Sari Rejo Strategis Lahan Properti

Medan | Sumut24
Kawasan Sari Rejo dan bekas Bandara Polonia Medan dinilai layak jadi lahan pengembangan porperti yang akan dibangun rumah toko (ruko) dan pusat bisnis serta properti. Hal itu ditegaskan Ekonom Sumut, Gunawan Benjamin kepada SUMUT24, Minggu (21/8).

Lebih lanjut dikatakan Gunawan, meski untuk pengembangan kawasan properti di Medan, tak mesti terfokus pada kawasan Polonia Medan, tapi masih banyak lahan kosong di Medan yang bisa dijadikan lahan properti.

Secara keseluruhan memang kota Medan masih membutuhkan perluasan wilayah untuk pengembangan kota. Saat ini lahan-lahan yang tersedia di kota Medan memang sudah sangat terbatas. “Sehingga jika melihat potensi wilayah Sari Rejo untuk pembangunan wilayah perkotaan baru, memang wilayah itu cukup strategis. Dari sisi bisnis pengembangan wilayah tersebut jika memang mampu dikelola cukup baik, maka akan memberikan manfaat secara ekonomis,” ujar Gunawan Benjamin.

Namun, menurutnya, lahan yang tidak mengganggu kediaaman warga selama bertahun tahun bukan hal yang baik, jika dilakukan penggusuran dengan niat membangun properti untuk kemajuan kota Medan.

“Masih banyak lahan lahan di Medan yang dapat dijadikan lahan properti, yang tidak mengganggu kediaman warga setempat,” tegas Gunawan Benjamin.
Pertumbuhan masyarakat kelas menengah yang tumbuh cepat akhir-akhir ini memang cukup menjanjikan untuk membangun bisnis hunian ataupun pusat perbelanjaan. Selain itu, walau dilihat dari wilayah sekitar bandara LANUD Soewondo tersebut juga memiliki luas areal lahan yang memungkinkan untuk pengembangan kawasan perumahan ataupun pusat perbelanjaan yang strategis.
“Saya melihat pembangunan kawasan perkotaan baru di sekitar Medan terus menunjukan progess yang menakjubkan. Beberapa wilayah lain di sekitar kota Medan saat ini juga terus berubah menjadi kawasan hunian serta munculnya kota-kota kecil baru,jadi tidak harus lahan paksa,” ujarnya.

Jika nanti Sumut mampu merealisakan pertumbuhan ekonomi yang signifkan setelah masa pelemahan harga komoditas ini berakhir, bukan tidak mungkin kebutuhan lahan di Kota Medan akan semakin tinggi nantinya.
“Sebaiknya sudah dipikirkan agar pembangunan tidak terfokus di satu titik saja. Pemerintah perlu membangun infrastruktur di titik lain sehingga kebutuhan akan tempat hunian tersebut tidak hanya terpusat di tengah kota,” pungkasnya.

Tanah Warga Dilirik Pengembang

Sementara itu, sekira tiga lalu beberapa warga yang bermukim di Sari Rejo pernah diisukan tanah-tanah yang mereka miliki dan tempati itu akan dibeli oleh pihak pengembang untuk dibangun properti.

Isu yang berkembang ada pihak ‘tuan tanah’ di Medan yang akan membeli lahan-halan milik warga, Tujannya untuk dibangun pusat bisnis seperti yang sekarang sudah berdiri pusat bisnis tak jauh dari lahan warga di Sari Rejo yakni bangunan CDB Polonia.

Sayangnya saat ditanya kepada warga Sari Rejo pengembang atau ‘tuan takur’ mana yang kan memborong tanah warga itu, masyarakat tak tau dan
‘enggan’ menyebut nama perusahaannya. Tapi ada kesepakatan warga Sari Rejo dengan kalimat yang menegaskan, “Kalau yang beli tanah warga di Sari Rejo pihak TNI AU, jangan mau jual tanah, karena harganya akan murah sekali. Tapi bila yang membeli pihak pengembang atau perusahaan swasta, jual saja karena harganya pasti mahal,” itulah komentar warga di Sari Rejo.

Sementara itu, sekira tiga tahun lalu atau tahun 2013 lalu, juga salah satu harian terbitan di Sumut telah memberikatakan, bahwa landasan pacu Polonia Medan sudah dilirik investor Malaysia yang akan membangunnya dengan bangunan 100 lantai. Bahkan investor Malaysia itu serius mebeli dan membangun Polonia jadi pusat bisnin di Medan.

Sayangnya, dikarenakan bekas Bandara Polonia Medan yang berganti nama jadi Lanud Soewondo oleh pemerintah pusat tetap tak dijual ke swasta dan tetap dijadikan tempat latihan pesawat tempur, maka rencana membangun gedung 100 lantai itupun hingga kini tinggal kenangan saja. Inilah isu-isu soal lahan-lahan milik pemerintah maupun milik warga di Sari Rejo, Polonia Medan yang akan diunah jadi pusat bisnis, hingga sekarang tak jelas pengembangannya. Tapi tragedi berdarah telah terjadi pada Senin 15 Agustus 2016 lalu, Warga Sari Rejo dan TNI AU bentrok bahkan melibatkan kalangan jurnalis (wartawan) hingga buntuntnya jani naisonal dan internasional karena turunnya langsung Komnas HAM ke lokasi untuk mencari bukti dan fakta di lapangan.

Curigai Sari Rejo Dijual ke Pengembang
Sementara itu, Ketua Formas Sari Rejo Pahala Napitupulu mengatakan, belum bisa memperkirakaan bahwa lahan tanah di Kelurahan Sari Rejo, Kecamatan Medan Polonia akan dijual ke pihak pengembang.

“Kita belum memperikarakan ke arah sana,” tegas Pahala Napitupulu kepada SUMUT24 saat dimintai tanggapannya, pasca bentrok antara TNI AU dengan warga Sari Rejo Kecamtan Medan Polonia yang mengakibatkan beberapa warga dan dua jurnalis terluka pada peristiwa 15 Agsutus 2016 lalu.

Hanya saja, ujar Pahala, dirinya menduga dan mencurgai pada peristiwa 15 Agustus tersebut, pihak TNI AU yang menabrak ban-ban bekas dan ranting pohon sebagai blokade warga berunjuk rasa, agar dapat menguasai situasi. Selanjutnya akan melakukan pembersihan lahan yang sudah dipatok atau diukur tersebut.

“Hal itu patut kita curigai dan duga,” ucanya saat menjenguk Andre Saprin, salah seorang Jurnalis MNC Grup korban keberuralan TNI AU, di RSU Royal Prima, Jalan Ayahanda Medan, Sabtu (20/8) kemarin.

Sementara, sekitar 20-an orang perwakilan warga masyarakat Kelurahan sari Rejo Kecamaran Medan Polonia yang tergabung dalam Forum masyarakat (Formas), Sari Rejo ikut menjengnguk Andre Saprin, wartawan yang menjadi korban kebrutalan TNI AU, di RS Royal Prima Jalan Ayanda Medan, Sabtu (20/8).

Dipimpin Pahala Napitupulu, Ketua Formas Sari Rejo dan Sekjend Formas Wildan SH memberi bantuan berupa uang sebagai partipasi dari warga Sari Rejo kepada Andre Saprin, wartawan MNC Gorup. Selain itu, kedatangan warga juga memberi semangat moral kepada Andre Saprin dan keluarga.

“Kita memberi bantuan ini jangan dilihat besar kecil, tetapi ini adalah bentuk kepedulian kami kepada saudara Saprin,” ucap Pahala Napitupulu kepada wartawan saat di RS Royal Prima. (R04)