SEJARAH KABUPATEN PROBOLINGGO

261

SEJARAH KABUPATEN PROBOLINGGO

Oleh : Dr. Purwadi, M.Hum. Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara
LOKANTARA

A. Makna Probolinggo, Probo berarti Cahaya dan Linggo berarti Pengabdian yang kokoh

Kabupaten Probolinggo berdiri pada tanggal 18 April 1746. Kanjeng Raden Tumenggung Joyolelono dilantik sebagai Bupati Probolinggo oleh Kanjeng Sri Susuhunan Paku Buwono II. Raja Surakarta ini terkenal sebagai narendra gung binathara, mbahu dhendha nyakrawati, ambeg adil paramarta, ber budi bawa laksana, memayu hayuning bawana.

Surat keputusan berdirinya kabupaten Probolinggo diserahkan oleh Patih Pringgalaya. Turut hadir dalam upacara pelantikan Bupati Joyolelono, yaitu Pangeran Yudonegoro, Bupati Surabaya beserta Kanjeng Ratu Pandan Mas. Juga diundang Bupati Sumenep, Kanjeng Raden Tumenggung Aryo Jaingpati Cokronagoro. Datang pula Bupati Pamekasan, Pangeran Adipati Surya Kusuma Raganata. Pada kenyataannya Bupati Sumenep, Bupati Pamekasan, Bupati Surabaya dan Kerajaan Surakarta masih ada hubungan keluarga.

Raden Tumenggung Joyolelono adalah putra Pangeran Yudonegoro Bupati Surabaya. Ibunya bernama Kanjeng Ratu Pandan Mas, putra raja Mataram, Sinuwun Amangkurat Amral. Ratu Pandan Mas juga adik kandung Sinuwun Paku Buwono II raja Mataram tahun 1606 – 1645. Sedangkan Pangeran Yudonegoro adalah anak Ratu Handayani, putri Panembahan Ronggo Sukowati, Bupati Pamekasan. Adik Pangeran Yudonegoro, Rara Sulastri menikah dengan Tumenggung Arya Anggadipa, Bupati Sumenep.

Biaya pemekaran kabupaten Probolinggo lebih dari sembilan puluh persen berasal dari uang pribadi Ratu Pandan Mas. Istri Bupati Surabaya ini terkenal sebagai pengusaha kaya raya. Ratu Pandan Mas memiliki usaha industri garam Pamekasan, mebel ukir-ukiran di Jepara, kebun kayu jati di Pati, pabrik kecap di Grobogan, pabrik trasi di Lasem Rembang, kerajinan perak Kotagedhe. Ratu Pandan Mas juga komisaris utama pelabuhan Tanjung Emas, Tanjung Kodok dan Tanjung Perak. Boleh dikatakan Ratu Pandan Mas adalah istri Bupati Surabaya yang kaya raya.

Lima hari sebelum upacara pelantikan Bupati Joyolelono, terlebih dulu diselenggarakan diskusi sejarah budaya. Bertindak sebagai narasumber yaitu Pangeran Wujil, masih keturunan Empu Tantular. Pangeran Wujil bercerita tentang kejayaan Majapahit. Prabu Hayamwuruk pada tahun 1354 berkunjung ke wilayah Banger. Beliau menyelenggarakan upacara Sarada untuk menghormati arwah leluhur.
Masyarakat Probolinggo begitu bersemangat mendengarkan uraian Pangeran Wujil. Pujangga Kraton Surakarta ini terkenal sebagai penulis ulung. Kerap memberi pelatihan tentang kesadaran sejarah, budaya, seni, bahasa dan sastra. Pangeran Wujil juga memberi penjelasan tentang kepahlawanan Patih Gajahmada. Pada tahun 1357 Patih Gajahmada pernah datang ke gunung Argopuro untuk mahas ing ngasepi, ngeningke cipta amepet babahan hawa sanga. Makanya Patih Gajahmada terkenal sakti mandraguna.

Pangeran Wujil memberi anjuran kepada generasi muda Probolinggo agar mau belajar kitab Jawa Klasik. Misalnya : kitab Kakawin Arjuna Wiwaha karya Empu Kanwa, kakawin Baratayuda karya Empu Sedah dan Empu Panuluh, kakawin Smaradahana karya Empu Barada, kakawin Sutasoma karya Empu Tantular dan kakawin Negarakertagama karya Empu Prapanca. Dari sastra Jawa klasik itu akan diperoleh nilai luhur. Misalnya semboyan Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Darma Mangrwa.

Kepanitiaan acara sarasehan budaya ini melibatkan segenap lapisan masyarakat. Turut hadir warga dari daerah Bantaran, Banyuanyar, Besuk, Drengu, Gading. Mereka bertugas untuk menyiapkan tempat dan perlengkapan. Konsumsi, akomodasi, transportasi diurus oleh warga dari daerah Gending, Kotaanyar, Kraksaan, Krenjengan, Krucil, Kuripan, Leces, Lumbang, Maron. Mereka bekerja dengan semangat sekali. Sedangkan urusan acara protokol dipegang oleh warga dari daerah Paiton Pajarakan, Pakuniran, Sukapura, Sumber, Sumberasih, Tiris, Tegalsiwalan, Tongas, Wonomerto. Etos kerja mereka dilandasi oleh cita-cita mulia, lila lan legawa, kanggo mulyane negara.

Suasana peresmian kabupaten Probolinggo sangat meriah, megah, mudah. Sinuwun Paku Buwono II dan rombongan disambut dengan iringan gendhing Monggang. Raja Surakarta mengenakan busana kebesaran kraton : kuluk kanigara, sabuk wala, sabuk timang, dodot bangun tulak, nyamping parang barong, slop kulit cemeng. Para bupati Bang Wetan, Bang Kulon dan pesisir mengiringi dari belakang, dengan pengawalan barisan prajurit Jayeng Astro, Prawiro Anom, Jayasura, Daropati, Surogeni.

Bupati Joyolelono telah resmi dilantik menjadi pemimpin kabupaten Probolinggo. Sejak tanggal 18 April 1746. Rakyat bergembira ria. Suara gendhing Kebo Giro berkumandang. Mereka pesta pora di alun-alun. Tak lupa gelar seni budaya : ludruk, reyog, jaran kepang, ketoprak, wayang wong, wayang purwa. Warga Probolinggo bertekad dengan semboyan prasaja ngesti wibawa. Artinya bersahaja untuk menciptakan kemuliaan.

Mijil

Sang Patih sigra anata baris
nyawiji gumolong
dhampyak dhampyak gumregut lampahe
binarung krapyak myang watang agathik
gumelar ngebaki
suraknya gumuruh

Lagu
Mbata rubuh budhale wadya gumuruh
tumandang girang-girang
cukat ceket tandang
jumangkah gagah gumregah liru pernah
wus samapta siyaga
gya makarya angangkat
karyane praja murih kerta raharja.

Kembul bujana andrawina, jamuan makan minum untuk menghormati tamu agung. Masyarakat Probolinggo benar-benar beruntung, berbahagia. Probo artinya sinar, linggo berarti pengabdian. Dengan melakukan pengabdian yang tulus, maka warganya akan bersinar terang. Inilah masa kejayaan, keemasan, kemakmuran. Probolinggo tampil sebagai kabupaten yang panjang punjung pasir wukir, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja.

B. Kemajuan Kabupaten Probolinggo dalam Lintasan Peradaban Agung

Permaisuri Sinuwun Paku Buwono II bernama Kanjeng Ratu Mas. Beliau putri Bupati Lamongan. Pada tahun 1748 berkunjung ke perkebunan Teh Andung Biru Probolinggo. Ibu-ibu dari karaton Surakarta datang untuk membeli oleh-oleh. Program darma wisata ini rutin dilakukan ke wilayah Bang Wetan. Perkebunan Teh Andung Biru memang bersuasana indah permai.

Pada tahun 1769 Ketua Darma Wanita Kabupaten Probolinggo, Ibu Adipati Joyonagoro diundang untuk studi banding di Kraton Surakarta Hadiningrat. Ibu-ibu dari daerah Bantaran, Banyuanyar, Besuk, Dringu, Gading belajar batik di Laweyan. Ibu-ibu dari daerah Gending, Kutoanyar, Kraksakan, Krenjengan, Krucil, Kuripan belajar masak sego liwet di Baki Sukoharjo. Ibu-ibu dari daerah Leces, Lombang, Maron, Pejarakan, Sumber, Pakuniran, Sukopuro, Tiris, Sumberasih, Tegal Siwalan, Tongas, Wonokerto belajar membuat jamu di Nguter dan Tawangsari. Tujuan mereka belajar untuk mengasah ketrampilan sehingga dapat membuka lapangan usaha di bidang ekonomi mandiri.

Hubungan karaton Surakarta dengan kabupaten Probolinggo semakin erat. Permaisuri Sinuwun Paku Buwono IV berasal dari Pamekasan Madura. Namanya Raden Ajeng Sukaptinah. Beliau bergelar Kanjeng Ratu Kencono Wungu atau Ratu Handayawati. Putri Bupati Cakraningrat Pamekasan ini akrab dengan Bupati Condronagoro. Masih saudara sepupu. Pada tahun 1807 Bupati Condronagoro rapat dengan garwa prameswari, Raja Surakarta bertempat di gedung Graha Agung Surabaya. Beliau membicarakan pertanian dan perkebunan supaya masyarakat Probolinggo bertambah makmur.

Pada tahun 1884 Sinuwun Paku Buwono IX berkunjung ke Probolinggo. Beliau meninjau pembangunan jalan kereta api dan stasiun Probolinggo. Bupati Wijoyo Kusumo dan masyarakat Probolinggo begitu bersemangat dalam melakukan pembangunan transportasi. Kereta api diyakini memperlancar roda perekonomian. Lalu lintas barang dan jasa berjalan dengan begitu mudah dan murah. Probolinggo bisa diakses ke segala arah Tanah Jawa.

Selama kunjungan kerja di Probolinggo, Sinuwun Paku Buwono IX melakukan ritual di Tengger. Beliau memang ahli tapa brata, semedi, meditasi. Kegiatan spiritual ini didampingi Bupati Wijoyo Kusumo beserta aparat Probolinggo. Kebetulan saat itu pada bulan Suro. Lantas dilanjutkan dengan kungkum di Kali Kedunggaleng. Siram jamas itu bertujuan untuk reresik dhiri. Biar segala masa bahaya sirna. Semua demi keselarasan kehidupan rohani dan jasmani.

Bupati Nitinagoro pada tahun 1912 mengirim warga Probolinggo untuk magang kerja di pabrik gula Manis Harjo, sebagian magang kerja di perkebunan teh Ampal Boyolali. Juga belajar mengelola kebun kopi Kembang di Semarang. Semua perusahaan itu milik kraton Surakarta Hadiningrat. Waktu itu rajanya Kanjeng Sinuwun Paku Buwono X.

Begitulah masyarakat Probolinggo meniti perjalanan sejarah secara paripurna. Guyug rukun, gotong royong, kebersamaan dan tolong menolong menjadi landasan hidup. Masyarakat Probolinggo dulu, kini dan masa mendatang siap menyongsong kehidupan yang cemerlang. Probolinggo semakin arum kuncara ngejayeng jagad raya.

C. Para Bupati Probolinggo yang berdarma bakti kepada Ibu Pertiwi

1. Adipati Joyolelono 1746 – 1768
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono II, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

2. Adipati Joyonagoro 1768 – 1805
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono III, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

3. Adipati Condronagoro 1805 – 1808
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IV, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

4. Adipati Joyodiningrat 1808 – 1810
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IV, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

5. Adipati Han Kek Koo 1810 – 1813
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IV, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

6. Adipati Suryodiningrat 1813 – 1816
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IV, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

7. Adipati Notodiningrat 1816 – 1821
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IV, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

8. Adipati Panji Notonagoro 1821 – 1837
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono V, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

9. Adipati Wiryowijoyo 1837 – 1840
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono VII, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

10. Adipati Prawiro Adiningrat 1840 – 1843
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono VII, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

11. Adipati Cokronagoro 1843 – 1843
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono VII, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

12. Adipati Suryodinagoro 1843 – 1855
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono VII, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

13. Adipati Suryoningrat 1855 – 1879
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono VII, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

14. Adipati Wijoyokusumo 1879 – 1888
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

15. Adipati Surengrono 1888 – 1894
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

16. Adipati Abdul Mugani 1894 – 1901
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono X, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

17. Adipati Nitinagoro 1901 – 1916
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono X, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

18. Adipati Aryopujo 1916 – 1930
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono X, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

19. Adipati Abdurrahim Pratalikromo 1930 – 1944
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono X, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

20. Adipati Sudarnoto Amidarmo 1944 – 1947
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono XI, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

21. Raden Sudut Alif 1947 – 1949
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

22. Susilo Tondo Anujoyo 1949 – 1950
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

23. Subandi Hadinoto 1950 – 1957
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

24. Ahmad Tahir Hadisuparto 1957 – 1960
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

25. Lantip 1960 – 1966
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

26. Moh Ishak 1966 – 1973
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

27. Kol. Moh. Sunjoto 1973 – 1978
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

28. Kol. Sudirman Mertoadikusumo 1978 – 1983
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

29. Kol. Sutarjo 1983 – 1988
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

30. Kol. Suprapti 1988 – 1991
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

31. Pamuji 1991 – 1998
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

32. Kol. Murhadi 1998 – 2003
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

33. Drs. Hasan Aminudin 2003 – 2013
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Megawati.

34. Puput Tantriana Sari 2013 – 2023
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Asmaradana Serat Damarwulan

Anjasmara ari mami
Mas mirah kulaka warta
Dasihmu tan wurung layon
Aneng kutha Prabalingga
Prang tandhing lan Wuru Bhisma
Kariyamukti wong Ayu
Pun Kakang pamit palastra

Wus bejane awak mami
Tan tulus pangestuning tyas
Dhasar gembeng wong acingeng
Aja gawe wirang Bisma
Mara age patenana
Eman-eman dhuh Wong Bagus
Yen mengko nganti palastra

Iba dukaning narpati
Ratu ayu Majalengka
Yen sira nemahi layon
Mbenjang yen ingsun kepanggya
Paran matur manira
Mesthine ingsun katempuh
Mangka pepulihing duka.

Sira sun anggep pangarih
Murih careming asmara
Mariya nggonku wirage
Prabu kenya nuli prapta
Nusul nggoningsun nendra
Sun kudang aneng jinem rum
Sung rungrum amanuhara.

Kabupaten Probolinggo sangat dikenal di lingkungan para budayawan Jawa. Para waranggana dan wiyaga kerap mengutip nama Probolinggo yang tercantum dalam tembang asmaradana. Lagu asmaradana amat terkenal. Kerap digunakan untuk resepan, gerongan dan ura-ura. Isinya kisah asmara Damarwulan pada kerajaan Majapahit.

Romantika kisah-kasih yang melegenda. Cerita ini dari awal sampai akhir menampilkan adegan humor, lucu, segar dan menghibur. Dulce et utile, tontonan yang menyenangkan dan berguna. Itulah prinsip kebenaran universal. Generasi muda Probolinggo perlu mempelajari seni budaya warisan leluhur agar jati diri dan kepribadian bangsa semakin kokoh.

Ditulis oleh : Dr. Purwadi, M.Hum, 8 Juli 2020
Jl. Kakap Raya 36 Minomartani Yogyakarta

Loading...