maktab 117 dengan 15 lantai. Begitu juga dengan kloter lainnya seperti Medan, Binjai, Simalungun, Sibolga, Tanjungbalai, dan lainnya juga berada di Syisyah. Lokasinya juga tidak berjauhan dari hotel kami. Sehingga rasa persaudaraan para jamaah disini tampak sangat kental, ” ungkap Soekirman.

Tak hanya itu, disini juga terdapat Toko Indonesia. Dimana di toko ini banyak menjual barang-barang seperti layaknya di negeri kita.

“Bagi yang coba masak sendiri beras pandan wangi atau jasmin R 6/kg, sambal terasi R 15/botol, tomat R 6/kg, cabe merah/hijau R 10/kg, kerupuk R 5/bks, pisang ambon R 10/kg, popmi R 5/gelas, dan banyak lagi ditawarkan seperti obat2an ada minyak angin, tolak angin, dll. Bagi yang tidak suka masak sendiri di restoran Indonesia tersedia, lontong, soto madura, bakso, nasi campur, nasi pecal, rata-rata R 12/porsi, teh manis panas R 2/gls, juice mangga, lemon R 3/porsi. Semua serasa menu di kampung sendiri,” terang Soekirman.

Namun bagi yang suka jatah makanan dari daker Kemenag juga rasanya cukup lezat. Ada menu nasi, dàging atau ayam goreng, dan ikan, telor dadar, serta sayuran, sambel tempe dan brokoli.

Masing-masing jamaah biasanya diberi 1 kotak dengan isi teh, kopi, gula dan 1 gelas saat sarapan pagi.

Menurut amatannya, pondokan zonasi hampir semuanya ada masjid lokal, yang melaksanakan sholat fardu dan ada pula tausyiah tuan syekh yg diterjemahkan pakai bahasa Indonesia.

“Kapasitas masjid masing-masing maktab berkisar untuk 500 orang termasuk perempuan dilantai atas. Jarak masjid hanya sekitar 20 meter dari pondokan. Ini sangat membatu bagi jemaah yang tidak pergi ke masjidil Haram,” katanya.

Untuk oleh-oleh seperti kurma nabi, sajadah, pernak pernik, jam tangan, batu cincin, baju gamis, topi lobe, tasbih, mainan anak, dll cukup tersedia di Toko Indonesia. Umumnya pemilik toko orang arab tetapi bisa berbahasa Indonesia.

Loading...