Revitalisasi Partai Golkar, Shohibul : Bermakna Pikatan Raih 2 Juta Kader Baru

MEDAN I SUMUT24.co
Pemerhati Sosial dan Politik Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Sohibul Anshor Siregar mengatakan, Bahwa revitalisasi Partai Golkar dengan antara lain memasukkan mantan kiper Timnas Markus Horison dan artis Sultan Djorghi dalam kepengurusan Golkar Sumut lebih bermakna pikatan yang diarahkan kepada kaum millenial. Jadi Golkar Sumut ingin menarik di kalangan millenial dalam kaitan pencapaian target 2 juta kader baru, Ucap Sohibul Anshor Siregar kepada SUMUT24, Senin (20/6). Menurut Dosen Fisipol UMSU itu, Dalam target beroleh 2 juta kader baru Golkar Sumut ingin memastikan berpartisipasi optimum memenangkan Pilpres dan pileg bulan Februari 2024, dan Pilkada bulan Nopember 2024, ucapnya.

lebihlanjut Sohib, Tentu saja ada risiko di balik tindakan itu. Sebab yang terjadi tentu tak hanya perubahan posisi dan jabatan kader dalam kepengurusan. Bahkan mungkin ada kader yang tak lagi diikut-sertakan dalam kepengurusan. Karena itu selain ada yang merasa puas pasti pula ada juga yang merasa tak puas.

Begitu pun, Ketua Golkar Sumut dan tim inti di sekelilingnya, saya anggap sudah menghitung cermat nilai plus dan minusnya. dalam meraih target yang digaungkan: rekrutmen 2 juta kader.

Menyahuti Ketidakpuasan Rakyat
Golkar itu partai besar. Target pemilu baginya bukan sekadar lolos parlementary threshold, tetapi ingin tetap berkuasa, mengabadikan kekuasannya di hampir jengkal demi jengkal wilayah NKRI.

Suka atau tidak, objektif atau tidak, karena kebesarannya itu, saya memosisikan Golkar sebagai salah satu “tertuduh” paling bertanggungjawab atas sejumlah deviasi serius dari pakem konstitusi yang terjadi hari ini. Juga terhadap ketidakpuasan masyarakat atas kinerja pemerintahan selama ini.

Hal itu disebabkan oleh konsistensi, koherensi dan korespondensi Pancasila dan UUD 1945 tidak dapat diwujudkan dalam kehidupan bernegara dan berbangsa,ucapnya.

Lebihalnjut Dikatakannya, Padahal diketahui bahwa Golkar tidak sekadar memiliki pengalaman panjang sebagai the ruling party, tetapi juga kecukupan sumberdaya (teknokrat, jejaring, akses modal dan lain-lain) yang dengan semua itu membuatnya (semestingnya) menjadi dirijen lurus untuk irama besar kebangsaan menapaki kemajuan substantif.

Sebagai salah satu contoh mendesak di tengah persempitan peluang penduduk untuk bertahan hidup saat ini, cobalah pikirkan dalam-dalam, apakah pasal 27 (2) UUD 1945 tidak dimusuhi oleh UU Ciptakerja yang justru membuat penduduk meradang itu?

Saya melihat Golkar harus menjawab. Berburu kekuasaan sah-sah saja, tetapi jangan biarkan Pancasila menjadi semacam dead metaphore.red2