Segera Bangun Pabrik Minyak Goreng di Langsa

0
1857

Langsa I SUMUT24
Tenaga Ahli dari Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, Didi Apriadi, meninjau dua lokasi yakni Kuala Langsa, Kecamatan Langsa Barat dan Gampong (desa) Timbang Langsa, Kecamatan Langsa Baro, yang akan dijadikan sebagai kawasan industri minyak goreng di wilayah Pemko Langsa, Jumat (25/3).

Pantauan di lapangan, sekitar pukul 15.30 WIB Didi Apriadi tiba di Kantor Sekretariat Pemko Langsa, langsung disambut oleh Wakil Ketua DPRK Langsa, Faisal, Ketua DPD Partai Hanura Kota Langsa, Ali Sadly, Asisten I Pemko Langsa, Suriyatno AP MSP, Kepala Dinas Koperasi Perindustrian Perdagangan dan Usahan Kecil Menengah (Diskoperidag dan UKM) setempat, Ariman dan Kepala Bapeda setempat, Saed Fadli.

Selanjutnya, setelah berbincang beberapa menit menuju ke lokasi Kuala Langsa untuk melihat secara langsung kawasan itu.Disela-sela kunjungannya Didi Apriadi kepada wartawan, mengatakan, tujuan, kedatangan ini justru ingin melihat dulu lokasinya yang nantinya akan direncanakan membangun industri minyak goreng.

Diakuinya, rencana untuk pembangunan industri ini sudah dari tahun 2014, bahkan, sudah cukup matang karena Detail Engineering Design (DED) telah dipersiapkan oleh Pemko Langsa.

“Atas dukungan dari teman-teman di daerah, makanya kita datang langsung untuk meninjau lokasinya,”ujar Didi Apriadi yang juga menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Hanura Pusat.

Selain itu, lahannya juga sudah disiapkan dan tinggal mencari investor untuk melakukan investasi. Sementara mengenai masalah-masalah aspek hukumnya nanti kita akan mencari solusinya bersama-sama dan demi industri ini bisa terbangun mestinya harus saling membantu.

Ketika ditanya solusi seperti apa yang akan dilakukan oleh pihak Kementerian Perindustrian agar bisa dibangun industri disini, ia menjawab, kalau itu porsinya pak Dirjen dan saya hanya melihat dulu situasinya bagaimana dan nanti kita akan laporkan ke kementerian, karena sifatnya hanya melihat kembali apa-apa yang menjadi masalah di dalam saat ini.

“Intinya kita mendukungnya dan akan melihat secara menyeluruh apa-apa yang belum siap dan nantinya dilaporkan kepada pak menteri, karena kita ingin sekali memajukan Kota Langsa di bidang perindustrian,”ujarnya lagi.

Lebih lanjut Didi Apriadi mengatakan, secara perencanaan ataupun dampak lingkungan itu sudah cocok dan tinggal kenapa? ini belum terealisasikan. Apakah ini masalah invertasinya yang coba kita kejar.

Apalagi, dilihat hasil kajian yang dibuat oleh Pemda setempat, dimana hasil CPOnya sudah memadai, kebutuhan minyak sawit di Propinsi Aceh cukup banyak. Ditambah lagi, dengan adanya hasil disini yang bisa di ekspor, maka untuk menguatkan keberadaan industri di kawasan Kuala Langsa sudah layak karena kalau impor itu sudah biasa.

“Ini tergantung bagaimana teman-teman di Kota Langsa untuk meningkatkan kreatifitasnya.Ya, seperti ini salah satunya kita telah meninjau lokasinya dan nanti dilaporkan kepada pak menteri.Mudah-mudahan dengan adanya industri ini akan adanya percepatan,”ujarnya.

Bahkan, lahannya sudah ada tapi tidak dimanfaatkan sangat disayangkan,kemudian kebutuhan marketingnya dan komitmen dari Pemko Langsa pun sudah ada. Informasinya provinsi sudah mau menyiapkan secara fisik, hanya tinggal masalah siapa yang mau menjalankan operasionalnya, makanya kita doakan industri ini akan berkembang dengan cepat, sehingga bisa mengembangkan produktifitas di Kota Langsa khususnya dan di Aceh umumnya.

Usai dari Kuala Langsa kemudian menuju ke lokasi Gampong Timbang Langsa dan sesampainya disana Didi Apriadi bersama rombongan tadi langsung disambut oleh Wakil Wali Kota Langsa, Drs H Marzuki Hamid MM.

Disela-sela itu Marzuki Hamid mengatakan, di lokasi ini Pemko Langsa telah menyiapkan lahan seluas 101 Ha termasuk untuk kawasan industri terutama untuk pembangunan pabrik minyak goreng, bahkan, DED dan Analisa mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) sudah ada.

“Kita sudah siapkan lahan yang telah memiliki sertifikatnya untuk pembangunan kawasan industri terutama minyak goreng.Sementara kita hanya tinggal kepastian dari pihak kementerian dan kerjasama operasional (KSO) pun sudah siap,”ujarnya.

Diakuinya, mengenai pembangunan pabriknya barangkali menjadi kewajiban pemerintah daerah, karena sebenarnya dulu sudah ada dialokasikan anggaran untuk itu sebesar Rp10 miliar, tapi harus di revisi karena dari pusat dulu melalui Kementerian Perindustrian belum jelas atas bangunan mesin pabriknya.

Sementara di lokasi Kuala Langsa selain pembangunan pabrik industri CPO juga akan di bangun power plant pembangkit listrik tenaga uap dan gas (PLTGU) sebesar 2×250 MW, tangki CPO, galangan dok kapal dan industri tiket. Bahkan, ada beberapa MoU yang sudah ditandatangani dengan pihak investor tapi ini hanya menunggu kesiapan saja.

Lebih lanjut Marzuki Hamid mengatakan, dari keterangan Tenaga Ahli Kementerian Perindustrian untuk pembangunan industri ini direalisasikan pada tahun 2017 yang diupayakan masuk dalam program APBN.

Sementara mengenai lahan di Kuala Langsa seluas 115,32 Ha yang kini sudah ditetapkan menjadi tanah terlantar oleh Kementerian Agraria dan Tata Ruang,

Pemko Langsa sekarang sedang berupaya untuk mendapatkan izin pendayagunaannya.

“Kita berharap kepada Pemerintah Pusat supaya segera menjadi kenyataan karena ini sudah yang ketiga kali dari kementerian turun ke Kota Langsa,”harapnya.(Han)